Produksi Gula Kristal DCML Cilongok Kebanjiran Order
Editor: Makmun Hidayat
BANYUMAS — Produksi gula kristal dari Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas sudah banyak mendapat pemesanan. Saat ini para pekerja sedang mengejar produksi 15 ton untuk memenuhi pesanan dari salah satu perusahaan di Cibitung, Jawa Barat.
Kepala Pengelola Dapur Komunal Gula Cilongok, Tri Riyanto mengatakan, gula kristal hasil produksinya merupakan gula organik, sehingga banyak dipesan oleh industri. Meskipun untuk bahan baku nasih dibeli dari para pengepul gula cetak di Cilongok, namun pihaknya selalu mengecek secara teliti kualitasnya.
“Dari pihak Yayasan Damandiri selaku pembina Koperasi Utama Sejahtera Mandiri Cilongok yang menaungi dapur komunal ini sudah berkomitmen untuk mengangkat komoditas gula kristal Cilongok, sehingga kita sangat menjaga kualiatas,” kata Tri Riyanto, Rabu (19/8/2020).
Lebih lanjut Tri Riyanto menjelaskan, saat ini industri pengolahan gula kristal organik sedang naik daun, karena kebutuhan pasar terus meningkat, Untuk penjualan, pihaknya mengemas per10 kilogram yang dijual dengan harga Rp 24.000.

Salah satu pekerja pengolahan gula kristal, Adit mengatakan, saat ini produksi gula kristal setiap harinya mencapai 500 kilogram. Untuk proses sortir, pengayakan hingga pengovenan, memakan waktu antara 4-5 jam. Lamanya proses pengovenan sangat bergantung pada kadar air dalam gula.
“Ada tiga pekerja yang memproduksi gula kristal ini, untuk pengayakan menggunakan mesin, begitu pula dengan proses pengovenan, sehingga tidak terlalu memakan waktu. Kita bisa memproduksi sampai 500 kilogram per hari,” tuturnya.
Proses pengovenan gula kristal ini sampai benar-benar kering, sehingga tidak perlu dijemur lagi. Karena tidak bergantung pada sinar matahari untuk proses pengeringan, maka produksi gula kristal ini juga tidak bergantung pada cuaca.
Adit sendiri sudah 6 bulan bekerja di pengolahan gula kristal, Sebelumnya ia bekerja di proyek dan memutuskan berhenti, beralih bekerja di dapur komunal. Menurutnya, banyak keuntungan yang diperoleh dengan bekerja di tempat tersebut, seperti pengetahuan dan ketrampilan dalam berbagai bidang.
“Walaupun saya di bagian produksi gula kristal, tetapi pada saat tertentu juga bisa ikut dalam kegiatan budidaya lele ataupun kambing, sehingga banyak pengetahuan yang saya peroleh di sini,” pungkasnya.
Dapur komunal sendiri merupakan konsep terpadu antara pertanian, peternakan dan pengolahan gula. Sehingga berbagai usaha berdampingan di lokasi tersebut dan semua pekerja direkrut dari warga lokal, karena tujuan pendirian pabrik sejak awal adalah untuk mengangkat ekonomi masyarakat Desa Cilongok.