Warga Tiga Desa Rutin Bersihkan Sampah Kali Cikarang

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Masalah sampah di wilayah Utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, perlu penanganan serius, terutama di sepanjang jalur aliran Cikarang Srengseng Hilir, mulai dari hulu di Kampung Cikarang Jati, Desa Sukajaya, Cibitung. Sepanjang jalur tersebut banyak terjadi tumpukan sampah di berbagai titik, hingga menjadi salah satu penyebab tersendatnya aliran kali ke areal sawah warga di wilayah Utara Beksai.

“Kami dari tiga desa rutin membersihkan tumpukan sampah di belakang KUD Sukatani, Desa Sukamulya, akibat sasak rebah (Jembatan roboh-ed) ke kali. Meski sudah disampaikan tetap tidak dibongkar,” kata Ustadz Jejen, koordinator petani di 16 Desa wilayah Utara Bekasi, kepada Cendana News, Rabu (28/7/2021).

Dikatakan, bahwa pembersihan sampah di belakang KUD Sukatani dilakukan secara rutin setiap 15 hari sekali. Hal itu untuk memperlancar aliran air menuju wilayah utara melalui saluran Cikarang Srengseng Hilir.

Ustadz Jejen, koordinator 16 desa wilayah Utara Kabupaten Bekasi, ditemui Cendana News di pintu air CBL, Rabu (28/7/2021). –Foto: M Amin

Setiap kali dibersihkan, sampah yang menumpuk di jembatan patah tersebut didominasi sampah rumah tangga, kebanyakan bekas kandang ayam di dalam karung penuh. Pembersihan tidak melibatkan warga Desa Sukamulya itu sendiri.

“Karena yang terganggu akibat jembatan patah itu adalah kami di bagian utara, akibat sampah itu air tidak lancar. Makanya, kami dari tiga desa rutin gotong royong mengangkat sampah secara manual, tiga desa itu adalah desa Jayabakti di Kecamatan Cabang Bungin, Sukakerta, Sukabudi di Kecamatan Sukawangi,” jelas Ustadz Jejen.

Lebih lanjut dikatakan, akibat tumpukan sampah itu sebenarnya mengganggu pasokan air pada 9 desa di Utara Bekasi, meliputi Desa Sukakerta, Jayabakti, Sukaringin, Sukabudi, Sukamurni, Sukaindah, Sukadaya, Sindangsari hingga Sukarkaya.

Hari ini, Rabu, warga dari 16 Desa kembali turun untuk membersihkan pintu air CBL di Sukajaya Cibitung secara manual. Mereka tidak mendapatkan pinjaman alat berat yang bisa turun ke dalam air.

“Sebenarnya kami sudah meminta bantuan untuk alat berat yang basa turun ke kali langsung, tidak hanya dari darat, menimbang lokasi tersebut cukup padat, dikelilingi rumah warga menjadikan ruang gerak alat berat terganggu,” paparnya.

Tidak mendapat pinjaman alat berat yang bisa turun ke air, akhirnya warga harus turun lagi dengan cara manual, selain membersihkan sampah dan membuat bendungan di sekitar Pintu air CBL, agar airnya tidak lepas ke arah kali CBL.

“Hari ini kami dari tiga desa kembali turun ke Bendungan di Pintu Air CBL untuk membersihkan sampah, sekaligus melakukan bendungan dengan cara manual supaya air bisa diam tidak terbuang ke Kali CBL,” jelasnya.

Pembina KPA Ranting Bekasi, Mang Oye, saat memantau langsung giat di Pintu Air CBL mengakui perlu kerja keras dengan melibatkan semua pihak dalam mensterilkan aliran kali Cikarang Srengsen Hilir, mulai dari hulu sampai ke hilir. Karena di hulu saja kerap dibersihkan, tapi hitungan hari sampah kembali menumpuk.

“Jika benar ada perhatian ke lingkungan, salah satu jadi fokus adalah banyaknya bangunan di tepi kali yang diizinkan berdiri, ini harusnya bersih agar tidak mengganggu jika alat berat turun,” tegas Mang Oye, berharap pemerintah turun melihat langsung dan mencari solusi persoalan lingkungan di wilayah utara Bekasi.

Lihat juga...