Dasawisma RT09 Munjul Kembangkan Usaha Jus Anggur

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Mengembangkan ekonomi kreatif di tengah kondisi pandemi Covid-19, warga RT 09 RW 04, Kelurahan Munjul, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, menciptakan inovasi minuman menyehatkan. Warga yang merupakan ibu-ibu dasawisma (Dawis) ini memproduksi jus anggur rumahan yang diraciknya empat kali dalam sebulan.

Komariyah, salah satu anggota Dawis RT 04 RW 09 Munjul, mengatakan awal produksi jus anggur ini  hanya coba-coba dari satu kilogram anggur jenis yellow belgia hasil panen warga lingkungan.

Namun karena banyak yang suka, produksi pun dinaikan menjadi tiga peti anggur yang dibelinya dari Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.

“Awal produksi jus anggur itu coba-coba saja. Itu cuma 1 kilogram anggur hasil panen warga, dan jadi 7 botol. Ternyata banyak yang suka, akhirnya kita naikin produksinya jadi 3 peti anggur,” ujar Komariyah kepada Cendana News, ditemui di sela-sela proses pembuatan jus Anggur di Jalan Buni, Kelurahan Munjul, Jakarta Timur, Selasa (27/7/2021).

Dijelaskan dia, produksi 3 peti anggur itu bukan dari hasil panen warga, tapi anggurnya dibeli dari pasar Induk Kramajati. Ini dilakukan karena meningkatnya permintaan pasar. Sedangkan panen anggur warga belum maksimal dapat memenuhi untuk memproduksi jus anggur.

Ki-ka: Komariyah, salah satu anggota Dawis dan Ketua Dawis RT09 RW 09 Munjul, Perawati sedang memegang jus anggur produksi tim Dawis RT 09 RW 04 di rumah Maria salah satu anggota Dawis di Jalan Buni, Kelurahan Munjul, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (27/7/2021). -Foto: Sri Sugiarti

“Kita cari bahan, ketemu anggur jenis alphonso atau anggur Bali, dibeli tiga peti untuk produksi jus anggur. Permintaan banyak lagi, naik jadi 5 peti dan naik lagi 10 peti anggur tiap sekali produksi sampai sekarang. Alhamdulillah,” ujar perempuan kelahiran Jakarta 40 tahun ini.

Untuk produksi jus anggur dilakukan setiap dua pekan sekali, dan kini meningkat setiap pekan. Dari 10 peti anggur, dalam sekali produksi dihasilkan 260 botol ukuran 250 mililiter.

“Harga per botol Rp10.000. Alhamdulillah, peminatnya banyak, tidak hanya warga RT09 RW 09, tapi juga dari sekitarnya.Bahkan, pembelinya ada dari luar kota, contoh  Bandung, Jawa Barat,” ujar Komariyah.

Pemasaran jus anggur ini, menurutnya lebih banyak dilakukan lewat media sosial (medsos) seperti grup whatsapp, FB dan jaringan. Bahkan, anggota komunitas anggur Jakarta menjadi pelanggan tetap yang selalu membeli jus anggur berlabel ‘Grape 09’ ini.

Selain itu, komunitas olah raga bola juga kerap membeli jus anggur ini. Begitu juga pihak kelurahan dan kecamatan, juga suka order minuman jus ini.

“Ada juga yang reseller, beli berapa botol dari kita dengan harga Rp10.000. Lalu, mereka jual harga beda. Alhamdulillah, ya sambutannya bagus. Karena kan khasiat jus anggur ini bagus untuk kesehatan,” ujarnya.

Yakni, kata dia, dapat memulihkan tubuh dari pegal-pegal, menyembuhkan flu, kesehatan jantung, kulit dan lainnya.

Sementara proses pembuatan jus anggur ini sekitar 4 jam, dari mulai pemilihan anggur, mencuci dan memblendernya hingga halus.

