Pengawinan, Tahap yang Sulit Namun Penting pada Budidaya Melon
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
BANDUNG — Budidaya melon merupakan salah satu jenis tanaman yang mulai digemari oleh para petani di kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selain prospek ekonominya yang baik, cara budidaya melon juga dinilai tidak terlalu sulit.
Menurut Dadang, salah seorang buruh tani melon yang bekerja untuk perkebunan melon pesantren Al-Musthafa, Cikancung, hanya ada satu tahapan yang paling sulit pada budidaya melon, yaitu pengawinan antara kembang jantan dan betina.
“Jadi harus dikawinkan biar bisa berbuah. Ini prosesnya (pengawinan) harus dilakukan secara teliti. Kita harus bisa pilih kembang jantan yang paling bagus lalu dikawinkan dengan kembang betina, agar kualitas buah melon nya bagus,” kata Dadang saat ditemui Cendana News, Senin (26/7/2021).
Adapun cara mengawinkan kembang tersebut, kata Dadang adalah dengan menempelkan atau mengoleskan kepala sari kembang jantan ke putik yang berada di bunga betina, hingga serbuk sarinya menempel di kepala putik. Namun terlebih dahulu, mahkota pada kembang jantang harus dilepaskan, sehingga kepala sarinya mudah dioleskan.
“Kalau yang saya jalankan, satu kembang betina dikawinkan dengan dua kembang jantan, karena dari buku yang pernah saya baca, biasanya ada kembang jantan yang mandul, jadi saya pakai dua kembang biar kalau ada satu yang mandul, yang satunya lagi bisa tetap membuahkan,” jelas Dadang.
Di luar tahap ini, lanjut Dadang, semua proses budidaya relatif mudah dijalankan. Meski demikian, pembudidaya melon juga harus pintar-pintar menyeleksi mana buah melon yang bagus untuk dipertahankan, dan mana yang sebaiknya dibuang.
“Dalam satu pohon itu bisa mucul dua, tiga atau lebih buah melon. Nah biar hasilnya maksimal, hanya satu buah saja yang dipertahankan, sisanya kita buang,” ungkap Dadang.
Sementara itu, di tempat yang sama, Fajar Muchtar, pemilik pesantren Al-Musthafa sekaligus pemilik perkebunan melon itu mengaku, bahwa saat ini dia sudah melakukan dua kali tanam melon. Meski hasilnya belum begitu memuaskan, namun ia tetap optimis kedepan akan semakin baik hasilnya.
“Penen tahun lalu kita baru berhasil 70 persen. Dari 1.200 tanaman melon, yang sampai panen itu sekitar 800 pohon. Ini sudah cukup bagus buat pemula. Kita juga masih belajar terus,” kata Fajar.
Untuk melon yang berhasil dipanen, kesemuanya dijual korporasi petani milik pesantren Al-Ittifaq. Menurut Fajar pihaknya sudah menjalin kerjasama kemitraan dengan mereka, baik dari sisi penjualan komoditas pertanian, hingga bimbingan tekhnik pertania.
“Jadi kita ikut program one pesantren one product dari Pemprov Jabar. Kita ingin pesantren kita mandiri secara ekonomi melalui sektor pertanian, dan salah satu yang kami tanam itu melon. Ini lumayan prospeknya. Kita pun tahu kalau permintaan melon cukup tinggi,” pungkas Fajar.