Terdampak Erupsi Gunung Ile Lewotolok, Petani tak Bisa Bercocok Tanam

Editor: Koko Triarko

LEWOLEBA – Erupsi Gunung Api Ile Lewotolok menyebabkan masyarakat di dua kecamatan, yakni Ile Ape dan Ile Ape Timur di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa mengungsi ke Kota Lewoleba, sehingga warga dari 17 desa di Kecamatan Ile Ape dan 9 desa di Kecamatan Ile Ape Timur yang mayoritas berprofesi sebagai petani ladang, tidak bisa bercocok tanam.

“Biasanya warga sudah mulai menyiapkan lahan kebun dan menaman padi ladang, jagung dan kacang tanah ketika sudah memasuki musim penghujan seperti sekarang ini,” kata Bosco Ritan, warga Kota Lewoleba, saat dihubungi Cendana News, Senin (7/12/2020).

Warga Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT, yang juga pengurus Posko Pengungsi Barakat saat dihubungi, Senin (7/12/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Bosco menyebutkan, warga tidak bisa bercocok tanam karena erupsi gunung api Ile Lewotolok masih terjadi. Pengurus Posko Pengungsi Barakat ini menyebutkan, status gunung api masih siaga, sehingga para pengungsi belum diperkenankan kembali menetap di desa mereka oleh pemerintah, dan membuat aktivitas masyarakatnya yang sebagian besar petani belum berjalan.

“Hampir sebagian besar masyarakat di dua kecamatan tersebut berprofesi sebagai petani ladang. Memang lahan pertanian hanya ditanam setahun sekali saat musim hujan, terutama tanaman pertanian seperti padi dan jagung untuk konsumsi pribadi,” ungkapnya.

Pengurus LSM Barakat yang biasa mendampingi warga di kecamatan Ile Ape Timur ini mengakui, rata-rata petani di lereng Gunung Ile Lewotolok selalu menanam kacang tanah.

“Wilayah Ile Ape terkenal sebagai penghasil kacang tanah karena memang tanahnya subur. Setiap tahun di beberapa komunitas adat selalu digelar ritual adat pesta kacang,” ungkapnya.

Sementara itu, Vitalis Ola, salah seorang pengungsi di posko pengungsian bekas kantor Bupati Lembata, mengaku akibat berada di pengungsian menyebabkan pihaknya tidak mengurus kebun dan ternak.

Vitalis mengatakan, biasanya awal Desember ini sudah mulai membersihkan ladang dan saat mulai hujan baru menanam padi dan jagung terlebih dahulu, baru setelah itu menanam kacang tanah.

“Kami mau bagaimana lagi, karena ini bencana alam yang tidak terduga sehingga kami pun hanya pasrah saja. Kalau situasi membaik dan bisa kembali ke rumah, mudah-mudahan masih musim hujan sehingga kami bisa bercocok tanam,” ucapnya.

Lihat juga...