Kerjakan Apa yang Kamu Katakan
OLEH: HASANUDDIN
SEMAKIN maju peradaban manusia, kejujuran semakin dibutuhkan sebagai kekuatan dalam menghadapi segala tantangan. Transparansi dan akuntabilitas dua aspek yang amat ditekankan dalam setiap aktivitas manusia yang beradab. Kesesuain antara perkataan dan perbuatan, itulah yang dapat menyelamatkan manusia dalam situasi apa pun, dan di manapun.
Pandangan manusia modern tentang pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan telah disampaikan Allah swt melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُون(2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
“Wahai orang yang beriman, mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tiada engkau kerjakan, Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Al-Quran surah Ash-Shaff (62): 2-3).
Akhir-akhir ini, keriuhan sosial seringkali dipicu oleh para pejabat yang mengatakan sesuatu agar dipatuhi oleh masyarakat, sementara dirinya sendiri tidak mampu memberikan keteladanan atas apa yang diucapkannya. Misalnya mereka mengimbau agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan, menghindari kerumunan massa, tapi justru dia sendirilah yang memberikan contoh buruk dengan membuat kerumunan.
Banyak aparat yang senantiasa memberikan imbauan agar masyarakat taat kepada hukum dan peraturan, namun merekalah yang banyak melakukan pelanggaran hukum, main hakim sendiri. Melarang korupsi, namun merekalah yang melakukan korupsi. Meneriakkan pentingnya berderma, menolong fakir miskin, namun mereka justru mengkorupsi bantuan sosial yang diperuntukkan bagi kalangan miskin. Semua itu mengundang bukan hanya antipati dari warga masyarakat, namun juga menyebabkan kemurkaan di sisi Allah swt.
Di dalam Al-Quran, amat banyak ayat Allah di dahului dengan kata “Qul” yang berarti “katakanlah”. Ayat-ayat seperti ini bermakna sebagai suatu perintah untuk melakukan. Kenapa demikian, karena berdasarkan ayat yang telah disebutkan di atas, sesuatu yang dikatakan mestilah dikerjakan. Sebab itu, misalnya ketika Allah berfirman:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1)
“Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia” (QS. An-Naas ayat 1)
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
“Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq)
Atau firman Allah lainnya:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas).
Dan banyak lagi ayat lainnya, yang di dahului dengan perintah “Qul”, semua itu hanya dapat dirasakan kemanfaatannya, hanya dapat ditemukan makna hakikinya bagi kehidupan kita jika di laksanakan. Tidak cukup hanya dengan di baca, atau di ucapkan saja.
Disebabkan karena pada umumnya, umat Islam hanya membaca saja, dan tidak melakukan perintah-perintah itulah sehingga seolah Al Quran tidak memberi pengaruh dalam kehidupan.
Islam adalah penyerahan diri kepada Allah swt secara totalitas. Tidak ada keselamatan bagi yang menolak melakukan penyerahan diri kepada Allah. Dan penyerahan diri yang dimaksud, mestinya di wujudkan dengan perbuatan, tidak cukup hanya dengan perkataan.
Oleh sebab itu, beragama menuntut adanya kesungguhan dalam pelaksanaan. Sama halnya dengan kegiatan yang lain, semua memerlukan kesungguhan jika menghendaki ada hasil yang diperoleh.
Karena itulah Allah swt berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69)
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut ayat 69).
Ayat ini menegaskan bahwa pertolongan, petunjuk atau jalan baru Allah akan berikan jika seseorang benar-benar telah berusahà dengan sungguh-sungguh (jihad) dalam rangka mencari ridha Allah.
Sebab itu, dalam banyak hal, makna-makna Al Quran itu, baru dapat kita peroleh melalui pengamalannya. Dan tidak akan kita peroleh maknanya, hanya dengan membacanya, menafsirkannya atau mempelajari teks-nya saja. Pengamalan atas isi Alquran itulah yang akan mendatangkan petunjuk dan pertolongan Allah swt.
Semoga Allah swt senantiasa memberikan bimbingan, petunjuk dan pertolongannya kepada kita semua. ***
Depok, Jumat 26 Februari 2021