Sapi Limousin Masih jadi Primadona Hewan Kurban

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Sapi jenis limousin masih menjadi primadona, bagi masyarakat yang ingin berkurban. Bentuk tubuhnya yang besar, panjang, dan padat, membuat sapi ini terlihat perkasa. Hal ini yang menjadi daya pikat bagi masyarakat, untuk memboyong sapi limousin menjadi hewan kurban.

Dengan berat tubuh yang sama, harga sapi limousin pun tidak terlalu jauh berbeda dengan jenis sapi lainnya, seperti sapi simental, brahma atau sapi bali, yang kerap menjadi pilihan saat hari raya Iduladha.

Hal tersebut diakui Budiman, salah seorang penjual hewan kurban yang membuka lapak dagangan di seputar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang.

Salah satu pedagang hewan kurban, Budiman (baju biru), saat mengecek sapi-sapi limousin yang dijualnya, di lapak sekitar MAJT Semarang, Kamis (23/7/2020). Foto: Arixc Ardana

“Tahun ini saya bawa sebanyak 20 ekor sapi limousin, harga rata-rata sekitar Rp 25 juta per ekor, dengan berat antara 400 – 500 kilogram. Memang sengaja tidak membawa yang ukuran besar hingga satu ton, biar cepat laku,” paparnya di Semarang, Kamis (23/7/2020).

Diakuinya, minat masyarakat untuk berkurban khususnya dengan sapi limousin masih tinggi, terbukti sejak awal Juli 2020 lalu dirinya membuka lapak, sudah berhasil menjual sebanyak delapan ekor.

“Nanti menjelang 3-4 hari sebelum Iduladha, biasanya menjadi puncak penjualan. Kalau nanti stoknya habis, bisa minta dikirim lagi. Ini juga menyesuaikan kebutuhan dan daya tampung kandang lapak,” terangnya.

Budi menuturkan, meski struktur pertulangannya besar, sapi limousin tetap memiliki daging yang melimpah karena badannya yang juga besar.

“Jumlah dagingnya banyak, karkas tinggi, sehingga bisa dibagikan kepada lebih banyak penerima daging kurban. Selain itu, dari segi kualitas daging, juga lebih baik karena mengandung sedikit lemak,” tambahnya.

Hal serupa juga disampaikan Hartoyo, pedagang hewan kurban lainnya, yang ada di sekitaran MAJT Semarang. “Peminat sapi limousin masih tetap ada. Dibanding tahun lalu, hampir sama. Sampai sekarang, saya sudah menjual lima ekor sapi jenis limousin, dengan harga antara Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per ekor. Beratnya sekitar 400 hingga 600 kilogram,” ungkapnya.

Selain limousin, dirinya juga memiliki jenis sapi yang lain. “Namun seringnya nyari yang limousin, terutama kalau yang beli bukan perorangan tapi perwakilan instansi, perguruan tinggi atau yayasan,” terangnya.

Dipaparkan, dari lima ekor sapi limousin yang dijualnya, tiga diantaranya dibeli oleh instansi pemerintah, sisanya masing-masing dibeli oleh lembaga perguruan tinggi.

“Sapi-sapi yang sudah dibeli ini, masih kita rawat, nanti dikirimkan sehari jelang hari raya. Ini juga menjadi bagian dari layanan. Perawatannya ini gratis, termasuk makan minum hingga biaya pengiriman ke lokasi di wilayah Semarang,” tambahnya.

Terpisah, salah seorang konsumen, Ahmad Ripai yang juga Humas Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) mengaku jika tahun ini, pihaknya juga kembali akan menggelar penyembelihan hewan kurban.

“Pilihan hewan kurbannya, termasuk sapi limousin. Ini tidak lepas dari jumlah penerima daging kurban dari UPGRIS yang cukup banyak, sehingga dibutuhkan hewan kurban yang besar. Pilihannya ke sapi jenis limousin,” terangnya.

Jika dilihat dari tahun lalu, pihaknya membagikan lebih dari 800 kantong daging kurban. “Pada Iduladha 2020 ini, jumlahnya mungkin bisa lebih. Jadi memang diperlukan hewan kurban yang cukup banyak, termasuk sapi limousin,” pungkasnya.

Lihat juga...