Covid-19 di Semarang Meningkat, 80 Persen dari Klaster Keluarga

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Kasus covid-19 di Kota Semarang terus meningkat. Tercatat per Rabu (16/6/2021) pukul 17.00 WIB, data siagacorona.semarangkota.go.id, menunjukkan angka 1.354 pasien dengan 549 di antaranya dari luar kota. Jika dibandingkan sebulan lalu, angka tersebut melonjak hingga tiga kali lipat.

“Kondisi saat ini, di Kota Semarang memang mengalami kenaikan kasus covid-19. Jika dibandingkan pada Lebaran 2021 lalu, angkanya melonjak cukup tinggi. Dari sekitar 200-300 pasien hingga kini naik berkali lipat,” papar Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Semarang, Abdul Hakam, di Semarang, Rabu (16/6/2021).

Dipaparkan sebanyak 80 persen kasus covid-19 di Kota Semarang saat ini, berasal dari klaster keluarga. Dari awalnya satu orang, kemudian menularkan ke anggota keluarganya yang lain.

“Ini juga diawali dari kurang disiplinnya mereka dalam penerapan protokol kesehatan. Ketika terpapar, kemudian menularkan kepada anggota keluarga yang lain. Jika dalam satu keluarga ada 3-5 orang, jumlahnya jadi melonjak,” terangnya.

Untuk itu, lanjut Hakam, pihaknya meminta agar masyarakat yang mengalami gejala klinis covid-19, untuk segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan, termasuk juga di puskesmas.

“Sebanyak 37 puskesmas di Kota Semarang, sudah bisa melayani pemeriksaan covid-19. Jadi jika mengalami gejala bisa langsung memeriksakan diri, sehingga bisa segera ditangani. Harapannya, jika memang terpapar, bisa dilakukan isolasi dan mencegah penyebaran lebih luas,” tandasnya.

Saat ini Pemkot Semarang juga terus menambah ruang karantina, bagi masyarakat yang akan melakukan isolasi covid-19. Di satu sisi, hal tersebut juga membutuhkan penambahan SD, baik dokter atau perawat.

“Saat ini kita membutuhkan segera SDM kesehatan, baik dokter, perawat ataupun bidan relawan covid-19. Bagi yang memenuhi persyaratan, bisa segera mengajukan lamaran ke Dinas Kesehatan Kota Semarang,” tandas Hakam.

Terpisah, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, juga menyampaikan hal senada. Diterangkan, peningkatan kasus covid-19 di wilayahnya, karena tingkat kesadaran masyarakat terkait protokol kesehatan menurun.

“Dari survei yang kita lakukan, protokol kesehatan turun dari sebelumnya 78 persen menjadi 74 persen. Pemakaian masker, kerumunan, mulai diabaikan,” terang Hendi, panggilan akrabnya.

Melihat kondisi ini, dirinya sudah meminta agar penegakan protokol kesehatan kembali ditingkatkan. Termasuk pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) juga diperketat.

“Jika minggu lalu, operasional tempat usaha hingga pukul 23.00 WIB, maka minggu ini dibatasi menjadi pukul 22.00 WIB. Ini kita lakukan karena banyak yang masih berkerumun, terutama saat malam hari,” terangnya.

Ditegaskan, masyarakat masyarakat diperbolehkan tetap berkegiatan, namun ada pembatasan dan harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

Lihat juga...