Irigasi Alam dan Buatan Jamin Keberlangsungan Pertanian Lamsel
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Keberadaan irigasi alam menjadi pendukung sektor pertanian sawah dan hortikulura di Lampung Selatan. Selain itu, juga irigasi buatan yang makin menjamin keberlangsungan pertanian di wilayah tersebut. Baik pada musim penghujan maupun kemarau.
Ali Mustopa, petani sekaligus ketua Kelompok Tani Pengguna Air (P3A) Sumbersari, menyebut pasokan air irigasi lancar mengalir sepanjang musim. Kala musim kemarau atau gadu, irigasi masih bisa digunakan petani hortikultura. Irigasi juga dimanfaatkan maksimal saat penghujan atau rendengan.
Saluran irigasi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, sebut Ali Mustopa, dominan permanen. Namun sebagian saluran air pertanian masih mengandalkan irigasi alam. Sungai Way Asahan, Way Muloh dan sumber air dari Sendang Sari berasal dari Gunung Rajabasa. Pendistribusian air kala musim tanam, dikelola oleh P3A untuk pendistribusian air secara merata.

“Sejumlah petani yang mengandalkan irigasi alam, memanfaatkan bendungan alami memakai batu. Sistem tersebut diterapkan petani Pasuruan memakai bendung Lubuk Ludai dan Lubuk Sepan. Aliran dari sungai Way Asahan itu mampu mengaliri ratusan hektare lahan di Desa Pasuruan, Desa Kelaten dan Kuripan. Pengaturan irigasi permanen diatur melalui bendungan Way Asahan, “ terang Ali Mustopa, saat ditemui Cendana News, Senin (7/12/2020).
Ia menjelaskan lagi, petani di dekat saluran irigasi permanen tetap bisa menanam padi selama tiga kali dalam setahun, namun di wilayah yang mengandalkan irigasi permanen tanpa adanya aliran air hanya bisa menanam setahun dua kali mengandalkan musim penghujan.
Saluran irigasi untuk lahan pertanian, sebut Ali Mustopa, terintegrasi dengan sejumlah sumur bor bantuan pemerintah. Sebagian pemilik lahan sawah berinisiatif membuat sumur bor swadaya dengan biaya belasan juta rupiah. Selain fasilitas sumur bor, jaringan listrik untuk daya pompa dibuat oleh warga secara patungan, untuk ketersediaan air kala kemarau. Selain untuk lahan pertanian, air bersih dimanfaatkan untuk minum.
Menurutnya, kendala bagi pengelolaan irigasi dengan retaknya saluran berimbas kebocoran air sebelum mengalir ke lahan sawah. Kebocoran tersebut diperbaiki dengan proses penambalan secara swadaya. Kebutuhan air dibagi sesuai lokasi lahan sawah di bagian atas hingga bagian bawah untuk pemerataan.
“Sistem pengolahan lahan memakai traktor lebih cepat, sehingga air yang digunakan bisa dibagi ke lahan sawah di bagian hilir saluran irigasi,”cetusnya.
Slamet, petani di Desa Gandri, menyebut sistem irigasi alami membuat petani tetap bisa bercocok tanam. Kala musim tanam gadu dengan pasokan air terbatas, ia menanam kacang tanah, kedelai dan kacang panjang. Pengaturan air untuk lahan pertanian dilakukan dengan membendung sungai di dekat lahan pertanian.
“Sebagian lahan tadah hujan memanfaatkan embung yang digali serta membuat sumur bor, agar petani tetap bisa menanam padi dan hortikultura,”papar Slamet.
Pasokan air lancar menyokong keberlangsungan pertanian, juga tidak lepas dari kelestarian Gunung Rajabasa.
Suhadi, salah satu petani, menyebut Way Batokh menjadi sumber mata air bagi petani Desa Gedong Harta. Selain sebagai sumber pasokan bagi lahan pertanian, warga juga bisa mempergunakannya untuk air bersih. Air bersih untuk minum, mencuci, mandi dan toilet itu disalurkan melalui selang.
“Sepanjang tahun dengan air yang lancar kami bisa menggarap lahansawah tiga kali,”cetusnya.
Suhadi bilang, keberadaan mata air menjadi sumber pengairan bagi lahan pertanian dan warga. Saat musim penghujan, air dari Gunung Rajabasa cukup melimpah. Sebagian warga bahkan memanfaatkannya untuk usaha penjualan air bersih. Air yang terbuang ke sungai masih bisa dipergunakan untuk pengairan irigasi lahan pertanian.