Suka Duka Pedagang Konvensional Bambu Kuning Digempur Pasar Online
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Perkembangan zaman kekinian dalam sektor jasa perdagangan dari toko fisik ke toko online ikut mempengaruhi tren masyarakat dalam berbelanja. Munculnya toko dalam jaringan (daring) atau online diakui Nurhasanah, ikut menyedot pangsa pasar toko fisik. Perdagangan online atau e-commerce menggerus jumlah konsumen yang datang ke toko pakaian miliknya.
Perubahan diakui Nurhasanah terjadi sejak dua tahun terakhir, ditambah hantaman pandemi Covid-19 awal 2020. Pedagang di lorong pasar Ramayana, Tanjung Karang, Bandar Lampung itu menyebut dua faktor memicu penurunan jumlah konsumen. Tren masyarakat berbelanja langsung tegerus oleh praktisnya membeli barang via online. Platform belanja online mendorong beralihnya pola belanja.
Turunnya volume perdagangan pada pasar fisik sebutnya ditambah persaingan antar platform belanja. Pemberian diskon, voucher belanja dan kemudahan dalam pengiriman berimbas masyarakat memilih belanja online.
“Persaingan toko fisik yang langsung dan toko online dengan sistem perdagangan tanpa harus bersentuhan fisik semakin terasa semenjak Covid-19, karena masyarakat enggan keluar rumah, memanfaatkan gawai bisa mendapatkan barang yang diinginkan memakai uang digital,” terang Nurhasanah saat ditemui Cendana News, Selasa (19/1/2021).
Toko fisik sebutnya memiliki keterbatasan waktu buka dari pagi maksimal hingga sore. Namun toko online yang juga dioperasikannya bisa melayani kebutuhan pelanggan hingga malam hari.
“Secara langsung perubahan tren belanja masyarakat harus diikuti oleh pemilik toko fisik untuk bertransformasi membuat toko online,” bebernya.
Nurhasanah yang menjual busana muslim, seragam sekolah dan berbagai jenis pakaian mengaku volume penjualan ikut terpengaruh. Sepanjang semester pertama dan kedua 2020 ia menyebut jumlah pakaian yang dijual berkurang. Terlebih saat hari raya keagamaan yang tidak dirayakan meriah saat pandemi menurunkan penjualan pakaian. Sebelumnya bisa menjual 300 potong pakaian tercatat hanya 100 potong pakaian terjual setiap pekan.
Diana, pedagang di Pasar Bambu Kuning, Jalan Batu Sangkar, Tanjung Karang mengaku tetap bertahan. Meski alami penurunan jumlah pembeli yang datang ia menyebut tren toko online yang menggempur toko offline tidak berpengaruh signifikan. Nilai transaksi penjualan pakaian yang dijalankan olehnya masih tinggi. Sepekan ia masih bisa mendapatkan omzet Rp4 juta hingga Rp5 juta.
Sebagai bagian dari pelaku usaha kecil ia menyebut mulai mencoba bertransformasi ke toko online. Cara tersebut dilakukan untuk memangkas biaya sewa toko. Saat pandemi Covid-19 ia juga aktif memasarkan produk pakaian memakai aplikasi Facebook, Instagram. Platform jual beli juga menjadi tempat memajang pakaian yang dijual.
“Hasilnya lumayan dengan menjual secara online jadi bisa menutup kekurangan saat berjualan offline, suka dukanya tentu ada,”bebernya.
Ia mengaku tetap mendapat komplain dari pelanggan saat pakaian yang dikirim tidak sesuai. Berbekal pengalaman pelayanan kepada konsumen akan menjadi prioritas. Cara tersebut dilakukan agar toko terverifikasi oleh platform jual beli. Pemberian bintang dan komentar positif jadi solusi untuk menambah stok barang. Sebab nilai transaksi bisa lebih dari toko offline.

Indah Lestari, ibu rumah tangga yang membeli gamis mengaku tetap lebih yakin berbelanja langsung. Pengalaman saat belanja online ia mendapat ukuran, warna dan bahan kain tidak sesuai. Meski tidak kapok belanja online ia menjadikan platform belanja digital itu untuk membandingkan harga. Sebab di toko online kerap lebih murah meski kualitas kurang bagus.
“Tetap ada kelebihan dan kekurangan jika offline atau toko fisik saya bisa mencoba bahkan melihat kualitas secara langsung,” cetusnya.
Tren belanja di pasar online sebutnya tetap tidak akan mematikan toko offline. Keduanya bahkan saling mendukung. Bagi konsumen ia bisa melihat sejumlah barang elektronik, pakaian, kosmetik hingga produk makanan. Namun dengan membeli langsung ia bisa mendapatkan barang pada hari yang sama tanpa menunggu waktu pengiriman. Ia bahkan tetap bisa melakukan proses menawar harga.
Lukman, juru parkir di pasar Bambu Kuning menyebut berkurangnya pembeli cukup terasa. Sepanjang Jalan Batu Sangkar kerap macet, ramai oleh kendaraan. Namun semenjak pandemi Covid-19 dan munculnya toko online konsumen sebagian beralih belanja online. Perubahan pola belanja tersebut mempengaruhi kunjungan ke pasar fisik dan pendapatan juru parkir.