Kawasan Objek Wisata Baturaden Bagai ‘Kota Mati’

Editor: Koko Triarko

BANYUMAS – Kawasan wisata Baturaden merupakan ikon pariwisata Kabupaten Banyumas yang selama ini tidak pernah sepi pengunjung. Dalam situasi normal, jumlah pengunjung dipastikan di atas angka 10.000 orang, bahkan saat akhir pekan bisa mencapai di atas 20.000 orang.

Jalanan macet, parkir penuh dan para penjual sovenir, makanan khas hingga pakaian bertebaran sepanjang jalan di sekitar Lokawisata Baturaden, sebagai pusat keramaian.

Ramainya kawasan wisata ini karena tidak hanya lokawisata saja, namun juga terdapat banyak objek wisata lain di sekitarnya, seperti Wana Wisata, Telaga Sunyi yang menginsiprasi lagu Koes Plus, Small Word, puluhan air terjun dan lain-lain. Jika ditotal, dalam satu hari bisa sampai 50.000 orang berwisata di kawasan Baturaden.

Namun, saat ini semua berubah total. Jalanan yang macet sekarang menjadi lengang, deretan kios penjual sovenir, makanan dan lainnya terlihat tutup dan parkiran kosong.

Penjual makanan di kawasan wisata Baturaden, Suyatmi, Minggu (15/8/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

“Sepi sekali, yang datang ke warung saya hanya petugas yang sedang berkeliling atau masyarakat sekitar yang kebetulan lewat, bisa dihitung dengan jari dalam sehari,” kata Suyatmi, salah satu penjual di kios parkir atas Baturaden, Minggu (15/8/2021).

Suyatmi merupakan pemilik kios yang satu-satunya buka di kawasan tersebut. Ia mengaku tetap harus berjualan meskipun sepi, sebab hanya kios tersebut mata pencahariannya satu-satunya.

“Kalau tidak jualan, keluarga saya tidak makan,” tuturnya.

Namun karena sepinya pembeli, Suyatmi mengurangi barang dagangannya. Jika biasanya ia berjualan nasi rames dengan lauk-pauk dan sayur yang cukup lengkap, serta kopi, teh, es jeruk dan minuman lainnya, ditambah beberapa oleh-oleh khas Banyumas yang dipajang di depan kios, sekarang ia hanya menjual nasi rames dengan lauk telur saja dan kopi serta teh.

Deretan makanan khas Banyumas tak terpajang lagi di depan kios Suyatmi. Bahkan jika ada yang memesan minuman es jeruk, Suyatmi juga sudah tidak menyediakan lagi, yang ada hanya kopi dan teh serta air putih.

“Dalam sehari paling hanya 3-4 orang pembeli saja, jadi kalau sedia banyak jenis makanan ataupun yang dijual, saya justru rugi. Jeruk kalau lama tidak laku akan membusuk, begitu pula dengan makanan khas sini, seperti getuk goreng, nopia dan lainnya, sudah tidak sedia lagi,” ucapnya sambil berharap tempat wisata segera dibuka kembali.

Salah satu pengunjung warung milik Suyatmi, Bayu, mengatakan ia kebetulan baru mengantar baju untuk saudaranya yang sedang menjalani isolasi di Pondok Slamet Baturaden, sehingga mampir ke warung tersebut, karena harus menempuh perjalanan cukup jauh.

“Dari Ajibarang ke sini, mengantar keperluan saudara yang sedang isolasi, jadi mampir untuk ngopi di warung,” katanya.

Lihat juga...