Alih Daya Manusia ke Tenaga Mesin Kurangi Buruh Tani
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Alih daya manusia ke tenaga mesin berimbas pada pengurangan tenaga buruh tani.
Harsono, salah satu operator combine harvester menyebut, sudah menggunakan alat tersebut sejak dua tahun terakhir. Peminat merupakan petani yang memiliki lahan sawah dengan hamparan minimal satu hektare.
Alih daya manusia ke mesin menurutnya memudahkan petani yang ingin cepat memanen padi. Pekerja proses pemanenan dengan alat yang dikenal dengan combat disebutnya mencapai sepuluh orang. Tiga orang bertugas memasukkan gabah ke karung, satu operator dan enam orang bertugas mengangkut gabah dengan motor.
Meski menyingkirkan tenaga buruh tani, Harsono menyebut combine harvester banyak dimanfaatkan petani. Lahan seluas satu hektare menurutnya cukup membayar sebesar Rp2,4 juta atau Rp600 ribu setiap seperempat hektare. Butuh waktu maksimal dua jam proses pemanenan padi dilakukan. Kontur sawah yang datar, kering mempercepat proses pemanenan.
“Petani pemilik lahan sawah saat musim panen memilih mesin combine harvester karena lebih cepat, saat ada pembeli gabah kering panen langsung bisa ditimbang. Tanpa harus membawa pulang ke rumah,” terang Harsono saat ditemui Cendana News, Selasa (22/9/2020).
Harsono menyebut petani yang menggunakan mesin combine harvester semakin banyak. Semula sebagian petani memilih memakai tenaga manusia. Meski demikian sistem penggunaan mesin hanya diterapkan saat musim panen kemarau atau gadu. Sebab lahan sawah lebih kering dan mudah dilintasi alat tersebut. Saat musim tanam penghujan atau rendengan mesin itu jarang terpakai.
Saat masa panen rendengan awal tahun ini Harsono menyebut tidak mengoperasikan combine harvester. Pasalnya tanaman padi yang roboh, lahan sawah yang dominan memperlambat pergerakan alat. Saat kondisi lahan tidak memungkinkan penggunaan alat tenaga buruh panen lebih dominan digunakan.
“Proses pemanenan memakai combine harvester juga akan memberdayakan tenaga ojek untuk angkut gabah,” bebernya.
Lukman, pengojek padi mengaku mendapat upah Rp5.000 hingga Rp7.000 per karung. Jarak dan medan yang harus dilalui menjadi dasar pemilik menentukan upah. Saat musim panen gadu ia menyebut lahan yang dilintasi lebih mudah sehingga ia hanya diupah Rp5.000 per karung. Sebanyak 200 karung bisa dimuat oleh sebanyak 6 orang dengan memakai motor.

“Selama ada mesin combine harvester kami bisa mendapat pekerjaan mengangkut gabah, hasilnya bisa puluhan hingga ratusan ribu per hari,” cetusnya.
Sehari ia mengaku bisa berpindah ke lebih dari dua hamparan sawah. Sebelum ada mesin combine harvester ia kerap bekerja memgangkut gabah yang dirontokkan secara manual. Selain itu ia menjadi buruh angkut jagung yang memasuki masa panen. Usaha mengandalkan motor yang telah dimodifikasi memberinya hasil jutaan rupiah per pekan.
Meski praktis, keberadaan mesin combine harvester dianggap merugikan petani. Sumardi dan sejumlah petani lain di antaranya Sujarwo dan Sodikin menyebut alami penurunan lapangan pekerjaan. Sumardi yang bekerja sebagai buruh panen mengaku alami pengurangan lahan yang dipanen dengan cara manual.
Buruh tani disebutnya kerap dimulai dari proses penanaman atau tandur dengan sistem ceblok. Sistem ceblok akan mewajibkan penanam padi melakukan proses pemanenan. Namun semenjak munculnya alat combine harvester ia mengaku alami pengurangan penghasilan. Meski masih bisa panen sistem bagi hasil bisa dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan harian.
“Saat ini buruh tani masih bisa mendapat bagian karena panen manual, sebagian dipanen memakai mesin,” cetusnya.
Selain combine harvester, mesin pemanen jenis dos juga mulai digunakan. Alat dos digunakan dengan tetap memakai tenaga manusia namun memakai sistem bagi hasil. Setiap sepuluh karung hasil panen, satu karung merupakan hak pemilik mesin dan sembilan karung jadi hak pemilik lahan. Meski lebih cepat alat dos juga mengurangi penggunaan buruh panen di desanya.
Meski alih daya mesin telah digunakan, Sujarwo, petani di Desa Kelaten mengaku tetap memakai tenaga manual. Kontur sawah terasering dan berbatu menyulitkan mesin melakukan pemanenan. Sistem ngarit, nggebuk hingga mendapatkan gabah masih diterapkan. Bagi hasil bagi buruh tani menjadi sumber pendapatan sebab bisa mendapat bagian dari hasil panen.

“Meski mesin pemanen lebih cepat namun ada lahan sawah yang sulit dijangkau apalagi harus menyeberangi sungai,” bebernya.
Alih daya mesin dari tenaga manusia diakui Sujarwo cukup efisien. Namun dengan adanya kelebihan tersebut penghasilan buruh tani berkurang. Bagi sebagian lahan milik petani yang dipanen manual akan memberi hasil bagi buruh panen. Saat masa pandemi hasil panen gabah dari petani lain menjadi cadangan makanan tanpa harus membeli beras.