Petani Sleman Kembangkan Budidaya Ubi Jalar Ace Putih di Lahan 2,8 Hektar
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA — Sejumlah petani di kabupaten Sleman, didorong untuk membudidayakan ubi jalar lokal jenis Ace Putih di lahan milik mereka. Ubi jalar Ace Putih dipilih karena merupakan satu-satunya ubi jalar lokal yang selama ini memiliki pasar ekspor hingga ke luar negeri.

Selain mudah ditanam, Ubi Jalar dengan daging serta kulit umbi berwarna putih ini juga memiliki nilai jual cukup tinggi, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan dan diharapkan mampu memberikan keuntungan serta kesejahteraaan bagi para petani.
Bambang Edi Prasetyo, pimpinan cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta, mengatakan pihaknya mendorong pembudidayaan ubi jalar ace putih kepada para petani di wilayah Bimomartani Ngemplak Sleman sejak beberapa bulan terakhir. Total luas lahan uji coba budidaya ubi jalar ace putih ini mencapai 2,8 hektar dengan melibatkan sebanyak 10 orang petani.
“Pada panen perdana ini, dari demplot awal seluas 0,5 hektar, para petani bisa menghasilkan umbi ace putih sebanyak 15 ton. Dengan nilai jual Rp2.000 per kilogramnya, maka petani sudah bisa mendapatkan pemasukan mencapai Rp30 juta,” katanya Senin (23/08/2021).
Menggandeng salah satu perusahaan eksportir ubi asal Korea, Bambang mengaku mendorong warga Bimomartani Ngemplak Sleman menanam ubi ace putih untuk memanfaatkan potensi lahan pertanian yang subur dan cocok untuk ditanam ubi asli Indonesia ini. Terlebih ubi ace putih termasuk ubi yang tahan terhadap air sehingga bisa ditanam sepanjang musim.
Sementara itu, salah seorang petani, Sukirman asal dusun Pondok Suruh, Bimomartani Ngemplak Sleman mengaku tertarik menanam komoditas ubi ace putih karena potensinya yang sangat menggiurkan. Adanya pengembangan budidaya ubi ace putih ini juga dinilai menjadi alternatif bagi petani untuk menanam komoditas baru tanaman palawija di musim kemarau.
“Adanya pengembangan budidaya ubi jalar ace putih ini bisa menjadi alternatif bagi kami para petani di samping komoditas yang biasa ditanam saat musim kemarau seperti jagung, bawang merah atau cabai. Apalagi selama tiga tahun terakhir harga jagung sangat rendah. Begitu juga cabai yang harganya naik turun,” ungkapnya.
Menanam di lahan seluas 1000 meter persegi, Sukirman mengaku bisa mendapatkan hasil panen ubi ace putih sebanyak 16 karung, dengan berat sekitar 90 kilogram per karungnya. Sehingga total hasil panen perdana yang ia peroleh mencapai 1,4 ton. Dengan nilai jual Rp2.000 per kilogramnya, ia pun mengantongi pemasukan sebanyak Rp 2,8 juta.
“Mungkin karena baru pertama kali menanam, hasil belum bisa maksimal. Namun diharapkan pada penanaman selanjutnya, hasil panen bisa lebih meningkat,” pungkasnya.