Usaha Kuliner Berbasis Ikan Cara Tingkatkan Nilai Jual
Editor: Makmun Hidayat
LAMPUNG — Pasokan ikan yang selalu tersedia di wilayah Teluk Betung, Bandar Lampung jadi sumber usaha sektor kuliner.
Murtinah, salah satu pedagang ikan laut mengungkapkan konsumen yang membeli ikan didominasi pemilik usaha warung makan, konsumen rumah tangga dan pelaku usaha kuliner. Bahan baku ikan diperoleh dari pusat pelelangan ikan atau pasar Gudang Lelang.
Berbagai jenis ikan bahan baku kuliner menurut Murtinah merupakan hasil tangkapan nelayan. Ikan jenis kuniran, parang, tenggiri, jolot kerap digunakan sebagai bahan ikan giling. Bahan ikan giling tersebut digunakan untuk proses pembuatan pempek, otak otak, bakso ikan, kerupuk ikan, tekwan. Bahan baku kuliner ikan menjadi sumber usaha baru bagi pelaku usaha kuliner.
Usaha kuliner berbahan ikan menurut Murtinah menjadi pendorong perputaran ekonomi di wilayah tersebut. Sebab pedagang ikan memiliki pelanggan tetap sejumlah pedagang kuliner, warung makan. Tanpa dibeli konsumen rumah tangga ia menyebut tetap bisa menjual ikan yang tidak terjual sebagai bahan baku kuliner dalam bentuk ikan giling.
“Keberadaan pedagang kuliner yang mengolah ikan menjadi produk turunan yang memiliki nilai jual sesuai selera masyarakat, dengan hasil olahan berbahan ikan bisa dijual kembali menjadi berbagai produk kuliner,” papar Murtinah saat ditemui Cendana News, Selasa (18/8/2020).

Berbagai jenis ikan laut menurut Murtinah tidak mengalami kenaikan harga. Sebab meski selama masa pandemi Covid-19 ia menyebut daya beli masyarakat pada ikan laut masih tinggi. Jenis ikan yang dijual meliputi tongkol, kerapu, kakap, tanjan, bekerek dan ikan jolot. Berbagai jenis ikan tersebut menurutnya dijual mulai harga Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Pelanggan tetap ikan yang dijual menurut Murtinah sebagian pemilik usaha kuliner. Ia mendapat pesanan tetap rata rata 10 kilogram ikan bekerek untuk dibakar. Ikan jolot sebanyak 20 kilogram per hari untuk dijadikan ikan giling. Kebutuhan ikan giling menurutnya sangat diperlukan untuk membuat kuliner tradisional dengan nilai jual lebih tinggi.
Sumino, pemilik usaha penjualan kuliner berbahan ikan laut menyebut membutuhkan rata-rata 20 kilogram daging ikan giling. Ikan giling tersebut diolah menjadi otak otak dicampur dengan tepung tapioka. Selanjutnya ikan yang dicampur tepung tersebut akan dibakar memakai daun pisang. Otak otak dijual olehnya dengan harga Rp2.000 per bungkus.
“Selain otak otak saya melakukan pengolahan ikan menjadi produk kuliner seperti bakso, nuget, pempek dan tekwan,” paparnya.
Sumino menyebut olahan berbahan ikan bisa meningkatkan nilai jual. Satu kilogram ikan dengan harga Rp50.000 disebutnya dengan pengolahan menjadi produk kuliner yang memberi keuntungan. Pengolahan ikan menjadi produk kuliner akan memberi nilai tambah yang menguntungkan dibandingkan dijual dalam kondisi segar. Pesanan dari sejumlah toko oleh oleh membuat usahanya tetap berproduksi.
Pelaku usaha kuliner berbasis ikan bernama Susanti menyebut satu kilogram ikan bisa diolah menjadi dua kilogram bakso ikan. Selain bakso ikan ia membuat produk kuliner otak otak yang disajikan dengan cara dibakar dan disantap dengan kuah kacang. Olahan ikan menurutnya bisa meningkatkan nilai jual. Hasilnya varian olahan ikan bisa menjadi sumber usaha baru bagi warga.
“Selama ini ikan hanya diolah untuk digoreng, dipindang atau jenis olahan lain namun kini bisa jadi varian olahan lain sesuai kreasi,” paparnya.
Penjualan produk kuliner jenis otak otak menurut Susanti terbantu dengan menggeliatnya sektor pariwisata. Sebab kawasan Teluk Betung sebagai jalur wisata menuju ke Pesawaran jadi tempat persinggahan. Sejumlah wisatawan kerap memesan oleh oleh bakso ikan, otak otak, pempek ikan. Kebutuhan bahan baku ikan lancar sekaligus mendorong lancarnya usaha berbasis ikan yang ditekuninya.