Tangkap Peluang Cara Usaha Kecil Bandar Lampung Tetap Eksis
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Memanfaatkan peluang saat pembatasan operasional usaha mulai dilonggarkan jadi cara pelaku usaha kecil bertahan. Haryanti, pedagang kuliner nasi uduk dan lontong sayur di pasar Tugu, Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung menyebut kembali bisa beroperasi sepanjang hari. Lokasi berjualan dekat pasar membuat ia bisa melayani pelanggan sejak pagi hingga sore.
Ia menyebut ikut diuntungkan dengan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, sebab mendongkrak penjualan kuliner. Peluang yang ditangkap sebutnya dengan menambah porsi penjualan.
“Potensi lokasi berjualan yang strategis membuat pemaksimalan lokasi dilakukan sejak pagi hingga siang bergantian bersama suami, apalagi saat ini operasional sekolah, pasar, pusat perbelanjaan modern mulai lebih meningkat sehingga peluang usaha semakin terbuka,” terang Haryanti saat ditemui Cendana News, Selasa (26/10/2021).
Keuntungan dari usaha menjual nasi uduk, lontong sayur bisa mencapai puluhan hingga ratusan ribu perhari. Keuntungan yang terbatas tetap dipertahankan karena ia masih bisa menghidupi keluarga.
Alih alih menggunakan tempat yang harus menyewa, ia menggunakan lahan di tepi jalan. Lokasi tersebut memiliki posisi strategis untuk berjualan karena mudah dijangkau.
“Lokasi berjualan yang strategis dekat jalan utama menjadi peluang untuk mengumpulkan modal lebih besar karena kami ingin memiliki lokasi menetap,” ulasnya.

Tetap eksis saat pandemi diakui oleh Marfuah, pedagang buah segar di Jalan Hayam Wuruk, Tanjung Karang Timur. Permintaan meningkat berbarengan dengan pasokan dari petani yang lancar.
Ia menerapkan strategi memanfaatkan peluang dengan menjual buah segar dengan harga terjangkau. Resiko buah yang busukberpotensi terjadi jika tidak cepat terjual.
“Saat ini berbagai jenis buah lokal sedang melimpah sehingga perlu strategi menjual dengan harga terjangkau,” ulasnya.
Ia menyebut menyediakan belasan jenis buah segar berupa jeruk, apel, mangga hingga semangka. Menjual buah mulai harga Rp3.000 hingga Rp10.000 perkilogram lebih murah dibanding pedagang lain.
Memanfaatkan sistem penjualan pada area terbuka tanpa pendingin membuat potensi buah matang lebih cepat meningkat. Selain pelanggan untuk konsumsi langsung, kerjasama dengan pedagang minuman berbahan buah dilakukan untuk menyerap barang yang dijual.
“Prinsip penjualan kami barang harus cepat laku karena jika dijual dengan harga tinggi namun tidak laku akan membusuk,” ulasnya.
Sariyanti, pedagang buah lainnya mengaku banjir buah segar membuat ia harus memilah. Pasokan dari pengepul menjadikan varian buah yang dijual beragam. Saat akan berbelanja satu jenis buah dengan tekhnik menyediakan buah lengkap membuatnya bisa mendapat banyak pelanggan.
Keuntungan tipis pada satu komoditas buah sebut Sariyanti menjadi cara untuk menggaet konsumen. Ia lebih memilih mendapatkan keuntungan tipis namun volume penjualan lebih banyak.
Peluang sejumlah buah segar yang sedang musim menjadikan harga akan bersaing. Sebab usaha sejenis cukup banyak di wilayah tersebut sehingga ia memakai strategi ambil keuntungan tipis menggaet konsumen.