Produksi Gula Kristal Unit Usaha Gula Kelapa DCML Cilongok 10 Ton per Bulan
Koko Triarko
BANYUMAS – Berjalan sejak 2019, upaya pemberdayaan ekonomi warga Desa Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, melalui Koperasi Utama Sejahtera Mandiri, saat ini sudah bisa dirasakan hasilnya. Warga mengaku sangat terbantu, karena adanya peluang pekerjaan baru dari sejumlah unit usaha yang didirikan oleh koperasi binaan Yayasan Damandiri tersebut.
Desa Cilongok merupakan satu dari lima Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML), yang dikunjungi oleh pimpinan Yayasan Damandiri. Desa ini memiliki potensi gula kelapa untuk diolah menjadi gula kristal organik yang bernilai jual tinggi.
Namun, saat ini unit usaha pengolahan gula kelapa menghadapi beberapa kendala. Seperti, kurangnya jumlah suplai bahan baku berupa air nira maupun gula kelapa dari petani penderes. Hal itu dikarenakan adanya persaingan dengan tengkulak atau pengepul lain.

Tri Yanto, Kepala Unit Pengelola Gula Kelapa, Koperasi Utama Sejahtera Mandir mengatakan, selama ini pihaknya baru mampu memproduksi 10 ton gula kristal per bulan. Kapasitas produksi tersebut sebenarnya masih bisa ditingkatkan lagi hingga dua kali lipat.
“Tapi, saat ini kita menghadapi kendala kurangnya suplai bahan dan kebutuhan alat produksi yang masih terbatas,” kata Tri Yanto, di sela menerima kunjungan pimpinan Yayasan Damandiri di pabrik pengolahan gula kelapa desa Cilongok, Senin (14/6/2021).
Menurut Tri Yanto, keterbatasan suplai bahan masih sulit diatasi, karena adanya unsur kedekatan para penderes dengan tengkulak atau pengepul lain, yang sudah lama terjalin. Sementara kendala peralatan, pihaknya membutuhkan tambahan modal untuk membeli mesin.
“Kira-kira kita butuh modal membeli alat dengan total anggaran sekitar Rp75 juta. Dengan alat senilai tersebut, kita pastikan bisa meningkatkan produksi 10 ton lagi per bulan,” katanya.
Selain kendala suplai bahan dan alat, unit usaha tersebut juga masih menghadapi kendala pemasaran yang belum maksimal. “Ini karena kita belum memiliki sertifikat halal MUI dan sertifikat produk organik,” kata Tri Riyanto.
Sertifikat tersebut akan membuat produk bisa lebih berdaya saing. Sementara mengenai omzet penjualan, Tri Yanto menyebut, untuk memproduksi 10 ton gula kristal dibutuhkan biaya sebesar Rp200 juta. Sedangkan harga penjualan 10 ton itu gula, dengan harga saat ini, menghasilkan pendapatan Rp230 juta.
Dengan potensi usaha dan berbagai kendala itu, pimpinan Yayasan Damandiri, Letjen (purn) Soegiono, mengingatkan agar pengelola mempertimbangkan lagi upaya pengembangan usaha tersebut. Hal ini dimaksudka, agar jangan sampai investasi yang diberikan terhambat perkembangan usaha.
Pimpinan Yayasan Damandiri mengunjungi unit pengolahan gula kelapa di desa Cilongok, dalam rangkaian kunjungan kerja ke Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, sejak Jumat (11/6/2021).
Tampak hadir mendampingi dalam peninjauan DCML Cilongok, Sekretaris Yayasan Firdaus dan Retnosari Widowati (Mbak Eno), dan lainnya. Dalam acara ini juga dilakukan audiensi bersama yayasan, pengelola DCML dan pemerintah desa setempat.