Martini Mengais Rezeki Iduladha dengan Jualan Tusuk Sate

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Bagi Martini, menjelang hari raya Iduladha, menjadi waktu yang tepat baginya untuk mencoba mencari rezeki dengan berjualan arang, tusuk sate hingga panggangan untuk membakar daging.

“Biasanya mulai ramai menjelang H-1, sampai tiga hari setelah Iduladha, karena masih banyak yang menyembelih hewan kurban. Biasanya mereka mulai beli kalau sudah dapat daging kurban,” papar penjual barang kebutuhan pembuatan sate tersebut di Pasar Jatingaleh, Semarang, Kamis (30/7/2020).

Dipaparkan, pada tahun lalu, dirinya mampu menjual sekitar 200 bungkus arang, ratusan tusuk sate hingga puluhan panggangan, dari berjualan selama lima hari.

“Ya sehari-hari, saya jualan sayur mayur, namun kalau jelang Iduladha seperti sekarang ini, saya coba mencari tambahan rezeki yang lain. Dengan jualan arang, tusuk sate sampai panggangan daging,” terangnya.

Namun, cerita indah tersebut, sepertinya sulit terulang untuk tahun ini. Pandemi Covid-19 yang tengah melanda, ditengarai menjadi penyebabnya.

“Baru mulai hari ini jualan, sudah ada yang beli, tapi belum banyak. Seharian ini baru 15 kantong kayu arang yang terjual, sementara kalau tusuk sate sekitar 10 ikat. Satu ikat isi 20 batang. Hari ini tidak banyak, mudah-mudahan besok sudah mulai ramai lagi, ” terangnya.

Meski berharap, namun Martini sadar, jika hewan kurban yang akan disembelih cenderung turun, juga akan berpengaruh pada pembelian barang kebutuhan pembuatan sate dan pembakaran daging. Hal tersebut diketahui dari cerita para pembelinya.

“Mereka, pembeli yang bilang, kalau hewan kurban sekarang sedikit. Kondisi ekonomi lagi turun gara-gara Corona,” tambahnya.

Di satu sisi, harapannya pun tidak terlalu muluk. “Meski sedang sepi, tapi mudah-mudahan barang dagangan saya tetap laku semua. Karena saya sudah men-stok cukup banyak. Untuk arang, ada sekitar 150 kantong, demikian juga dengan pemanggang ada 100, serta tusuk sate,” tambahnya.

Untuk sekantong arang dihargai Rp6 ribu, sementara tusuk sate Rp4 ribu – Rp5 ribu. Selain itu juga ada bumbu untuk bakaran sate Rp2.500 per plastik.

“Kalau pemanggang Rp25 ribu untuk ukuran besar, yang kecil Rp20 ribu,” tandas Martini.

Harapan serupa disampaikan Qomariah, yang juga berjualan di Pasar Jatingaleh, Semarang. Ibu dua anak ini juga pedagang tiban untuk perlengkapan pembuatan sate. Sehari-hari, dirinya bejualan bunga tabur.

“Mumpung lebaran kurban. Jadi, coba sekalian jualan perlengkapan pembuatan sate, tapi masih sepi pembeli. Padahal tahun kemarin, dua hari menjelang hari raya sudah ramai pembeli,” terangnya.

Meski sepi, dirinya tak putus harapan. Jika tidak habis sekarang, paling tidak barang-barang tersebut bisa dijual hingga beberapa bulan ke depan.

“Ini kan barang-barangnya tidak mudah rusak, jadi masih awet meski tidak laku sekarang. Namun doanya, mudah-mudahan habis terjual,” tandasnya.

Sementara, seorang pembeli tusuk sate dan arang, Narko, mengaku akan menggunakan bahan tersebut untuk pembuatan sate sesuai ibadah salat Iduladha.

“Rencananya mau dibuat sate kambing. Kebetulan tahun ini ada saudara yang kurban kambing, jadi tadi diminta untuk membelikan tusuk sate dan arang,” pungkasnya.

Lihat juga...