Warga di Banyumas Mulai Jenuh dengan Situasi Pandemi

Editor: Koko Triarko

Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Whisnu Caraka di Mapolresta Banyumas, Minggu (26/7/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

PURWOKERTO – Selama empat bulan lebih menjalani kehidupan di tengah pandemi Covid-19, kejenuhan mulai dirasakan berbagai kalangan, hingga memunculkan beragam opini tentang Covid-19. Salah satunya, bahwa virus itu akan mati dengan sendirinya dihabisi oleh antibodi tubuh, sehingga tidak perlu khawatir berlebihan.

Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Whisnu Caraka, mengatakan di tengah kejenuhan yang memuncak, masyarakat membutuhkan informasi yang benar dan akurat tentang Covid-19. Hal tersebut penting untuk mengindari adanya salah informasi yang bisa berdampak fatal.

“Masyarakat kita sekarang ini terbagi dua, ada yang masih tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan dan berharap pandemi ini segera selesai, dan ada yang sudah mencapai titik jenuh, sehingga memunculkan opini yang beragam dan cenderung meninggalkan kewaspadaan,” kata Kapolresta, Minggu (26/7/2020).

Kejenuhan tersebut, lanjut Kapolresta, seringkali memunculkan tindakan yang tidak realistis. Misalnya, pada saat tertentu banyak orang berkumpul di pusat keramaian, seperti Alun-Alun Purwokerto, underpass dan tempat lainnya, padahal di lokasi tersebut tidak ada acara apa pun.

“Ada keramaian sedikit, orang langsung berbondong-bondong datang dan beberapa lokasi strategis di pusat kota seringkali dijadikan sebagai pusat kerumanan. Ini yang selalu kita antisipasi, karena itu kita terus menyebar anggota untuk membubarkan kerumunan-kerumunan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Sadiyanto, mengatakan munculnya anggapan virus akan hilang sendiri dihabisi oleh antibodi tidak sepenuhnya benar.

Ia menjelaskan, pada prinsipnya virus adalah self limited disease, bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, kita tidak tahu viral load-nya atau tingkat virulensi dalam tubuh yang bisa menyebabkan dampak terhadap kondisi kesehatan.

Menurutnya, makin tinggi tingkat virulensinya, makin berat infeksi dan dampaknya terhadap sisitem tubuh. Ditambah lagi jika ada risiko dan komorbid atau penyakit penyerta yang dimiliki seseorang. Maka, kondisinya akan menjadi parah dan berbahaya.

“Virulensi Covid-19 yang cukup untuk menginfeksi tubuh, bisa menyebabkan kesakitan atau manifestasi klinis. Virulensi Covid-19 yang ditambah faktor risiko dan kormobid penyakit lainnya, berpotensi menyebabkan manifestasi klinis, kesakitan hingga berujung pada kematian,” terangnya.

Sadiyanto menekankan, kelompok rentan dan yang daya tahan tubuuhnya kurang bagus, harus mendapat perhatian dan perlindungan penuh, supaya tidak sampai terpapar Covid-19.

“Jadi intinya, kita tetap harus selalu menerapkan protokol kesehatan di tengah kejenuhan ini, dan jangan sampai menganggap remeh penyebaran virus selama masa pandemi ini,” pungkasnya.

Lihat juga...