KPU Berharap Tragedi Hendry Jovinski di Papua tak Terulang

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Ilham Saputra, menyatakan harapannya akan adanya perlindungan terhadap para petugas KPU yang lebih maksimal, terutama di wilayah yang sedang menggelar pilkada. Hal ini untuk menghindari supaya tragedi yang menimpa Hendry Jovinski, staf KPU Yahukimo, Papua yang dibunuh dengan kejam tidak terulang lagi.

“Kita sudah koordinasi dengan pihak kepolisian, meminta supaya KPU dibantu dalam menjalankan tugas, terutama petugas KPU yang sedang menjalankan tahapan pilkada di daerah-daerah. Karena tingkat eskalasi politik meningkat saat menjelang pilkada, sehingga petugas kami perlu ada jaminan kemananan dalam menjalankan tugas,” kata Ilham, usai mengunjungi keluarga almarhum Hendry Jovinski di Desa Kedungmalang, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jumat (21/8/2020).

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Ilham Saputra di Banyumas, Jumat (21/8/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Menurut Ilham Saputra, pihak keamanan wajib memberikan pengawalan dan memastikan petugas KPU aman dalam menjalankan tugas, tidak ada intervensi dari pihak mana pun dan tidak ada tindak kekerasan yang mengancamnya.

Lebih lanjut Ilham menjelaskan, KPU seluruh Indonesia berduka atas peristiwa yang menimpa almarhum Hendry Jovinski. Dan, sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga yang ditinggalkan, KPU RI memberikan tali asih untuk keluarga sebesar Rp260 juta. Dana tersebut dikumpulkan dari seluruh anggota KPU yang tersebar di berbagai wilayah.

“Kita mengumpulkan donasi dari anggota KPU seluruh Indonesia, untuk diberikan kepada keluarga almarhum, sebagai bentuk simpatik kami kepada keluarga staf KPU yang meninggal saat sedang menjalankan tugas,” katanya.

Terkait perkembangan penyelidikan kasus pembunuhan terhadap Hendry Jovinski ini, Ilham mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib. Namun, harapan keluarga besar KPU, pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya yang sudah menghilangkan nyawa orang lain.

Sementara itu, ibu almarhum, Vivin Monika (53) mengatakan, sejak meninggalkan Hendry, perhatian dari KPU sangat besar, mulai dari KPU Banyumas hingga KPU pusat. Hendry sendiri merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan sejak bekerja di KPU, ia menjadi tulang punggung keluarga.

“Anak saya ini tulang punggung keluarga, saya single parent dan adik Hendry masih sekolah,” tutur Vivin.

Hendry bekerja sebagai staf KPU Yahukimo, Papua sejak April 2019. Ia sempat pulang beberapa kali dan selalu rutin menghubungi ibunya setiap dua hari sekali melalui telepon. Sejak awal diterima bekerja di KPU, Hendry memang sudah berkeinginan untuk ke Papua, karena tertarik dengan keindahan alam di sana.

“Anak saya ini masih muda dan polos, saya sedikit menyesalkan kurangnya breafing atau pembekalan di awal terkait kondisi tidak aman di sana, supaya anak saya lebih paham dan waspada,” pungkasnya.

Lihat juga...