KKP Mulai Gerakan Adopsi Penyu dari Raja Ampat
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Aryo Hanggono menegaskan bahwa Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) memulai gerakan adopsi tukik atau penyu yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat bentuk pemberdayaan di tengah Pandemi Covid-19.

Gerakan adopsi tukik tersebut dimulai di Pantai Warebar, Kampung Yenbekaki, Raja Ampat, wilayah setempat diketahui secara aktif telah melakukan pelestarian dan perlindungan penyu.
“Gerakan ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat Kampung Yenbekaki untuk terus melestarikan penyu dan dapat juga dimanfaatkan untuk promosi wisata berbasis konservasi dengan melibatkan wisatawan ke depannya,” ujar Aryo di Jakarta (19/8).
Dikatakan, pelestarian penyu secara umum telah dilakukan oleh pemerintah dengan menetapkan status perlindungan nasional bagi spesies ini dan telah menerbitkan Surat Edaran No. SE 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, atau Produk Turunannya.
“KKP juga telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu Periode 1 Tahun 2015-2020 untuk mengintegrasikan dan meningkatkan kerjasama berbagai pihak dalam upaya perlindungan penyu di Indonesia,” ungkapnya
Diketahui sebelumnya KKP melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Wilayah Kerja Raja Ampat melepasliarkan 85 ekor tukik penyu di Pantai Warebar, Kampung Yenbekaki, Raja Ampat. Pelepasliaran tukik tersebut menandai dimulainya gerakan adopsi Tukik secara swadaya oleh masyarakat.
Puluhan ekor tukik yang dilepasliarkan terdiri dari 80 ekor tukik penyu belimbing dan 5 ekor penyu lekang. Penyu tersebut sebelumnya telah diadopsi oleh para peserta kegiatan dengan cara memberikan biaya adopsi tukik sebesar Rp5.000 per ekor.
Kepala BKKPN Kupang Ikram M. Sangadji menyampaikan, pengembangan wisata berbasis konservasi seperti ini perlu didukung karena selain dapat melestarikan biota dilindungi yaitu penyu, juga dapat memberikan pendapatan lebih untuk masyarakat di tengah pandemi Covid-19.
“Pengembangan wisata berbasis konservasi ini sangat positif dan perlu didukung pemerintah,”jelas Ikram.
Dia menegaskan kegiatan pelestarian penyu akan berjalan lebih efektif jika mampu melibatkan masyarakat lokal sekaligus memberikan dampak positif bagi mereka dengan meningkatkan pendapatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19.
Menurutnya di Kampung Yenbekaki sendiri sudah cukup lama melaksanakan program konservasi terhadap spesies penyu yang bekerjasama dengan LSM lokal. Program konservasi penyu yang dilakukan berupa penangkaran telur penyu secara sederhana oleh Kelompok Konservasi Penyu Belimbing “KUMEP” Kampung Yenbekaki.
“Masyarakat sadar bahwa konservasi penyu perlu dilakukan di wilayah mereka karena secara geografis Kampung Yenbekaki termasuk dalam alur perlintasan dan lokasi peneluran penyu di Distrik Waigeo Timur, Kabupaten Raja Ampat,” terangnya.
Beberapa jenis penyu yang naik dan bertelur di Pantai Warebar Kampung Yenbekaki, lanjut dia antara lain Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate), Penyu Hijau (Chelonia mydas), dan Penyu Tempayan (Caretta caretta) yang merupakan 5 (lima) dari 6 (enam) jenis penyu yang ada di Indonesia.
Ia berharap dukungan dari berbagai pihak dan pembinaan yang berkelanjutan kepada masyarakat maka kampung Yenbekaki dapat menjadi objek wisata berbasis konservasi baru di Kabupaten Raja Ampat.
Pelepasliaran tukik dilakukan bersama dengan beberapa instansi pemerintah dan stakeholder pemerhati konservasi di Kabupaten Raja Ampat antara lain PSDKP Tual wilayah kerja Raja Ampat, BBKSDA seksi wilayah 1 Waisai, Dinas Perikanan Kabupaten Raja Ampat dan NGO Fauna Flora International Indonesia Program Raja Ampat.