Berburu Enceng Gondok untuk Bahan Baku Kerajinan
Editor: Makmun Hidayat
YOGYAKARTA — Meski telah berusia 82 tahun, Mbah Salam nampak masih begitu cekatan memotong batang-batang enceng gondok yang memenuhi permukaan saluran irigasi di sepanjang sisi Jalan Raya Dendels, Bugel, Wates, Kulon Progo.
Begitu mendapatkan batang dari tanaman air mengapung tersebut, Mbah Salam lantas membawanya ke tepi selokan. Bertumpuk-tumpuk batang enceng gondok yang seharian telah ia kumpulkan, terlihat berjejer menunggu untuk dijemur.
Mbah Salam merupakan salah satu dari warga Kulon Progo yang berprofesi sebagai pencari batang enceng gondok. Setiap hari ia mencari batang enceng godok dengan cara menceburkan diri ke dalam selokan atau saluran irigasi yang penuh dengan tanaman liar tersebut.
Sejak 20 tahun silam, Mbah Salam sudah terbiasa mencari batang enceng gondok untuk dijual sebagai bahan baku kerajinan. Batang enceng gondok yang telah kering biasa ia jual kepada para pengrajin di wilayah Kulon Progo Bantul hingga Sleman untuk dibuat menjadi kerajinan tas bahan alam.
“Sudah sekitar 20 tahun lebih saya mencari enceng gondok untuk menambah pemasukan. Apalagi di sini banyak sekali tersedia enceng gondok. Daripada mengotori selokan, biasanya warga mengambilnya untuk kemudian dijual,” katanya, Senin (24/8/2020).
Meski bukan pekerjaan utama, Mbah Salam mengaku bisa mendapatkan pemasukan yang cukup lumayan dari hasil pekerjaannya itu. Hal itu tak lepas karena semakin langkanya keberadaan tanaman enceng gondok di wilayah Kulon Progo saat ini.
Dalam sehari Mbah Salam mengaku bisa mendapatkan 4-5 ikat batang enceng gondok basah. Setelah dijemur selama kurang lebih satu minggu, 4 ikat batang enceng gnodok tersebut biasanya akan menyusut menjadi 20 kilogram enceng gondok kering.
Sementara itu satu kilogram batang enceng gondok kering saat ini laku dijual Rp7ribu. Sehingga jika dalam sehari ia bisa mendapatkan 20 kilogram enceng gondok kering, maka ia pun bisa mengantongi pemasukan hingga mencapai Rp140ribu setiap harinya.
“Sampai saat ini masih ada saja orang yang membutuhkan enceng gondok sebagai bahan baku pembuatan kerajinan. Walaupun ada virus corona, namun permintaan tetap stabil. Kemarin saya bahkan baru saja mengantar pesanan enceng gondok ke Gunungkidul,” katanya.
Meski terus diambil sebagai bahan baku pembuatan kerajinan, namun menurut Mbah Salam, tanaman enceng gondok yang ada di selokan sepanjang Jalan Dendels desa Bugel tak pernah habis. Hal itu disebabkan karena pertumbuhan tanaman enceng gondok yang sangat cepat.
Salah satu kendala yang mungkin dihadapi Mbah Salam maupun pemburu enceng gondok lainnya adalah ketika puncak musim kemarau panjang yang membuat air selokan mengering. Sehingga tanaman enceng gondok pun akan ikut mati.
“Selain itu ya kalau musim hujan, karena kita jadi tidak bisa menjemur enceng gondok. Padahal pengeringan enceng gondok ini sangat mengandalkan sinar matahari,” pungkasnya.