Warga Waigete di Sikka Masih Harus Berjuang Cari Sinyal Telepon

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sinyal telepon selular di beberapa wilayah di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, masih sulit dijangkau. Bahkan, ada desa yang sampai saat ini tidak memiliki jaringan sinyal telepon selular sama sekali.

Untuk menggunakan telepon selular, warga harus pergi ke desa terdekat atau ibu kota kecamatan, bahkan ke Kota Maumere agar bisa berkomunikasi menggunakan telepon selular, atau menggunakan internet, termasuk media sosial.

“Sejak dahulu desa kami tidak ada sinyal telepon selular, sehingga telepon genggam lebih banyak dipakai untuk mendengarkan musik saja,” kata Ermenolda, Loe, warga Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, saat ditemui Cendana News di rumahnya, Senin (19/10/2020).

Warga Desa Watudiran, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Ermenolda Loe, saat ditemui di desanya, Senin (19/10/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Untuk menelepon, kata Ermenolda, dirinya harus menumpang ojek sepeda motor ke Desa Runut yang berjarak sekitar 7 kilometer dari desanya, dengan membayar jasa ojek Rp20 ribu pulang pergi.

Dirinya  mengatakan, untuk menggunakan internet dirinya harus pergi ke rumah saudaranya di Kota Maumere, dan menginap semalam agar bisa puas menelepon saudara di perantauan, atau menggunakan internet, termasuk media sosial.

“Paling kalau ada kebutuhan penting untuk menelepon saudara di perantauan, baru kami menumpang ojek sepeda motor karena tidak ada angkutan pedesaan di wilayah kami,” terangnya.

Ermenolda mengaku bila hendak menggunakan internet, dia pun harus pergi ke Kota Maumere dengan membayar biaya transpor Rp80.000 pulang pergi dan menginap di rumah saudaranya.

Ermenolda berharap, pemerintah bisa membantu pemasangan Base Tranceiver Station (BTS) di wilayahnya, agar warga bisa berkomunikasi menggunakan telepon selular dan internet seperti desa lainnya di Indonesia.

“Kami hanya kekurangan akses komunikasi saja, sementara jaringan listrik, jalan dan air bersih sudah tersedia di desa kami. Kalau bisa pemerintah mendengarkan keluhan kami ini dan memberikan bantuan, agar kami bisa menikmati akses melalui telepon selular,” ungkapnya.

Guru SMPN3 Waigete, Maria Yuliwati, mengaku sekolahnya pun sangat kesulitan menerapkan pembelajaran secara online atau daring, karena tidak ada sinyal telepon selular di Desa Watudiran, termasuk beberapa wilayah tetangga di Desa Runut di Kecamatan Waigete dan Desa Hebing di Kecamatan Mapitara.

Maria menyebutkan, pihaknya sulit mencari bahan pelajaran dari internet, sebab harus ke pusat kecamatan di Desa Waigete yang berjarak sekitar 20 kilometer atau mencari rumah saudara di Desa Runut, yang memiliki sinyal telepon selular.

“Untuk membuat laporan secara online, pun kami harus ke Desa Waigete di pusat kecamatan atau ke Kota Maumere. Pemerintah desa juga kesulitan membuat laporan secara online, padahal saat ini semua laporan dikirim secara online,” ungkapnya.

Maria mengatakan, kadang untuk mencari sinyal telepon ada warga yang memanjat pohon mencari batu atau tempat yang tinggi agar bisa menelepon, tetapi itu pun sinyal teleponnya sering hilang dan lama baru ada lagi.

Lihat juga...