AKU masih ingat , hari ketika ibu dan saudara-saudaranya berkumpul di rumah nenek, Uni Siti melarang kami bermain cak–cak-pi .
“Hush! Kalian duduk atau kuambil sapu di dapur!” Ia memelototi kami satu-satu. Sementara orang-orang dewasa lainnya sibuk berbincang tanpa mempedulikan kami sama sekali.
Karena masih kecil, aku tidak terlalu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan pada pertemuan malam itu. Yang jelas mamak Tando kulihat berkali-kali menunjuk ke langit-langit dengan gemeretak gigi menahan marah.
Entah apa yang membuatnya marah. Sementara ibu dan etek Jariah terlihat murung. Dan nenek, seperti beberapa hari sebelumnya, tetap tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Sepanjang pertemuan hingga akhirnya diputuskan hari yang tepat untuk membongkar rumah gadang nenek, beliau kulihat terus saja mengunyah sirih dengan gerakan yang sangat pelan, lalu meludah ke cawan perunggu yang akan selalu kau jumpai berada di sampingnya.
“Kenapa rumah nenek harus dibongkar?” Iman, kakakku yang terpaut usia dua tahun denganku bertanya pada Ibu begitu kami pulang malam itu.
Ibu menghela napas panjang. “Ya, karena sudah saatnya dibongkar,” ia menjawab sekenanya.
“Rumah nenek masih bagus…” Kakakku menimpali, seakan tak puas dengan jawaban yang diberikan Ibu. Atau bisa jadi ia tahu belaka bahwa Ibu berbohong.
Rumah nenek memang masih sangat bagus dan kokoh. Tiang-tiangnya masih terlihat gagah dan licin. Dindingnya masih kuat, dan meski ada beberapa bagian yang dimakan rayap, tetap belum perlu diganti.
Ukiran-ukiran dengan warna menyala yang menghiasi dinding di bawah jendela bagian luar tampak masih rancak. Kami, maksudku aku, Iman dan cucu-cucu nenek yang lain, suka sekali bermain kejar-kejaran di rumah nenek dan jelas lantai kayunya terbukti kuat menopang semua beban yang ada.
Bahkan kandang yang berada di bawah rumah nenek pun tampak sangat terawat. Ayam, itik dan kerbau yang menghuni bagian bawah rumah itu sepertinya juga masih sangat nyaman dengan dinding anyaman bambu yang menjadi pembatas bilik mereka dari dunia luar.
Butuh waktu lama bagi Ibu mencari jawaban yang tepat, hingga akhirnya ia berkata: “Rumah nenek dibangun di tanah bako . Bako nenek meminta tanah itu dikembalikan.”
Meski tak mengerti sepenuhnya penjelasan yang diberikan Ibu, aku tetap merasa sedih mendapati kenyataan bahwa rumah itu harus dibongkar. Bagiku yang masih belum masuk sekolah pada saat itu, alasan rasa sedih itu tentu lebih karena kami tak akan bisa lagi bermain kejar-kejaran di rumah nenek atau alasan-alasan lain yang akan terkesan sepele sekali jika dilihat dari kacamata orang dewasa.
***
SEHARI sebelum pembongkaran dilakukan, nenek sudah menempati sebuah bilik di rumah kami. Barang-barang keperluan nenek sehari-hari sudah dibawa serta.
Sementara perabotan, perkakas dan benda-benda lainnya akan dibawa pada hari orang-orang membongkar rumah nenek. Kecuali dipan kayu yang menjadi tempat tidur nenek. Ia tak mau pergi kalau dipan itu tak ikut dibawa. Katanya dipan itu dibuat sendiri oleh Angku Liman, almarhum kakek.
Kami, terutama anak-anak, senang sekali menyambut kehadiran nenek di rumah. Ia adalah perempuan tua yang sangat penyayang, terutama kepada kami cucu-cucunya.
Setiap hari pekan, kami para cucu akan menyambangi rumah nenek, dan ia akan selalu siap dengan sebuah kantong kecil dari kain perca di tangan. Kantong itu tentu saja berisi uang, dan ia akan membagikannya pada kami semua.
