Pentingnya Peran Orang Tua Membangun Budaya Membaca Anak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kesadaran pentingnya penguasaan literasi membaca sejak dini perlu dukungan semua pihak. Utamanya peranan orang tua, harus mampu membangun budaya gemar membaca dengan memberi contoh pada anak dimulai dari rumah.

Pendiri Kampung Dongeng Indonesia, Awan Prakoso menegaskan, keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama dalam kehidupan anak. Keluargalah yang memiliki peran penting dalam pengembangan kepribadian anak.

Begitu pula dalam penanaman literasi, orang tua harus berperan memberikan contoh teladan. Yakni sebut dia, seperti kegiatan orang tua membaca buku di rumah dan kegiatan bercerita sebelum tidur bersama anak.

“Literasi akan tumbuh dalam diri anak dengan baik, kalau orang tua mampu menjadi teladan dan memberikan contoh langsung dalam keseharian, kehidupan yang dimulai dari rumah,” ungkap Awan, pada diskusi virtual tentang literasi membaca yang diikuti Cendana News, Kamis (12/8/2021).

Kembali dia menegaskan, bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam kehidupan anak. Di mana ayah dan ibu merupakan teladan utama yang akan mewarnai dan menjadi acuan setiap perilaku anak dalam kehidupan.

Anak yang terbiasa dengan budaya membaca dan menulis dalam keluarga karena orang tuanya telah memberikan contoh sejak dini. Maka, anak-anak itu akan membawa kebiasaan budaya literasi tersebut sampai kapan pun dan di mana pun mereka berada.

“Jadi, anak tidak buta dengan ilmu, karena senantiasa membaca buku. Sehingga mereka memiliki sesuatu yaitu kekuatan literasi yang sangat luar biasa,” tukasnya.

Awan mencontohkan,  rumahnya di setiap ruang dipenuhi buku-buku cerita. Ini dia lakukan untuk menarik minat membaca keluarganya, tentu Awan pun memberi contoh rutin membaca buku-buku tersebut di rumahnya.

“Alhasil anak-anak saya menemui bidang yang disukainya, dari mereka baca buku itu. Jadi pendampingan orang tua itu penting, bagaimana buku menjadi kekuatan yang melibatkan anak,” imbuhnya.

Dalam menghadapi era digital, tambah dia, orang tua juga dituntut dapat menggunakan teknologi untuk mengenalkan literasi sesuai dengan perkembangan anak.

Apalagi menurutnya, fenomena sekarang, anak-anak sibuk dengan main gedget. Tentu orang tua harus bisa mengarahkan dengan menerapkan adanya waktu khusus bagi mereka memainkan gedjet, dan waktu untuk membaca buku.

“Sangat penting sekali anak kita bisa diajak ke mana pun dengan buku yang ada di tangannya. Jadi, pembiasaan membaca bisa dimulai dari tingkat keluarga,” ujar Awan.

Penggagas Gerakan Literasi Sekolah, Satria Dharma menambahkan, kegemaran membaca tidak hanya membuat anak-anak paham banyak ilmu. Tapi juga bisa menumbuhkan kesenangan dan kepuasan diri.

Penggagas Gerakan Literasi Sekolah, Satria Dharma, saat memaparkan budaya membaca anak pada diskusi virtual tentang literasi membaca yang diikuti Cendana News, Kamis (12/8/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Bahkan membaca untuk kesenangan terbukti berpengaruh kuat pada pengembangan kosakata dan keterampilan lainnya.

Selama ini, kegiatan membaca untuk kesenangan banyak dilakukan di sekolah, dengan melibatkan guru.

Tapi bagaimana saat pandemi Covid-19, di mana banyak sekolah mengalihkan proses pembelajaran secara daring

“Tentu perlu ada kesadaran akan pentingnya penguasaan literasi membaca sejak dini oleh semua pihak, termasuk utamanya orang tua memberi contoh pada anak,” ujar Dharma, pada acara yang sama.

Karena menurutnya, anak yang setiap hari sekolah, tetapi tidak membaca itu sebenarnya mereka tidak mendapat pendidikan.

“Sehingga tidak ada gunanya guru berbicara dan mengajar setiap hari. Ya, karena dengan hanya mendengar, maka anak-anak tidak mendapat pendidikan. Maka dari itu, orang tua juga harus berperan menumbuhkan minat baca anak dimulai dari rumah,” imbuhnya.

Menurutnya, sebenarnya anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang sama besarnya dengan negara lain. Namun masalahnya sejak kecil dan selama sekolah, anak-anak tidak diwajibkan membaca buku.

“Hal ini dapat dibandingkan dengan negara Thailand,” kata Dharma.

Thailand mewajibkan siswa SMA membaca 5 judul buku dalam waktu tertentu. Begitu juga dengan negara Amerika Serikat (AS), setiap siswa SMA diwajibkan membaca 32 judul buku dalam waktu tertentu.

Sedangkan di Indonesia, siswa SMA tidak diwajibkan membaca buku, berapa banyak, dalam waktu tertentu.

“Ini faktanya, anak-anak kita rabun membaca dan tidak menulis. Bahkan sangat menyakitkan, prestasinya rendah yakni dari 41 negara, kita hanya peringkat 39 PISA (penilaian siswa skala internasional),” pungkasnya.

Lihat juga...