Pesantren Penggerak Pemulihan Ekonomi Nasional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengatakan, pemerintah telah menganggarkan untuk penangganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi sebesar Rp 695,2 triliun.

Dari anggaran Rp 695,2 triliun tersebut dialokasikan sebesar Rp 123,47 triliun untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

“Anggaran digulirkan Rp 123,47 triliun, ini karena pemerintah mengutamakan UMKM yang mempunyai peran besar terhadap pertumbuhan perekonomian nasional,” kata Iskandar pada webinar bertajuk ‘Edukasi dan Literasi Keuangan Syariah’ yang digelar BNI Syariah, Jumat (7/8/2020).

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, jelas dia, UMKM bisa menyerap tenaga kerja sebesar 97 persen. Sedangkan dari aspek kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, UMKM menyumbang 61,7 persen.

“UMKM berperan menjadi motor penggerak utama dalam roda ekonomi nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, bahwa pesantren adalah salah satu motor utama dalam menggerakkan UMKM di seluruh Indonesia.

Apalagi disadari negara Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia, tentu mempunyai potensi besar di dalam bidang UMKM.

Dengan jumlah pesantren yang besar, maka pesantren ini dijadikan sebagai salah satu program prioritas oleh pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

“Karena di pesantren rode model-nya bisa menggerakkan roda ekonomi kita. Kemenko Perekonomian telah mengembangkan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah berbasis klaster UMKM dan pondok pesantren,” ungkapnya.

Kemenko Perekonomian telah bekerja sama dengan Pusat Inkubasi Bisnis Syariah Majelis Ulama Indonesia (Pinbas MUI) dalam pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah klaster UMKM dan pondok pesantren.

Program yang telah sukses dikembangkan dalam UMKM meliputi 9 klaster yaitu coklat, beras organik, bawang putih, kacang tanah, kopi dan jagung, tanaman obat, nanas, serta domba dan kambing.

Sedangkan klaster berbasis pondok pesantren, menurutnya, peranannya sangat besar dalam mendukung perekonomian nasional.

“Peran pesantren sangat potensial dari 28.194 ribu pesantren setidaknya 44 persen punya potensi di bidang perikanan, peternakan dan perkebunan yang menjadi penggerak motor ekonomi secara nasional,” ungkap Iskandar.

Dalam mendukung pesantren, menurutnya, pihaknya juga telah membangun Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP). Contohnya, kata dia, adalah BUMP Santri Kapulaga Berkah Pangandaran, Jawa Barat, yang membina 6.000 petani produksi 10 ton kapulaga per bulan dengan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Selain itu, BUMP Santri Cahaya Abadi Petani, yang membina kelompok tani beranggotakan 26 petani, dalam budidaya sapi.

“Itulah wujud pemberdayaan masyarakat oleh pondok pesantren. Jadi bukan hanya aspek ekonomi pesantren yang kita sentuh, tapi pesantren juga harus memberdayakan masyarakat di sekitarnya,” pungkasnya.

Lihat juga...