Sektor Pariwisata Seret Pelaku Usaha Ubah Strategi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tingkat kunjungan wisatawan yang menurun sejak tahun 2020 berdampak pada sejumlah objek pariwisata di Provinsi Lampung, tidak terkecuali di pantai Minang Ruah, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan.

Saiman Alex, ketua Pokdarwis Minang Ruah Bahari, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Sabtu (13/2/2021). Foto: Henk Widi

Mian, pelaku usaha sektor pariwisata mengaku usahanya stagnan. Masyarakat memilih pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder ketimbang pariwisata yang menjadi salah satu kebutuhan tersier. Dampaknya kunjungan sepi, pemasukan pelaku usaha pariwisata seret, bahkan tidak bisa menutupi biaya operasional.

Ekspetasi kunjungan wisata saat akhir pekan, libur hari raya keagamaan sebutnya tinggal impian. Mian bilang pembatasan dengan sejumlah kebijakan ikut mendorong berkurangnya pemasukan. Normalnya ia bisa mendapat pemasukan dari reservasi kamar homestay. Namun okupansi atau tingkat keterisian hunian anjlok bahkan dicatat nihil dalam pembukuan usahanya.

“Reservasi online dari wisatawan minat khusus terutama mahasiswa, pemuda penyuka berkemah atau camping di pantai asal Jakarta, Sumatera Selatan banyak pada kurun 2019 hingga 2020 awal, namun kurun 2020 hingga 2021 kami tidak menerima reservasi, sehingga biaya operasional terpaksa sistem subsidi dari sektor usaha pendukung,” terang Mian saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (8/8/2021).

Ia menggambarkan sektor usaha pariwisata yang diekspetasikan akan untung tengah merugi. Meminjam istilah ekspektasi tidak sesuai realita ia bahkan menyebut mendapat zonk alias tidak ada pemasukan. Usaha sang istri membuka warung makan, menyediakan makanan, minuman ringan, pakaian dan penyewaan ban tidak berjalan. Kalaupun ada wisatawan datang dominan berasal dari warga lokal tanpa menginap.

“Gelontoran modal untuk investasi dalam bentuk homestay secara kalkulasi pebisnis belum impas, setengahnya pun belum kembali modalnya,” ulas Mian.

Ia mengaku mengubah strategi untuk tetap bertahan. Caranya dengan berbagi tugas bersama istri. Saat okupansi hunian nihil ia kembali ke kebun mengurus tanaman buah, sebagian bisa dijual untuk menutupi biaya listrik, air dan perawatan.

Saiman Alex, ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Minang Ruah Bahari mengatakan, pihaknya dua kali alami badai bagi sektor pariwisata. Pada 22 Desember 2018 amblasnya Gunung Anak Krakatau berimbas tsunami meluluhlantakkan fasilitas milik Pokdarwis. Saung bambu, tenda, fasilitas warung hancur berantakan.

“Usai tsunami upaya untuk bangkit dilakukan dengan berbenah, mengeinvestasikan modal dalam bentuk fasilitas sembari berharap wisatawan datang meningkat untuk menutup operasional,” ulasnya.

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, pandemi sejak awal 2020 berimbas kebijakan pembatasan objek wisata. Investasi dalam bentuk bangunan belum tertutupi karena kunjungan sepi.

Saiman Alex menyebut masih tetap menerima kunjungan wisatawan. Hasil penjualan tiket dipergunakan untuk operasional. Menenerapkan protokol kesehatan menjadi strategi agar wisata bahari tetap hidup. Meski promosi gencar dilakukan, pembatasan perjalanan dengan syarat rapit test, telah divaksin memicu penurunan kunjungan. Terlebih ekonomi masyarakat sedang mengalami penurunan.

“Pengunjung asal Jakarta dan luar Lampung bisa dihitung dengan jari, padahal sejumlah homestay, villa kerap penuh saat akhir pekan,” ulasnya.

Namun sisi positifnya, muncul destinasi wisata Pematang Sunrise di desa Kelawi. Alternatif destinasi berbasis alam jadi peluang bagi warga berinvestasi pada sektor pariwisata. Sebagian warga bisa membuat warung penjualan oleh oleh. Investasi dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) juga dilakukan dengan pelatihan para pemandu wisata, usaha wisata untuk peningkatan kapasitas.

Hal yang sama diakui Rohmat Hidayat, pengelola destinasi pulau dan pantai Mengkudu. Destinasi di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni itu sebutnya telah berinvestasi dalam fasilitas. Rumah apung berkonsep perahu, jembatan swafoto, saung, toilet hingga kano, perahu, banana boat ditambah. Investasi itu dilakukan untuk menggaet pengunjung yang datang. Namun ia memastikan sebagian modal belum kembali.

Menurunnya kunjungan dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dan berbagai istilah membuat pemasukan berkurang. Pernah mendapat kunjungan sebanyak 1.000 orang saat tahun baru 2020, kini kunjungan perpekan hanya mencapai ratusan. Jumlah itu pun berasal dari pengunjung kelompok saat melakukan outbound.

“Bagi pendapatan tiket tentunya belum bisa menutupi operasional sehingga harus berhemat dengan merawat fasilitas yang ada sebagai investasi,” ulasnya.

Investasi dalam sektor pariwisata meski merangkak saat pemasukan seret dilakukan pengelola Bukit Pematang Sunrise. Ardi Yanto, salah satu pengelola wisata di Desa Kelawi itu mengaku pembuatan homestay, cafe kopi dilakukan memanfaatkan hasil kayu kebun warga. Efesiensi modal untuk investasi sektor pariwisata menjadi daya dukung destinasi wisata.

Lihat juga...