Peran Orang Tua Pantau Kondisi Kejang Anak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kejang pada periode umur 6 bulan hingga lima tahun, memang biasa terjadi. Kehadiran orang tua atau pendamping anak sangat penting untuk memantau jenis kejang yang dialami anak untuk memastikan apakah kondisi kejang pada anak membutuhkan tindakan medis lanjutan atau tidak.

Tim Neurologist Anak, RSAB Harapan Kita, dr. Pandu Caesaria Lestari, SpA, menyatakan, kondisi kejang tidak bisa dihentikan. Hanya bisa menunggu berhenti dengan sendirinya.

“Pada saat anak kejang inilah peran orang tua atau pengasuhnya atau orang terdekat saat kejadian tidak boleh panik. Harus bisa melihat kondisi kejang yang dialami anak, sehingga bisa mendeskripsikannya pada tenaga ahli untuk mengetahui apakah kejang pada anak tersebut membutuhkan diagnosa lanjutan atau tidak,” kata dr. Pandu dalam acara online kesehatan yang diikuti Cendana News, Jumat (26/2/2021).

Langkah penanganan kejang pada anak yang disampaikan Tim Neurologist Anak RSAB Harapan Kita, dr. Pandu Caesaria Lestari, SpA, dalam acara online kesehatan terkait kejang, Jumat (26/2/2021) – Foto: Ranny Supusepa

Ia menjelaskan, kejang merupakan suatu gangguan pada sinyal listrik pada tubuh yang menyebabkan tubuh tidak dapat dikontrol.

“Otak kita itu memiliki fungsi untuk mengontrol seluruh tubuh dengan mengeluarkan sinyal listrik yang kemudian ditangkap impulsnya oleh tubuh untuk bergerak. Gangguan pada sinyal inilah yang menyebabkan timbulnya kejang pada tubuh,” urainya.

Ia menyebutkan kejang dapat disertai dengan demam atau pun tidak disertai demam.

“Kejang yang disertai demam atau lebih sering disebut kejang demam, umumnya terjadi pada periode umur 6 bulan hingga 5 tahun, dengan puncaknya pada kurun 12 hingga 18 bulan,” papar dr. Pandu.

Biasanya pada tipe kejang ini, demam akan terjadi dalam durasi 1-2 menit dalam satu periode kejadian kejang.

“Kejang yang terjadi, umumnya kejang seluruh tubuh atau kalau kata masyarakat umum kelojotan kejangnya. Tapi, sebenarnya ada jenis kejang lainnya. Yaitu kejang sebagian tubuh dan kejang pada satu organ tubuh, seperti pada serangan stroke,” tuturnya.

Jika yang terjadi adalah kejang sebagian tubuh, berlangsung lebih dari 15 menit, berulang dalam periode 24 jam dan ada gejala sisa atau penurunan kesadaran, maka ini dibutuhkan diagnosa lanjutan.

“Di sini peran orang tua penting, untuk memantau kejang pada anak. Jangan panik. Karena kalau orang tua panik, maka tidak bisa dengan baik menjelaskan pada dokter,” ucapnya.

Saat anak mengalami kejang, ia menyebutkan ada beberapa langkah yang harus dijalankan oleh orang tua atau pengasuh atau keluarga dekatnya.

“Usahakan tetap tenang, walaupun memang menakutkan melihat anak kejang. Tapi jika kita tidak tenang, akan sulit untuk memantau kondisi anak,” ujar dr. Pandu.

Pastikan anak dalam kondisi aman dengan menjauhkan semua barang yang berpotensi menimbulkan cedera pada anak.

“Apakah itu kabel listrik atau benda tajam atau air panas. Pokoknya pindahkan barangnya. Jangan anaknya,” ujarnya lebih lanjut.

Miringkan tubuh anak untuk menghindari tersedak dan membuka jalan napas, lalu letakkan benda empuk di bawah kepala anak untuk menghindari benturan keras yang mungkin terjadi saat kejang berlangsung.

“Jangan masukkan apa pun ke mulut anak. Karena bisa melukai mukosa, menimbulkan potensi tersedak atau bisa juga mematahkan gigi anak,” kata dr. Pandu tegas.

Jika anak sudah miring, orang tua bisa mengamati bentuk kejang dan lama waktu terjadinya kejang agar bisa menyampaikannya pada tenaga ahli medis.

“Pasca-kejang pun, jangan tinggalkan anak. Tetap dampingi untuk memastikan apakah kesadarannya kembali atau tidak. Tunggu hingga kesadaran anak kembali, ingin menawari anak makan atau minum,” pungkasnya.

Lihat juga...