Budidaya Vanili, Rumit Tapi Bernilai Ekonomis Tinggi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANYUMAS — Tanaman vanili di lokasi Dapur Komunal Cilongok, Kabupaten Banyumas saat ini sudah memasuki usia 1 tahun. Budidaya tanaman ini cukup rumit, karena harus dikawinkan secara manual. Namun, mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Kepala Pengelola Dapur Komunal Cilongok, Tri Riyanto di Cilongok, Senin (24/8/2020). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Kepala Pengelola Dapur Komunal Cilongok, Tri Riyanto mengatakan, tanaman vanili harus ditanam dengan disertai pohon peneduh seperti pokon Gamal. Jenis pohon tersebut memang sering digunakan sebagai pagar hidup dan peneduh.

“Jadi tanaman vanili tumbuh merambat pada batang pohon peneduh. Sehingga untuk penyiraman ataupun pupuknya sekaligus dua pohon,” terangnya, Senin (24/8/2020).

Lebih lanjut Tri Riyanto menjelaskan, hal yang paling sulit dalam budidaya tanaman vanili adalah dalam pengawinannya, karena harus dilakukan secara manual. Sebab antara putik dan benang sari letaknya berjauhan. Untuk menghasilkan buah, harus dikawinkan secara manual,

“Untuk pengawinannya dilakukan saat pohon sudah berusia minimal 3 tahun dan waktu pengawinan juga ada jam tersendiri, yaitu antara pukul 06.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB,” katanya.

Sebanyak 4.000 lebih bibit tanaman vanili didatangkan dari Taman Buah Mekarsari. Lahan untuk menanam kurang lebih seluas 2.000 meter persegi.

Sementara itu, salah satu petani yang memelihara tanaman vanili di Dapur Komunal Cilongok, Arif mengatakan, ia membuat dua jenis penanaman sebagai percobaan. Yaitu separuh tanaman hanya menggunakan pohon peneduh dan yang sisanya menggunakan pohon peneduh serta penutup jaring di atas tanaman. Sejauh ini, tanaman vanili lebih cepat tumbuh pada lahan yang dilengkapi dengan jaring peneduh.

“Tanaman vanili ini memang tidak bisa terkena panas matahari yang berlebihan, sehingga yang dilengkapi dengan jaring peneduh tumbuh-kembang tanaman relatif lebih cepat dibanding dengan yang hanya menggunakan pohon peneduh,” jelasnya.

Meskipun terbilang rumit, namun tanaman vanili mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Untuk satu kilogram valini basah harganya mencapai Rp 400,.000. Dan apabila dijual dalam kondisi kering, harganya bisa mencapai Rp 2 juta per kilogramnya.

Butiran vanili terdapat dalam buah yang bentuknya menyerupai buncis, Jika dibuka, dalam buah tersebut terdapat butiran vanili yang kondisinya masih basah. Sehingga jika menginginkan penjualan dengan harga yang maksimal, maka harus dikeringkan terlebih dahulu.

Dari kejauhan, tanaman vanili terlihat hanya berupa batang pohon peneduh, sebab tanaman tersebut tumbuh merambat dan melilit pada batang pohon. Tanaman vanili merupakan investasi dalam jangka panjang, sebab untuk panen perdana dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun.

Lihat juga...