Warga Lamsel Gelar Takbir Iduladha di Masjid

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah jemaah masjid di wilayah Lampung Selatan, menggelar malam takbir tanpa pawai keliling. Hal demikian dilakukan, untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus penyebab Covid-19.

Nurkholis, ketua peringatan hari besar Islam (PHBI) masjid Miftahul Fallah, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut takbir yang kerap digelar dengan pawai hanya dikumandangkan di masjid. Langkah tersebut dilakukan saat pandemi Covid-19 mencegah kerumunan.

Kegiatan mengumandangkan takbir, sebut Nurkholis, dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Meski dilakukan takbir di dalam masjid, ia memastikan tidak mengurangi kekhusyukan untuk menyiapkan hari raya Iduladha.

Kumandang takbir dengan pengeras suara diiringi bedug yang ditabuh oleh anak-anak untuk menyambut hari raya kurban.

Omon Budianto (memeriksa bilik disinfektan) kepala dusun Sumbersari, Desa Pasuruan,Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, mempersiapkan masjid Al Istiqomah untuk salat Iduladha 1441 H, Kamis (30/7/2020). -Foto: Henk Widi

Nurkholis menyebut, peniadaan pawai keliling saat malam takbir telah dilakukan saat Idulfitri silam. Sebagian masyarakat yang beribadah di masjid Miftahul Fallah, hanya diperbolehkan warga sekitar. Menerapkan protokol kesehatan, jemaah yang akan beribadah wajib memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Di dalam masjid telah dipersiapkan tempat salat yang terpisah, dan di luar masjid telah disediakan bilik disinfektan sebelum masuk ke dalam masjid selama masa pandemi Covid-19 masih belum mereda,” terang Nurkholis, Kamis (30/7/2020) malam.

Pendisiplinan protokol kesehatan dalam kegiatan ibadah, menurut Nurkholis telah diterapkan sejak tiga bulan silam. Persiapan untuk pelaksanaan penyembelihan hewan kurban juga telah diatur sesuai protokol kesehatan. Para petugas telah menjalani rapid test bebas Covid-19. Pada malam takbir, menjadi pemantapan persiapan distribusi daging ke rumah penerima, menghindari kerumunan.

Omon Budianto, kepala dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, menyebut takbir keliling sengaja ditiadakan. Selain masa pandemi Covid-19, kegiatan takbir keliling tidak dilakukan menghindari terjadinya kecelakaan. Pada malam takbir, ia menyebut jemaah masjid Al-Istiqomah mempersiapkan protokol kesehatan.

“Kami telah menyediakan tempat cuci tangan, bilik disinfektan dengan cairan daun sirih dan pengaturan jarak jemaah,” terang Omon Budianto.

Pendisiplinan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19, menurutnya terus ditingkatkan. Sehari sebelum pelaksanaan salat Iduladha, pembersihan area masjid dilakukan. Sejumlah fasilitas untuk ibadah, seperti karpet dibersihkan dan lantai dipel. Setelah karpet dirapikan proses penyemprotan disinfektan dilakukan.

Setiap jemaah yang masuk masjid, diwajibkan membawa sajadah masing masing. Selama kegiatan takbir yang dikumandangkan di dalam masjid ia menyebut mikropon yang digunakan akan dilapisi dengan kain khusus. Kain tersebut akan dilepas, jika akan digunakan oleh jemaah lain. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kebersihan mikropon.

“Anak-anak yang akan melakukan takbir telah diimbau menjaga kebersihan dengan cuci tangan dengan sabun, dan memakai disinfektan,” tegasnya.

Peniadaan takbir keliling, menurut Omon Budianto sekaligus menghindari jemaah kontak dengan warga dari wilayah lain. Saat pelaksanaan salat Iduladha, i akan digelar hanya bagi jemaah yang berada di wilayah sekitar masjid. Salat Iduladha akan dilanjutkan dengan proses penyembelihan hewan kurban.

Sementara itu, pelaksanaan takbir yang dilakukan hanya di masjid, berimbas Jalan Lintas Sumatra terlihat lengang. Jalan yang kerap ramai oleh pawai takbir keliling di sepanjang Kecamatan Penengahan hingga Bakauheni, terlihat lengang.

Masjid Nurul Iman di dekat Menara Siger Bakauheni yang kerap menjadi pusat takbir keliling, terpantau menggelar takbir hanya di dalam masjid memakai pengeras suara.

Lihat juga...