Omzet Pedagang Kuliner di Jalinsum Mulai Meningkat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pedagang kuliner di sepanjang Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) mulai mengalami peningkatan omzet, seiring diberlakukannya new normal.

Desianti, pemilik warung tenda biru di KM 69 Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, mengatakan, sejak awal April ia mulai mengalami penurunan jumlah pelanggan, puncaknya pada awal Mei hingga Juni.

Aktivitas usaha kuliner yang buka sejak sore hingga dini hari mengandalkan pengendara asal Sumatra tujuan Jawa. Sejumlah pengendara travel, bus dan truk yang sempat berhenti operasi ikut menurunkan omzet. Kini, ia mulai stabil melayani kuliner pecel lele, ayam, bebek dan nasi goreng serta makanan lain.

Dampak pandemi Corona atau Covid-19 menurut Desianti terlihat dari jumlah stok makanan yang dijual. Saat kondisi normal dalam semalam ia bisa menjual sekitar 20 kilogram nasi, 10 kilogram lele, 5 kilogram daging bebek dan 15 kilogram daging ayam. Sejak Covid-19, ia menjual hanya setengahnya, imbas pengendara tidak ada yang melintas.

“Mudik lebaran Idulfitri tidak ada, operasional bus dihentikan dan perjalanan butuh syarat kesehatan, sehingga pengendara berkurang, sejak akhir Mei usaha kuliner mulai bergeliat, meski belum pulih sepenuhnya,” terang Desianti, saat ditemui Cendana News, Sabtu (18/7/2020) malam.

Dibukanya akses perjalanan darat dan laut ikut berdampak positif bagi usaha kuliner miliknya. Sempat hanya mendapat omzet ratusan ribu per malam, kini ia bisa mengantongi uang minimal Rp2juta per malam. Beroperasinya sejumlah travel dan warga yang mulai beraktivitas dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, mendorong kenaikan penjualan kuliner.

Sebagian pembeli kuliner pecel lele, ayam, bebek dan nasi goreng kerap makan di tempat. Konsumen yang makan di tempat didominasi pengendara travel trayek Rajabasa ke pelabuhan Bakauheni. Namun, sebagian masyarakat di wilayah tersebut memilih membeli makanan untuk dibungkus. Ia bahkan melayani pemesanan via telepon yang diantar ojek.

“Kondisi sudah kembali normal, warga yang keluar sebagian memakai masker dan kami siapkan tempat cuci tangan,” cetusnya.

Pedagang kuliner lain, Sugiarto dan Yayuk, yang menjual mie tek-tek mengaku kondisi berangsur pulih. Saat pandemi Covid-19, masuk bulan pertama, ia memilih tidak berjualan. Masuk bulan Mei hingga Juni, ia tetap berjualan, meski setiap malam omzet yang diperoleh terbatas. Sempat menjual 100 porsi per malam, ia pernah menjual hanya 20 porsi per malam.

“Banyak warga yang enggan keluar, karena takut Covid-19, imbasnya pelanggan berkurang,” bebernya.

Menjual mie tek-tek rebus dan goreng dengan harga Rp10.000, ia bisa mendapat omzet Rp1juta per malam. Dan, menghabiskan sekitar dua kilogram telur ayam dan sepuluh kilogram mie kuning. Memasuki masa adaptasi kenormalan baru, ia melihat masyarakat mulai berani melakukan aktivitas, terutama saat akhir pekan.

Saat akhir pekan, lokasi berjualan miliknya dekat di gedung serba guna sarana olah raga Badminton. Sempat hanya mendapat omzet kurang dari Rp400ribu per malam, kini ia bisa kembali mendapat omzet mendekati Rp1juta.

Kuliner mie tek-tek dengan bumbu rempah yang pedas dilengkapi sayuran dan telur, menurutnya banyak dicari warga untuk menghangatkan tubuh kala malam hari.

Selain memiliki pelanggan masyarakat di sekitar Kecamatan Penengahan, ia juga melayani pekerja sektor informal. Sejumlah tukang ojek dan buruh bongkar muat yang tetap bekerja hingga malam hari memilih mie tek-tek sebagai kuliner alternatif. Meski berjualan pada malam hari, lokasi berjualan di tempat strategis membuat usahanya memberinya omzet yang menjanjikan.

Lihat juga...