Komoditas Kedelai Putih Lebih Populer di Kalangan Petani Kulonprogo
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
YOGYAKARTA — Sejumlah petani di kabupaten Kulonprogo mengaku lebih memilih menanam komoditas kedelai putih di musim tanam ke tiga bulan kemarau ini. Kedelai putih yang merupakan bahan baku utama tempe, dinilai memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan jenis komoditi kedelai lainnya seperti kedelai hitam maupun kacang hijau.
Salah seorang petani kedelai asal dusun Temanggal, Wijimulyo, Nanggulan, Kulonprogo, Warno (57) mengaku memilih kedelai putih karena perawatannya yang mudah. Selain itu, jenis kedelai ini juga dinilai lebih mudah dijual di pasaran karena banyak dibutuhkan untuk bahan paku industri tempe rumahan.
“Jika dibandingkan kedelai hitam atau kacang hijau memang harga jualnya lebih rendah. Hanya sekitar Rp7.500-Rp9.000 per kilogram. Sementara kedelai hitam harga jualnya bisa mancapai Rp12 ribu per kilogram. Sedangkan kacang hijau bisa mencapai Rp13 ribu per kilogram. Namun untuk mendapatkan bibitnya susah. Selain itu, saat masa panen sulit dijual karena tidak banyak yang membutuhkan,” katanya, Senin (16/08/2021).
Meksi begitu dari sisi perawatan, proses penanaman kedelai putih, kedelai hitam maupun kacang hijau tidak jauh berbeda. Tanaman jenis biji-bijian semacam ini dikenal sangat mudah tumbuh di musim kemarau sekalipun. Serta tidak membutuhkan banyak perawatan, baik dari sisi pemupukan maupun penyemprot pestisida.
“Hanya saja untuk penanaman di lahan skala kecil, kedelai putih lebih menguntungkan. Karena tidak perlu melakukan kerjasama kontrak dengan pabrik, untuk kemudian disuplai bibitnya dan dibeli hasil panennya dengan harga yang sudah ditentukan. Jadi petani bisa menjual hasil panen secara mandiri dengan nilai jual yang lebih tinggi tentunya,” ungkap Warno.
Warno sendiri mengaku menanam kedelai putih di lahan seluas 2.000 meter persegi miliknya. Pada tahun ini, hasil panennya tercatat lebih baik dibandingkan tahun lalu. Dimana ia bisa mendapatkan kedelai kering sebanyak 3 kwingal. Jauh meningkat dibandingkan hasil panenan kedelai tahun lalu yang hanya mencapai 1 kwintal saja.
“Untuk saat ini hasil panen bisa dibilang cukup bagus. Jauh meningkat dibandingkan tahun lalu. Karena cuacanya cukup mendukung. Tidak banyak hujan, selain itu kebetulan kemarin juga mendapatkan bibit dengan kualitas bagus,” jelasnya.
Sementara itu, petani lainnya Ngatim (55) juga mengaku lebih memilih menanam komoditas kedelai putih karena mudah dari sisi perawatan. Kedelai putih bisa hidup tanpa disiram sekalipun hingga masa panen tiba. Perawatan hanya dilakukan dengan cara memberi pupuk sebanyak satu kali saat usia tanaman mencapai 2 minggu. Setelah itu tanaman hanya perlu disemprot pestisida sebanyak 2 kali. Yakni pada umur 1 bulan dan menjelang panen.
“Selain itu paling hanya didangir begitu banyak rumput atau tanaman liar yang tumbuh di sekitar tanaman kedelai. Saat pemanenan juga lebih mudah karena biji tumbuh secara bersamaan. Sehingga panen bisa dilakukan sekali waktu. Tidak seperti kacang hijau yang masa panennya bisa dua kali sehingga membutuhkan banyak tenaga,” ungkapnya.