Pada waktu-waktu tertentu, ketika misalnya ada acara keluarga dan kami semua berkumpul di rumah nenek, ia akan memintaku atau cucu-cucunya yang lain untuk berkumpul mengelilinginya.
Ia lalu menjulurkan kakinya, dan tangan-tangan mungil kami berebutan memijit kaki nenek. Di akhir ritual itu, tentu saja adalah saat yang kami tunggu-tunggu. Nenek masuk ke biliknya, kemudian keluar dengan kantong kain perca di tangan.
Secara bergiliran, tangan kami yang tadi memijit kakinya akan dijejali lembaran rupiah dengan jumlah yang sama. Setiap minggu, secara rutin nenek akan mengolesi rambutnya dengan minyak kelapa. Dan ini adalah kesempatan lain bagi kami untuk mendapatkan uang dari nenek.
Biasanya yang mendapat tugas meminyaki rambut nenek adalah Uni Siti atau Uni Lis, sementara kami yang lebih kecil akan bersiaga di samping nenek, siap menunggu perintah apa pun dari beliau seperti mengambil sisir atau menambahkan minyak kelapa ke dalam kaleng – walaupun kami tahu bahwa nenek akan tetap memberi kami uang meski tak melakukan apa-apa.
Nenek juga suka mengajari kami memainkan canang . Begitu kami berkumpul, nenek akan mengeluarkan canang sembari mengajarkan kami cara memeriksa nada dan posisi penempatan canang yang benar. Ia akan memainkan satu lagu, lalu kemudian meminta kami secara bergantian menirukan permainannya.
Di antara kami, hanya Uni Fatiah yang bisa memainkan canang dengan baik. Selebihnya hanya bisa memukul-mukul kepala canang tanpa harmoni nada yang jelas. Nenek akan terkekeh-kekeh menyaksikan kami yang tidak berbakat menggerakkan tangan memainkan lagu sembari mengetuk-ngetuk canang.
Konon, dulu sewaktu muda nenek memang terkenal sebagai pemain canang yang sangat berbakat. Dan pertemuannya dengan kakek pun katanya tak terlepas dari kepiawaiannya memainkan alat musik pukul tersebut. Nenek dan kakek berasal dari kampung yang berbeda.
Nenek berasal dari Koto Rajo, sedangkan kakek adalah anak juragan kelapa dari Tanjung. Meski berdekatan, namun mereka tak pernah benar-benar saling mengenal satu sama lain. Hingga pada suatu hari, seorang tauke karet mengadakan pesta pernikahan anaknya di Koto Rajo.
Selain menampilkan atraksi silat dan randai, kemeriahan pesta tentu tak lengkap tanpa bebunyian canang dan gendang. Maka, nenek pun diminta untuk memainkan canang di rumah sang tauke. Di sanalah ia kemudian bertemu dengan kakek, yang tak lama setelah hari itu datang meminangnya ke Koto Rajo.
***
HARI ketika rumah nenek dibongkar, Ayah tak mengizinkanku ikut bersamanya ke Tanjung. Aku dan Iman disuruh menjaga nenek bersama Uni Siti.
“Apa kuburan kakek juga akan dibongkar?” Kudengar Iman bertanya pada Uni Siti begitu Ayah dan Ibu pergi dan kami kembali ke kamar nenek.
Kaget, Uni Siti menarik Iman menjauh dari sana, lalu menjewer telinga kakak laki-lakiku itu beberapa kali. “Iman, kamu tahu dari siapa soal kuburan kakek?”
“Jamin yang bilang. Katanya, Ibu yang meminta bantuan bapak Jamin untuk menggali kuburan kakek.”
***
KUBURAN kakek terletak persis di belakang rumah mereka di Tanjung. Kelak aku tahu bahwa kakek sendirilah yang memilih tanah di belakang rumah mereka sebagai tempat persemayaman terakhirnya, bukan di pandam kuburan di Guguak, tempat keluarga lain dikuburkan.
