Kurangi Volume Sampah Organik, Kelola dengan Sistem Magot

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA TIMUR – Untuk mengurangi volume sampah organik, Unit Pelaksana Teknik (UPT) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur melakukan pengolahan sampah dengan sistem magot.

Petugas PJLP UPT Badan Air Dinas Lingkungan Hidup, Kecamatan Ciracas, Amiruddin mengatakan, budidaya magot dapat mengurai sampah organik rumah tangga.

Pengelolaan sampah organik menggunakan ulat magot sebagai pengurai sampah dilakukan di tepi Waduk Rawa Dongkal, Jakarta Timur.

Magot mengurai sampah organik yang dibudidayakan petugas PJLP UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Ciracas di area tepi Waduk Rawa Dongkal, Jalan Raya Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (11/8/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Menurutnya, langkah ini sebagai salah satu upaya menangani permasalahan sampah di wilayah Ciracas.

Sampah organik menyumbang setengah dari komposisi sampah di Jakarta. Yakni sebut dia, sebanyak 53 persen sampah di Jakarta merupakan sampah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan buah-buahan.

Dalam upaya mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gerbang, Bekasi, Jawa Barat, pihaknya melakukan pengolahan sampah dengan sistem magot.

Sampah-sampah organik warga yang diambil di beberapa titik dimanfaatkan untuk budidaya mangot. Begitu juga sampah yang diangkat dari Waduk Rawa Dongkal, terlebih dulu dipilah sampah organiknya untuk kemudian diurai oleh magot.

“Budi daya ulat magot jadi solusi mengurangi sampah organik ini sudah kami lakukan sejak setahun lalu,” ujar Amir, kepada Cendana News ditemui di area budidaya magot di tepi Waduk Rawa Dongkal, di Jalan Raya Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (11/8/2021).

Meskupun budi daya magot baru dikembangkan satu tahun, hasilnya cukup menggembirakan. “Sudah tiga kali penetasan, dan sekali panen menghasilkan 10 kilogram ulat magot,” ujarnya.

Dikatakan dia, sejak berbentuk telur lalat, magot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh selama 25 hari dan siap untuk dipanen.

Sedangkan siklus dari larva menjadi magot hingga menjadi pupa membutuhkan waktu, yakni sekitar 40 sampai 44 hari.

Untuk 5 kilogram ulat magot sanggup mengonsumsi 15 kilogram sampah organik. Ini berarti kata dia, 15 kilogram magot yang berkembang biak selama ini telah menghabiskan 45 kilogram sampah. Sehingga jumlah ini bisa membantu pengurangan sampah organik di Jakarta secara signifikan.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa magot ini merupakan larva serangga Black Soldier Flies (BSF) yang dapat mengubah material organik menjadi biomassa.

Magot ini juga mempunyai kemampuan mengurai sampah organik 1-3 kali dari bobot tubuhnya selama 24 jam. Bahkan, bisa sampai 5 kali bobot tubuhnya.

Bahkan sebutnya lagi, magot jenis ini sering dibudi dayakan karena kaya nutrisi dan tidak membawa sumber penyakit layaknya lalat hijau.

Menurutnya, pengolahan sampah organik dengan sistem magot ini telah dilakukan setahun lalu dengan membuat kandang seluas 3×3 meter di lahan kosong di tepi Waduk Rawa Dongkal.

Amir berharap budi daya magot ini dapat mengurangi sampah rumah tangga di wilayah Ciracas hingga 20 persen.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Hermansyah mengatakan, budi daya magot sebagai solusi paling potensial untuk mengurangi volume sampah karena tidak ada sisa pembuangan.

“Melalui sistem ini, sampah organik rumah tangga, dikonversikan menjadi protein dalam bentuk pupa dari Black Soldier Flies,” ujar Hermansyah.

Di samping itu, bisa memanfaatkan kemampuan dari Black Soldier Flies ini untuk menguraikan sampah dalam waktu yang relatif cepat.

Pupa magot yang sudah mati, selanjutnya dapat digunakan sebagai pakan ayam dan ikan. Bahkan kepompong magot bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Sehingga tidak menimbulkan sampah baru.

“Jadi, selain bermanfaat untuk mereduksi sampah organik, juga bisa menjadi sumber pakan ternak dan pupuk,” pungkasnya.

Lihat juga...