Embet dan Mangrove Efektif Jadi Biofilter Tambak Berkelanjutan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Pertambakan sistem tradisional kerap terkendala polutan lingkungan residu pakan. Sebagai upaya menghadirkan tambak berkelanjutan, sejumlah petambak mulai melakukan budidaya ramah lingkungan dengan konsep silvofishery atau sinergi antara hutan mangrove dan budidaya udang.

Sulistiono, salah satu petambak di Desa Bakauheni, Lampung Selatan menyebutkan, antisipasi kendala saluran pemasukan air (inlet) dan pembuangan (outlet) yang kerap tercampur dan menjadi polutan, petambak tradisional mulai memperbanyak tegakan mangrove, embet di pesisir Bakauheni. Saluran yang dipisah dan pembuatan petak biofilter dilakukan dengan kombinasi penanaman mangrove jenis bakau (Rhizopora) dan embet (Thypa angustifolia).

“Petak biofilter difungsikan untuk saluran outlet dan inlet, berbagai jenis tanaman mangrove dan embet yang memiliki fungsi filter dan sequester atau mengikat polutan yang akan menyaring air laut sebelum masuk ke tambak. Sebaliknya menyaring air buangan tambak yang penuh polutan residu pakan, bahan kimia sebelum dibuang ke laut,” terang Sulistiono saat ditemui Cendana News, Rabu (16/6/2021).

Sulistiono menyebutkan, kawasan petak biofilter mangrove juga menjadi habitat burung, ikan dan plankton.

Kandungan polutan dari bahan bakar untuk menggerakkan kincir dari solar bisa terserap oleh daun tanaman bakau. Akar napas tanaman bakau dan embet juga akan menyerap air yang terkena polutan. Hasilnya budidaya ikan bandeng (chanos chanos), udang windu, udang vaname lebih berwawasan lingkungan.

Tambak berwawasan lingkungan dengan menjaga vegetasi mangrove juga diakui Hardian. Warga Bakauheni itu menyebut saluran air dari laut, sungai cukup lancar di wilayah tersebut.

“Saluran sungai kecil yang menjadi habitat mangrove dan embet bisa dimanfaatkan warga untuk mencari ikan, petambak juga tetap bisa produktif,” paparnya.

Menjaga tanaman mangrove jadi konsep tambak berwawasan lingkungan bagi Hardian di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (16/6/2021). Foto: Henk Widi

Kesadaran petambak membuat petak steril air, petak biofilter ikut melindungi perairan laut dari pencemaran. Menjaga vegetasi embet yang menyerupai tanaman pandan air cukup efektif. Keberadaan tanaman itu mampu menyerap polutan dan ikut menjernihkan air.

Konsep budidaya perikanan berkelanjutan silvofishery juga diterapkan warga Bandar Agung, Kecamatan Sragi. Ahmad Rizal, salah satu warga menyebut mempertahankan vegetasi mangrove ikut menjaga kelestarian tambak. Irigasi yang bersih dari air laut tersaring oleh akar napas mangrove jenis api api (Avicennia).

Kawasan pesisir timur yang masih kaya akan vegetasi embet di aliran sungai Way Sekampung juga dipertahankan warga. Keberadaan embet dan mangrove api api, bakau ikut menahan laju air laut saat terjadi banjir rob dan menjaga area pertambakan dari limpasan air laut dan sungai.

Lihat juga...