Penjualan Kelapa Parut di Pasar Wage Purwokerto, Meningkat

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Di tengah lesunya pasar tradisional akibat Pembelakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang terus diperpanjang, penjual kelapa parut bisa sedikit lega. Penjualan kelapa parut naik pasca hari raya Idul Adha sampai sekarang.

“Banyak orang memasak daging, seperti rendang, gulai dan lainnya yang membutuhkan kelapa parut, jadi penjualan lumayan meningkat,” kata Arifin, penjual kepala parut di Pasar Wage, Purwokerto, Selasa (27/7/2021).

Untuk satu butir kelapa sekaligus jasa memarutnya, Arifin mematok tarif Rp 8.000 untuk kelapa ukuran kecil dan Rp 10.000 untuk kelapa ukuran yang lebih besar. Terkadang beberapa pembeli masih ada yang menawar untuk mendapatkan kelapa ukuran besar dengan harga Rp 8.000, sesekali Arifin mengabulkan penawaran pembeli tersebut.

“Saya tahu, sekarang orang banyak yang tidak punya uang, jadi kalau ada yang menawar, sesekali ya diperbolehkan, sepanjang harganya masih masuk,” tuturnya.

Sebelum hari raya Idul Adha, penjualan kelapa parut relatif sepi, karena pengunjung pasar tradisional memang menurun, ditambah dengan adanya pembatasan jam operasional hingga pukul 14.00 WIB. Padahal biasanya Pasar Wage Purwokerto hidup hingga 24 jam. Dalam sehari, Arifin hanya bisa menjual sekitar 20-40 kelapa saja, jika sedang beruntung ia bisa menjual hingga 50 butir kelapa.

Namun, pasca Idul Adha sampai sekarang, dalam satu hari Arifin kembali bisa menjual ratusan butir kelapa. Minimal 150  hingga 200 butir kelapa terjual habis. Satu orang pembeli bisa membeli hingga 2-3 kelapa parut.

“Meskipun kios kelapa parut saya di dalam pasar, tetap dicari pembeli kalau pas hari raya Idul Adha seperti sekarang ini dan walaupun harus mengantre, pembeli juga mau menunggu, karena kelapa parut memang tetap berbeda dengan santan kemasan jika digunakan untuk memasak,” kata Arifin.

Sementara itu salah satu pembeli kelapa parut, Kholifatul mengatakan, ia memilih membeli kelapa parut untuk memasak rendang, karena santannya lebih mantap dibandingkan dengan santan yang dijual dalam kemasan. Untuk cita rasa masakan, lebih lezat jika menggunakan kepala parut.

“Memang sedikit lebih repot, karena kepala parut hanya ada di pasar tradisional saja, kemudian memasaknya juga harus memeras dulu, tetapi untuk rasa masakan jauh lebih lezat jika dibandingkan dengan menggunakan santan kemasan,” ujarnya.

Kholifatul membeli hingga tiga butir kelapa parut. Menurutnya, selain untuk memasak rendang, juga disimpan untuk keperluan memasak selanjutnya, mengingat stok daging di rumah masih cukup banyak.

Lihat juga...