Petani Gunakan Teknik Okulasi untuk Regenerasi Tanaman Jengkol

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Jengkol jadi salah satu komoditas perkebunan sumber penghasilan petani di Lampung Selatan. Dikenal dengan jering tanaman jengkol atau Archidendron pauciflorum petani mengembangkannya dengan sistem generatif.

Saiful, petani di Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang bilang teknik okulasi jadi pilihan perbanyakan batang. Semula tanaman jengkol tumbuh secara alami di perbukitan setempat.

Saiful dan petani setempat mulai mengembangkan komoditas tersebut karena nilai ekonomi yang tinggi. Sebagai bahan sayur, lalapan jengkol dihargai paling rendah Rp10.000 per kilogram pada tingkat petani. Pada level pengecer bisa dihargai Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

Teknik pembibitan memakai biji yang tua dilakukan dengan penyemaian. Selanjutnya ia akan melakukan proses okulasi. Perbanyakan generatif dilanjutkan vegetatif melalui okulasi bertujuan mempercepat buah, menghasilkan produksi buah melimpah. Teknik itu sebutnya diperoleh dari penyuluh pertanian dan kombinasi pengalaman petani yang sukses budidaya jengkol.

“Teknik okulasi kami lakukan untuk regenerasi tanaman yang sebagian sudah tua sehingga perlu diganti bibit baru, indukan pohon yang telah berbuah kami pilih agar bisa menghasilkan buah yang produktif dengan sifat buah sama dengan pohon indukan,” terang Saiful saat ditemui Cendana News, Senin (1/3/2021).

Proses okulasi tanaman jengkol sebutnya mudah dengan bibit semai dari biji pada polybag. Selanjutnya ambil tunas dari pohon jengkol yang telah berbuah lebat dan berkualitas. Pada bagian tanaman bibit dibuat sayatan untuk penempatan tunas. Bagian tunas atau pucuk dari batang jengkol yang telah ditempelkan selanjutnya diikat dengan plastik.

Bekas tempelan yang telah diikat selanjutnya akan ditali hingga tiga pekan. Setelah waktu yang ditentukan ikatan bisa dibuka untuk melihat kondisi proses okulasi. Jika sambungan berwarna hijau maka menjadi tanda okulasi berhasil. Tanda okulasi berhasil dilihat dari tunas yang tumbuh selanjutnya batang pokok bisa dipotong.

Hasil bibit dengan sistem okulasi menurut Saiful dipindahkan dari polybag ke lahan tanam. Penggunaan pupuk kandang dan urea akan mempercepat pertumbuhan bibit. Saat usia tiga hingga lima tahun bibit teknik okulasi akan berbuah. Pada tahap awal berbuah pohon bisa menghasilkan satu kuintal. Puncaknya produksi buah bisa mencapai tiga kuintal.

“Hasil dari pohon okulasi lebih banyak berbuah karena sifat asli dari tunas yang produktif,” terang Saiful.

Petani lain bernama Jeki mengaku teknik okulasi mempercepat produksi buah. Ia bisa memangkas waktu normalnya pada tanaman alami atau liar pohon jengkol berbuah usia tujuh tahun. Singkatnya waktu tanam dan berbuah teknik okulasi memberi peluang baginya menanam banyak pohon. Ia mengaku memanen jengkol hasil panen di kebun miliknya dan petani lain.

Petani yang menanam jengkol akan menjual kepadanya seharga Rp10.000 per kilogram. Rata rata hasil satu pohon bisa mendapat tiga kuintal sehingga membeli dari petani seharga Rp3juta. Sebagian petani memilih menerapkan sistem borongan per pohon Rp2,5juta. Hasil panen selanjutnya akan dijual ke pasar di Banten dan Bandung serta pasar lokal.

“Setahun jengkol berbuah sekali namun dengan teknik okulasi produksi buah meningkat dua kali lipat,” terang Jeki.

Ardi Yanto, petani jengkol lain mengaku okulasi jadi cara memperbanyak bibit. Banyaknya petani jengkol ikut menjadi sumber penghasilan warga dengan adanya jasa petik dari pohon dan kupas. Proses pemetikan dengan bibit okulasi membuat pohon lebih pendek. Menggunakan galah pemanenan menerapkan sistem upah Rp50.000 per batang dan pemetikan buah dan pengupasan masing masing Rp1.000 per kilogram.

Teknik okulasi efektif menghasilkan bibit yang cepat berbuah diakui Idi Bantara. Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Sepurih Way Sekampung Lampung itu bilang jengkol jadi komoditas pertanian ekonomis. Bagi penanam hasil panen bisa mencapai lebih dari 3 ton pada satu kebun. Perbanyakan okulasi ikut mendorong petani memperbanyak tanaman.

Sebagai tanaman pertanian, jengkol bisa digunakan untuk tanaman penahan longsor. Dukungan dilakukan instansinya dengan menanam bibit jengkol hasil okulasi. Bibit tersebut selanjutnya akan dibagikan gratis bagi masyarakat pada kawasan perbukitan, tepi sungai. Selain bisa berguna untuk menghasilkan komoditas bernilai jual. Bagi kelestarian alam tanaman jengkol jadi penahan untuk menjaga tanah dari longsor.

Lihat juga...