Dan ia pun berpesan agar nenek juga dikuburkan di sana nantinya. “Guguak terlalu jauh dari rumah. Aku ingin dikubur di belakang rumah saja. Biar aku selalu bisa melihat anak-anak dan cucu-cucuku.”
Tanah tempat kakek mendirikan rumah yang kemudian ia tempati bersama nenek dan anak-anaknya adalah tanah pemberian ayah kakek, Datuk Putiah. Di kampung saat itu, Datuk Putiah yang juragan kelapa memiliki tanah berbidang-bidang, yang pada saat ia akan meninggal ia bagi-bagikan secara merata kepada anak-anaknya.
Entah karena alasan apa, tanah yang mereka tinggali tak sempat dibuatkan sertifikat oleh kakek, dan ia hanya berpesan kepada kemenakannya agar tidak mengusik rumah dan tanah tersebut, lalu menyerahkan sejumlah uang kepada adik tertuanya, Liman, untuk membuatkan sertifikat tanah atas nama nenek. Namun, sepeninggal kakek, wasiat itu tak pernah terlaksana.
Cerita yang berbeda tentang tanah itu kami dengar dari keluarga kakek sendiri, yang disampaikan oleh Karanih, adik bungsunya. Ia mengatakan bahwa benar kakek berpesan kepada Nga Liman, tapi bukan untuk membuatkan sertifikat tanah atas nama nenek.
Nenek hanya diperbolehkan tinggal di tanah itu hingga semua anak-anaknya menikah. Setelahnya, secara adat tanah itu akan sepenuhnya kembali menjadi hak milik keluarga kakek. Dan nenek harus kembali ke Koto Rajo.
“Aku tak pernah mendengar cerita seperti itu!” Etek Jariah hampir saja berteriak begitu ibu menyampaikan kepadanya tentang alasan keluarga kakek meminta kembali tanah di Tanjung. “Karanih jelas mengada-ngada.”
“Tapi mereka punya sertifikat sah tanah tersebut. Apalagi yang bisa kita perbuat selain mengikhlaskan semuanya?” Ibu berusaha tenang.
“Sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa mengikhlaskan tanah itu menjadi hak milik mereka. Tak akan pernah…”
“Andai saja Nga Liman tidak mati muda. Ia pasti tak akan membiarkan Karanih mengambil tanah yang sudah diberikan Bapak.”
Mamak Tando, saudara laki-laki ibu satu-satunya, bahkan menantang Karanih untuk melakukan sumpah atas kesaksian yang ia berikan. Namun, nenek melarang.
“Biarkan mereka mengambil tanah itu,” tukasnya sambil terus mengunyah sirih.
Satu hal yang tidak diketahui nenek, yang kemudian menjadi sesal bagi Ibu dan saudara-saudaranya, adalah bahwa selain membongkar rumah gadang, Karanih juga meminta agar kuburan kakek dipindahkan dari sana. “Kami punya pandam di Guguak. Kenapa ia harus dikuburkan di sini?”
Dari orang-orang di kampunglah, jauh setelah hari itu, aku kemudian tahu bahwa kakek dan Karanih adiknya telah berseteru sejak lama.
“Mereka mencintai gadis yang sama. Gadis yang tangannya begitu lincah memainkan lagu-lagu canang. Pemuda mana yang tidak jatuh hati pada Mariani, nenekmu!”
Ketika akhirnya gadis yang ia cintai menikah dengan kakaknya, Karanih menyembunyikan dendam dan mengobati patah hati dengan pergi merantau ke Kuantan. Ia menjadi penderas getah di kebun-kebun karet hingga menikah dan memiliki anak di sana. Namun, sekian puluh tahun berlalu, dendam itu ternyata terus memanggang hatinya.
***
NENEK meninggal pada suatu pagi tak lama setelah rumah mereka di Tanjung dibongkar. Uni Siti yang tidur bersama nenek malam itu tak menyadari bahwa nenek sudah tidak ada. Selesai salat Subuh, ia melihat nenek duduk bersandar di ujung dipan kayu sambil memegang foto kakek, seperti yang sudah-sudah.
