Habib Luthfi Ajak Belajar Persatuan dari Air Laut

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Ulama Jawa Tengah yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, mengajak bangsa Indonesia untuk belajar persatuan dari air laut. Di mana berbagai macam limbah yang masuk, tetap tidak mampu menggoyahkan jati diri air laut.

Menurutnya, di Indonesia terdapat banyak sekali anak sungai, baik besar ataupun kecil. Setiap saat ada jutaan kubik air limbah masuk ke laut melalui anak sungai tersebut. Namun, semua limbah yang masuk tersebut tetap tidak mampu mengubah rasa air laut yang asin.

“Air laut ini mempunyai jati diri yang sangat kuat, limbah yang menyerbu disingkirkan bersama-sama, dihempaskan ke pantai. Dan sebagai bangsa yang besar, seharusnya bangsa Indonesia harus mempunyai pendirian dan jati diri lebih kuat dari air laut. Berbagai macam hoaks ataupun hal-hal yang berpotensi memecah-belah bangsa ini, harus mampu disingkirkan dengan persatuan dan kesatuan yang kuat,” kata Habib Lutfi dalam acara silaturahmi kebhinekaan dan doa bersama yang berlangsung di Mapolresta Banyumas, Senin (24/8/2020).

Slogan Indonesia Tanah Airku, Indonesia Tanah Tumpah Darahku, lanjutnya, harus terus dipupuk dan diperkuat untuk memperkokoh persatuan dan kebhinekaan bangsa. Terlebih bangsa ini juga mempunyai ideologi Pancasila, sehingga harusnya mampu menjaga persatuan dan kebhinekaan dengan baik.

Silaturahmi kebhinekaan dan doa bersama di Mapolresta Banyumas dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, Senin (24/8/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Kebhinekaan bangsa Indonesia tercermin dalam semua aspek kehidupan. Habib Lutfi mencontohkan, permainan rebana yang ditampilkan oleh anggota TNI dan Polri dalam acara tersebut juga merupakan gambaran kebhinekaan. Di mana berbagai alat musik yang berbeda, dimainkan secara berbeda pula, namun mampu menghasilkan lagu yang indah.

“Alat musiknya berbeda-beda, ada kendang, ada terompet dan lainnya, memainkan not lagu yang berbeda pula, namun kesatuan dari perpaduan perbedaan tersebut bisa menghasilkan lagu yang indah, itulah kebhinekaan, akan menjadi indah jika saling menghargai dan tidak saling intervensi,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, ulama besar ini juga mengajak bangsa indonesia untuk selalu bersyukur dan menjadikan momentum hari kemerdekaan, 17 Agustus untuk memperbanyak rasa syukur. Generasi muda juga harus memahami dan menghargai jerih payah para pejuang yang sudah merebut kemerdekaan. Dan generasi sekarang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pemahaman kepada generasi penerusnya.

“Tuhan menciptakan alam semesta ini berawal dari dua sejoli, Adam dan Hawa, kemudian lahirlah suku bangsa, lahirlah bangsa-bangsa di dunia ini. Jika semua bangsa menyadari hal tersebut, bahwa keberadaan bangsa-bangsa merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa, maka tidak akan tumbuh sikap saling intervensi, semua saling menghargai dan dunia ini akan aman,” katanya.

Sementara itu, Kapolda Jateng, Irjen Pol Ahmad Lutfi menyampaikan akan bahaya sikap intoleransi, di mana semua hal yang berbeda dipandang sebagai musuh. Menurutnya, sikap tersebut akan memunculkan radikalisme yang menjadi bibit-bibit tumbuhnya terorisme.

“Karena itu, tetap jaga toleransi dalam kebhinekaan yang kita miliki, sebab kebhinekaan tersebut merupakan salah satu kekayaan bangsa ini yang tak ternilai,” pungkasnya.

Lihat juga...