Usaha Bumbu Halus di Pasar Gintung Bandar Lampung
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) berupa warung kuliner dan restoran, menjadi salah satu penopang usaha kecil pembuatan bumbu halus di kota Bandar Lampung. Bumbu halus siap pakai, bahkan makin digemari karena mudah digunakan dan menghemat waktu.
Bersama dengan belasan pedagang bumbu di Pasar Pasir Gintung, Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, Jumilah, salah satu pemilik lapak penjualan bumbu, menyediakan jenis bumbu siap pakai.
Beragam bumbu berupa bumbu rendang, tumis, sayur asam hingga bumbu sate. Beragam bumbu halus diperoleh dari perpaduan jahe, lengkuas, lada, pala, serai, kunyit hingga kelapa parut.
Bahan baku pembuatan bumbu diperoleh dari petani di kaki Gunung Betung dan sejumlah kabupaten di Lampung. Bahan baku selanjutnya dihaluskan memakai mesin khusus bumbu.
Lancarnya distribusi bahan baku, sebut Jumilah berasal dari petani di sejumlah kecamatan di kota Bandar Lampung. Ia telah memiliki pelanggan tetap yang akan memasok sesuai permintaan.
Tiap pekan, ia membutuhkan puluhan kilogram kunyit, lengkuas, jahe hingga serai. Tren penyediaan bumbu yang praktis siap pakai membantu sektor usaha lain. Ia memiliki pelanggan tetap pemilik usaha warung makan, restoran dan ibu rumah tangga.

“Bumbu dapur yang kami siapkan selalu segar dan sekaligus menjadi cara belajar bagi sejumlah ibu rumah tangga pada resep tradisional yang belum diketahui, bahan bumbu kami sertakan agar bisa dibuat sendiri di rumah, memudahkan ibu rumah tangga menyediakan hidangan bagi keluarga,” terang Jumilah, saat ditemui Cendana News, Selasa (30/11/2021).
Jumilah bilang, sejumlah pemilik usaha warung makan memilih bumbu praktis buatannya. Per hari, ia bisa melayani belasan hingga puluhan pelanggan dengan omzet ratusan ribu rupiah.
Konsumen kerap membeli bahan bumbu dengan jumlah satu hingga lima kilogram. Meski sebagian restoran telah memiliki juru masak, kebutuhan bumbu halus siap pakai masih menjadi alternatif. Sebab, selain hemat bumbu halus lebih praktis dan mudah digunakan.
Jumilah menyebut, Pasar Pasir Gintung sebagai pusat grosir sayuran, bumbu, memudahkannya. Jenis bahan bumbu berupa cabai merah, cabai rawit, jahe, lengkuas hingga kemiri tersedia. Ia juga melayani pembuatan bumbu dadakan sesuai keinginan pelanggan.
Namun, ia dominan menyediakan bumbu halus yang telah disiapkan untuk memudahkan pembuatan kuliner. Bumbu halus dijual dalam kondisi segar dan dihabiskan dalam sehari.
“Usaha penjualan bumbu halus memudahkan sektor usaha lain dominan usaha kuliner,” bebernya.
Harga bumbu halus dijual Jumilah dengan harga bervariasi. Ia menjual bumbu dengan ukuran satu gram hingga satu kilogram mulai harga Rp20.000 hingga Rp50.000.
Munculnya sejumlah sektor usaha kuliner di tepi jalan atau street food, ikut berdampak positif bagi penjualan bumbu. Bagi pelanggan tetap, ia mengaku memberi harga khusus, sebab keberlangsungan usaha akan tetap berjalan berkat adanya pelanggan tetap.
Pedagang sayuran segar dan bumbu segar, Nurhasanah, di blok E pasar Pasir Gintung juga memiliki pelanggan tetap. Sebagian pelanggan tetap dominan pemilik usaha bumbu halus dan ibu rumah tangga.
Menjual berbagai jenis cabai, tomat, jahe, kemiri hingga kencur, menjadi bahan pembuatan bumbu. Harga per kilogram bahan bumbu jenis jahe dijual mulai Rp10.000, cabai Rp35.000 per kilogram. Semua bahan bumbu juga dijual untuk warung pengecer.
“Selama warung pengecer beroperasi, sektor penjualan usaha bumbu dapur akan tetap lancar,” ulasnya.
Nursanti, pemilik usaha kuliner bakso di Jalan Gatot Subroto, mengaku membutuhkan beragam bumbu. Jenis bumbu yang digunakan untuk membuat kuah bakso, isian daging bakso hingga sambal.
Ia telah menjadi pelanggan tetap pedagang bumbu halus di pasar Pasir Gintung. Membeli bumbu halus dalam kondisi jadi, menjadi cara berhemat waktu. Sebab, bumbu halus bisa disimpan dalam lemari pendingin hingga dipakai.
“Bumbu bakso akan lebih segar memakai bumbu halus, karena berasal dari beragam bahan alami,” terangnya
Kebutuhan bumbu dapur untuk pedagang bumbu halus juga menguntungkan petani, salah satunya Sumarni. Petani di Kelurahan Sukarame II, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung itu menanam beragam tanaman bumbu. Jenis tanaman bumbu berupa jahe, kunyit hingga kencur. Tanaman bumbu memberi hasil ratusan ribu rupiah setiap pekan. Tanaman bumbu diakuinya bisa dibudidayakan dengan sistem tumpang sari, bersama tanaman sayuran lainnya.