Barulah kemudian ketika Uni Siti kembali ke kamar dan membawa makan pagi untuk nenek, ia mendapati nenek tak lagi menyahut dan terus terpekur di ujung dipan. Uni Siti meraung.
Semula, Ibu ingin agar nenek dikuburkan bersebelahan dengan kakek di Guguak, dan untuk itu ia bersedia menemui Karanih dan anggota keluarga kakek lainnya untuk meminta izin.
Namun, ternyata tanpa diketahui anak-anaknya, nenek telah meninggalkan pesan pada Uni Siti kalau ia ingin dikuburkan di belakang rumah kami saja, bukan di Tanjung seperti yang dulu dipesankan kakek.
Selain itu, ia juga menyinggung soal kuburan kakek. “Nanti, kalau tak memberatkan, aku minta agar kuburan suamiku juga dipindahkan dari Tanjung ke sini. Ia pasti kesepian di sana. Jauh dari anak-cucunya.”
Seusai pemakaman nenek, Uni Siti bercerita kepada kami, “Sehari sebelum ia meninggal, nenek menyuruhku membawanya ziarah ke kuburan kakek. Ia tidak tahu kalau kuburan kakek sudah dipindahkan ke Guguak.” Uni Siti sesenggukan.
“Aku lalu ke rumah mamak Tando, dan bilang pada nenek kalau aku akan mengajak Ilis untuk membantuku membawa beliau ke Tanjung. Namun sebenarnya aku hanya ingin mengulur-ulur waktu.”
Dengan sebuah gerobak dorong, Uni Siti dan Uni Lis kemudian membawa nenek ke Tanjung. Tapi di tengah perjalanan tiba-tiba nenek meminta kembali ke rumah kami. Katanya ia sudah bertemu kakek di jalan, dan ia tak ingin nenek ke Tanjung.
***
PULUHAN tahun berlalu sejak kepergian nenek. Selama itu pula aku, Iman dan Uni Siti memilih untuk tidak menceritakan sepotong kisah tentang nenek yang hanya kami bertiga yang tahu.
Pada hari di saat orang-orang membongkar rumahnya, nenek yang saat itu masih kuat berjalan, meminta kami membawanya menemui Karanih di sawah tak jauh dari rumah Koto Rajo.
Laki-laki itu memang menghabiskan waktunya saban hari bekerja di ladang, sembari menggembalakan kerbau-kerbaunya di sana.
Begitu melihat laki-laki itu, nenek langsung berlari dan menempeleng Karanih berkali-kali. Kami bertiga sudah siap dengan kayu dan batu di tangan masing-masing, kalau-kalau Karanih membalas. Namun laki-laki itu diam saja. Rambutnya kusut diacak-acak nenek. Dan entah berapa kali siku nenek menghantam dada keringnya.
“Kau membenciku, Mariani?” laki-laki itu akhirnya bersuara, parau.
Nenek meludahkan ampas sirihnya. “Siapa yang tidak membencimu?”
Sore itu, kami kembali ke rumah dengan perasaan yang bercampur-aduk. Sementara wajah nenek tampak berseri-seri. Cantik sekali! ***
Catatan:
Cak cak pi: petak umpet.
Mamak: saudara laki-laki dari pihak Ibu (suku Minang).
Rumah gadang: rumah tradisional Minang.
Bako: sebutan untuk keluarga dari pihak ayah dalam adat Minang.
Canang: alat musik tradisional, biasa juga disebut talempong.
Pandam: lahan khusus yang digunakan untuk areal pemakaman, biasanya untuk satu suku atau keluarga.
Afri Meldam lahir pada 1987 di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menyelesaikan studi di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang. Hikayat Bujang Jilatang dan Take Off adalah dua bukunya yang sudah terbit. Mempublikasikan cerpen dan puisi di beberapa media lokal dan nasional. Kini menetap di Jakarta.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.