Jaga Pasokan Air, Warga Bandar Lampung Lestarikan Sungai
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Tanda-tanda musim kemarau di Bandar Lampung telah terlihat dengan meranggasnya sejumlah pohon. Meski demikian bagi sebagian warga yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS) berbagai tanaman masih tetap menghijau.
Aliran sejumlah kali atau sungai dalam kearifan lokal masyarakat dikenal dengan way masih lancar meski debit mengecil. Air lebih bening terlihat dari sejumlah sungai pada bagian hulu.
Larasati dan Hendrias sang suami menikmati kesegaran air di bawah jembatan merah, Kali Akar. Kali atau Sungai Akar sebut Larasati telah bertranformasi menjadi kawasan sungai berkonsep tempat rekreasi. Sejumlah pohon di bantaran sungai berjajar rapi dilestarikan. Pada bagian atas tepat di sepanjang Jalan Saleh Raja Kusuma Yuda berjajar pohon ketapang, munggur. Sebagian tumbuh liar menopang lahan miring bantaran sungai.
Larasati bilang kesadaran masyarakat menjaga sungai semakin terasa kala mendekati kemarau. Kala sejumlah sumber mata air kering, sungai menjadi tumpuan. Sejumlah warga berbondong-bondong ke sungai untuk mandi, mencuci, sebagian membawa jerigen. Ngangsu atau mengambil air lalu ditampung pada bak kamar mandi jadi hal biasa kala kemarau. Kali Akar yang terjaga jadi harapan.
“Sungai yang bersih menjadi sumber kehidupan warga serta menjadi pengairan bagi sejumlah lahan pertanian, bisa menjadi sarana penyiram sejumlah pohon penghijauan agar siklus hidrologi berjalan lancar, kesadaran warga dalam menjaga kebersihan sungai juga terlihat dengan berkurangnya sampah plastik yang kerap dibuang pada aliran sungai,” terang Larasati saat ditemui Cendana News, Rabu (18/8/2021).
Larasati menyebut rehabilitasi sejumlah sungai oleh pemerintah Kota Bandar Lampung sangat baik. Sejumlah sungai yang mengalami sedimentasi mulai dikeruk. Kali Akar yang merupakan sungai besar di Teluk Betung Selatan dengan fasilitas dua bendungan, tiga jembatan dimanfaatkan sebagai sumber air baku. Kelestarian sungai tersebut bahkan menghidupi ribuan warga di sepanjang bantaran sungai.
Sopian, warga Kelurahan Sumur Putri menyebut pada bagian bawah bendungan warga memanfaatkannya sebagai sawah, kolam ikan. Lancarnya air Kali Akar dimanfaatkan warga untuk melestarikan tanaman aren, pohon kemiri, pule dan berbagai jenis pohon penahan longsor. Kali Akar sebutnya memiliki fungsi ekonomis bagi warga dengan menjadi sumber pasokan air bersih tanpa harus membeli.
“Keberadaan sumur putri di tepi Kali Akar berupa sumber mata air bersih juga menjadi tumpuan warga untuk mandi dan kebutuhan lainnya,” ulasnya.
Pasokan air yang melimpah di daerah aliran sungai sebutnya menopang sektor pertanian. Kelestarian sungai yang dijaga oleh warga sebutnya berasal dari bagian hulu hingga hilir. Meski sebagian warga belum memiliki kesadaran tinggi dalam menjaga sungai, kala kemarau saat pasokan air berkurang, sungai jadi tumpuan. Sopian dan warga lain bahkan kerap harus mencari air sungai untuk kegiatan mandi keluarganya.
Sopian juga menyebut keberadaan Kali Akar dan sejumlah sungai di Bandar Lampung mendorong warga untuk meniaganya. Terlebih dalam dua bulan terakhir sebagian warga yang mengandalkan PDAM Way Rilau harus menerima air bergilir. Kemarau sebutnya telah berimbas pada penurunan debit air sungai, debit mata air baku. Sungai tetap bisa jadi tumpuan warga dengan kondisi yang bersih.
“Saat kemarau air lebih jernih meski tetap harus diendapkan, disaring sebelun digunakan untuk mandi, mencuci dan toilet,” ulasnya.
Bantaran Kali Akar yang sebagian berbentuk tebing, perbukitan sebut Sopian ditanami pohon. Larangan menebang pepohonan di tepi sungai sebutnya menjadi salah satu cara menjaga siklus air. Beberapa sumber mata air berbentuk ceruk, belik terbentuk berkat keberadaan pohon. Rumpun bambu, pohon aren hingga pohon bendo sebutnya jadi penahan longsor pada aliran Kali Akar.
Kelestarian sungai yang mengalir di wilayah Bandar Lampung juga dijaga oleh warga Kecamatan Teluk Betung Timur dan Teluk Betung Barat. Basuki, salah satu warga di Kelurahan Keteguhan menyebut Sungai Way Suka Maju jadi salah satu tumpuan warga. Kala musim penghujan sungai tersebut kerap banjir. Beberapa bagian tebing sungai kerap longsor namun sebagian telah dibuat beronjong dari batu.
“Sungai Way Suka Maju jadi sumber air bersih warga bahkan menjadi tempat mencari ikan sehingga tetap dilestarikan,” ulasnya.
Melestarikan sungai sebut Basuki dilakukan warga dengan menanam pohon. Keberadaan permukiman di DAS Way Suka Maju sebutnya tetap terjaga kebersihannya tanpa adanya warga yang membuang sampah di sungai. Kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya membuat sungai tetap bersih. Sungai yang terjaga dari pencemaran bahkan menjadi habitat ikan air tawar yang menjadi sumber lauk bagi warga.