Homestay Desa Wisata Pagerharjo ‘Mati Suri’

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama hampir dua tahun, mengakibatkan perkembangan usaha Homestay di desa wisata Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo, jalan di tempat alias mati suri. 

Minimnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke sejumlah kawasan wisata di desa Pagerharjo, misalnya kebun teh Nglinggo di kawasan perbukitan Menoreh ini, membuat para pelaku homestay tak banyak mendapat tamu wisatawan yang menginap.

Tak hanya itu, pertumbuhan homestay milik warga yang mulai ramai sejak 2016 silam, otomatis juga ikut terhenti, seiring makin minimnya wisatawan luar daerah yang datang ke desa wisata Pagerharjo ini.

Carik Desa Pagerharjo, Setiyoko, -Foto: Jatmika H Kusmargana

Carik Desa Pagerharjo, Setiyoko, menyebut pada 2016 silam, jumlah homestay di desa Pagerharjo bisa dibilang masih sangat minim. Namun dalam kurun sekitar 3-4 tahun terakhir, jumlah homestay yang dibangun warga desa tercatat meningkat drastis. Hingga 2020 lalu, jumlah homestay di desa ini tercatat mencapai 60-70 unit.

“Sejak pandemi 2020, akibat menurunnya jumlah wisatawan, pendirian homestay otomatis ikut menurun. Saat ini bahkan tak sedikit warga yang mengalihkan homestay mereka untuk tempat tinggal pribadi. Sehingga jumlah homestay yang siap untuk menerima pengunjung hanya sekitar 20 unit saja,” katanya, Jumat (13/8/2021).

Ia menjelaskan, menurunnya minat warga untuk membangun homestay juga membuat program pemerintah desa dalam membantu pembangunan homestay menjadi terhenti. Bekerja sama dengan pihak swasta, pemerintah desa Pagerharjo menjalankan program pembiayaan homestay untuk warga dengan bunga lunak, yakni 3 persen.

Sebelum pandemi, program ini telah mampu membantu pendirian homestay milik warga sebanyak 5 unit. Sayangnya, sejak munculnya pamdemi awal 2020 lalu, sektor pariwisata tak bisa berjalan sebagaimana biasanya. Sehingga belum ada lagi warga yang mengajukan pembiayaan pembangunan homestay.

“Jelas pendapatan warga dari sektor pariwisata, khususnya penyewaan homestay, hilang. Padahal, hasil dari penyewaan homestay cukup lumayan. Sekali sewa warga bisa mendapatkan pemasukan Rp150-300ribu per kamar per hari,” katanya.

Sementara itu salah seorang pelaku usaha penyewaan homestay di desa Pagerharjo, Yudi, mengaku sudah hampir dua tahun terakhir tak mendapatkan tamu wisatawan. Padahal, sebelum masa pandemi ia rutin menerima tamu pengunjung setiap minggunya. Bahkan, melalui program kemitraan, ia juga rutin memerima tamu luar daerah yang menjalani kegiatan Live In di desa Pagerharjo.

“Biasanya banyak anak-anak sekolah asal luar daerah yang mengikuti program Live In di desa Pagerharjo ini. Sehingga mereka kerap memanfaatkan homestay milik warga untuk menginap selama beberapa hari. Tapi akibat pandemi, semua program itu terhenti. Sudah hampir dua tahun ini. Ya, jelas ini membuat pendapatan warga menurun,” katanya.

Lihat juga...