Memang, kata Komariyah, produksi jus anggur ini masih manual dengan menggunakan tiga mesin blender. Namun, dipastikan jus anggur yang diproduksinya higienis dan aman untuk dikomsumsi, tidak berbahaya. Malah dapat menyehatkan tubuh.

Dengan terus meningkatkan permintaan jus anggur, Komariyah berharap pemerintah dapat melihat kegiatan ekonomi kreatif warga RT 09 RW04 dalam peningkatan ekonomi. Sehingga, diharapkan ke depan ada bantuan dari pemerintah untuk peralatan produksinya.

“Kendalanya di peralatan masih manual, pakai mesin blender. Ke depan, berharap pemerintah ngasih bantuan untuk peralatan lebih otomatis atau modern,” tandasnya.

Ketua Dawis RT09 RW 09 Munjul, Perawati, menambahkan, hasil penjualan jus anggur dibagikan kepada para kader yang ikut dalam produksi, dan sebagian lagi masuk dalam kas Dawis untuk kegiatan sosial warga.

“Omzet per bulan lumayan. Alhamdulilah, bermanfaat bagi warga, kita bisa kasih santunan kaum dhuafa dan yatim piatu dari keuntungan penjualan jus anggur dan kegiatan sosial warga lainnya,” ujar Pera, kepada Cendana News.

Sementara untuk modal awal usaha ini, kata Pera, sebesar Rp250 ribu, pemberian dari Ketua RT 09 RW 09 Munjul, Lukman Widodo. Modal itu digunakan untuk membeli tiga peti anggur jenis alphonso, botol plastik, membuat stiker dan bahan-bahan lainnya.

“Alhamdulillah, Pak Lukman ngasih modal Rp250 ribu untuk usaha jus anggur ini. Untungnya kita putar lagi, dan banyak pesanan, produksinya terus ditingkatkan,” ujar perempuan kelahiran 38 tahun ini.

Adapun awal produksi pada 2 September 2020 dalam kondisi wabah corona melanda. “Awal coba-coba produksi itu tanggal 24 Agustus 2020, banyak yang suka dan akhirnya kita produksi banyak dimulai tanggal 2 September 2020. Alhamdulillah, sampai sekarang lancar,” ungkap Pera.

Pera berharap, kegiatan ekonomi kreatif ini dapat menggugah hati para ibu-ibu warga RT09 RW04 lainnya untuk dapat memproduksi jus anggur.

Sehingga, ke depan bukan hanya tim dasawisma saja yang membantu memproduksi jus ini. Tetapi, diharapkan masyarakat lingkungan juga bisa berdayakan.

“Karena makin banyak permintaan, kan tenaga harus nambah. Jadi, warga harus diberdayakan untuk lebih  membantu perekonomian mereka,” tukasnya.

Untuk menarik minat warga, Pera bersama tim Dasawisma mensosialisasikan dan memberi edukasi tentang manfaat ekonomi dalam produksi jus anggur.

“Kita terus edukasi warga, ya mungkin saat ini belum tertarik. Mungkin nanti kalau anggur sudah bergelantungan di lingkungan, mudah-mudahan warga tertarik produksi jus anggur,” imbuhnya.

Pera juga berharap, budi daya anggur di lingkungan RT 09 RW 04 makin meningkat hasil panennya. Sehingga dapat mencukupi untuk bahan produksi jus anggur.

“Sekarang kita sedang merintis, mudah-mudahan setahun ke depan bisa produksi jus anggur dari hasil panen lingkungan kita,” ujarnya.

Dalam pemasaran jus anggur, pihaknya juga sudah bergabung dengan Jakpreneur di bawah Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) Kecamatan Cipayung.

Namun karena masih terhambat kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), para tim Dawis belum dapat mengikuti pameran yang digelar Jakpreneur KPKP Cipayung.

“Pihak Jakpreneur KPKP sudah tawarin ikut pameran, tapi ibu-ibu masih terkendala harus dampingi PJJ anak. Jadi, kita penjualan jus anggurnya masih online atau saudara dan teman ke teman,” pungkasnya.

Lihat juga...