Waspada, Kini Stroke Menyerang pada Umur Lebih Muda

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Stroke kini bukanlah penyakit yang hanya bisa menghampiri seseorang yang tergolong lansia. Menurut data terakhir, prevalensi stroke sudah dimulai pada umur di atas 25 tahun dengan angka 1 berbanding 4.

Ahli Saraf RS Dr. Kariadi Semarang, dr. Dodik Tugasworo menyebutkan stroke kini dapat menyerang pada umur yang lebih muda, dalam edukasi media terkait hari stroke sedunia oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (28/10/2021) – Foto Ranny Supusepa

Ahli Saraf RS Dr. Kariadi Semarang, dr. Dodik Tugasworo menjelaskan bahwa stroke merupakan gangguan fungsi pembuluh darah di otak, tulang belakang dan mata, yang terjadi secara tiba-tiba yang diakibatkan oleh sumbatan maupun pendarahan.

“Kuncinya adalah gangguan pembuluh darah yang tiba-tiba. Tak seperti umumnya dipercayai masyarakat bahwa stroke hanya menghampiri orang berumur atau tua, faktanya, menurut data WHO, setiap yang berumur di atas 25 tahun memiliki potensi 1 di antara 4 untuk terkena stroke,” kata Dodik dalam edukasi media terkait hari stroke sedunia oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (28/10/2021).

Setiap tahunnya, tercatat ada 60 persen dari seluruh penderita stroke yang umurnya kurang dari 70 tahun dan ada 113,7 juta kasus baru tiap tahunnya.

“Di Indonesia sendiri, dalam rentang 2009 hingga 2019, Stroke menempati ranking pertama untuk angka kematian tertinggi. Yaitu 14,83 persen atau 147,19 per 100 ribu populasi. Angka ini menempatkan Indonesia ada di posisi ke 7 dunia untuk kasus stroke,” urainya.

Kalau dirinci secara provinsi, terlihat kenaikan pada pada semua provinsi. Dengan Kalimantan Timur mengalami kenaikan tertinggi dalam periode Riskesdas 2013 ke Riskesdas 2018 yaitu 14,7. Cukup tinggi jika dibandingkan rata-rata Indonesia yaitu 10.9.

“Biaya stroke juga tercatat sebagai nomor 2 tertinggi setelah jantung. Yaitu Rp794,08 miliar untuk 172.303 kasus rawat inap,” urainya lebih lanjut.

Dengan angka yang cukup mengkhawatirkan ini, Dodik menyatakan pentingnya setiap individu memiliki visi untuk hidup tanpa stroke.

“Caranya tentu dengan melakukan pencegahan, tata laksana dan perawatan jangka panjang. Yang bisa dicapai, dari sisi pemerintah adalah memperkuat kapasitas untuk menurunkan dampak stroke. Sementara dari kedua belah pihak, yaitu masyarakat dan pemerintah adalah membangun kesadaran dan pengetahuan tentang stroke serta membangun organisasi pendukung yang kuat,” tandasnya.

Plt. Deputi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, dr. Elvieda Sariwati, M.Epid menyebutkan stroke termasuk salah satu penyakit menular yang menjadi beban pada negara ini.

“Penyakit ini, seperti pada umumnya penyakit tidak menular lainnya, disebabkan oleh pola makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik, merokok, berat badan berlebih, peningkatan tekanan darah dan prediabetes,” kata dr. Elvi dalam kesempatan yang sama.

Berdasarkan data prevalensi stroke pada laki-laki mencapai 11 persen per populasi dan perempuan adalah 10,9 persen per populasi. Berdasarkan lokasi tinggal, di kota adalah 12,6 persen dan di pedesaan 8,8 persen.

“Sehingga untuk mencegahnya, Kementerian Kesehatan melakukan kebijakan promosi kesehatan, deteksi dini, perlindungan khusus dan penanganan kasus,” ucapnya.

Untuk strategi penanganan, akan dilakukan berdasarkan tiga jenis populasi.

“Untuk populasi sehat dan berisiko, kita akan melakukan skrining faktor risiko, edukasi dan konseling. Sementara bagi yang sudah menyandang penyakit, akan diberlakukan perawatan dan secondary prenvention atau pencegahan sekunder. Apabila jika sudah mengalami kecacatan atau disabilitas maka akan dilakukan pencegahan tersier untuk menjaga kualitas hidup,” pungkasnya.

Lihat juga...