Lamsel Memiliki Potensi Tinggi Sektor Perunggasan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Lampung Selatan (Lamsel) memiliki potensi pengembangan sektor perunggasan.

Drh. Arsyad, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamsel, menyebut, potensi tersebut didukung oleh lahan pertanian dan bahan pakan. Sebagai stimulan bagi para peternak unggas di Lamsel dikucurkan dana bersumber dari APBD untuk peternak.

Disnakeswan menurut Arsyad, mengusulkan anggaran sebesar Rp 4,1 miliar pada APBD 2020. Rincian anggaran sebesar Rp 2,4 miliar untuk pengembangan ternak ayam dan sebanyak Rp1,7 miliar untuk ternak itik. Program sektor unggas tersebut disebutnya menyasar pada sebanyak 169 kelompok peternak ayam dan 111 kelompok peternak itik.

Program  tersebut menurut Arsyad sebagai upaya memaksimalkan peluang potensi alam yang dimiliki Lamsel. Sebab sebagian peternak yang ada di Lamsel merupakan petani pemilik lahan dengan potensi sumber pakan melimpah. Petani padi sebutnya memiliki sumber pakan berupa bekatul atau dedak dan lahan sawah bisa untuk penggembalaan itik.

“Pengembangan unggas akan menyesuaikan dengan potensi alam yang ada sekaligus mendorong bangkitnya sektor perekonomian berbasis ternak terutama saat masa pandemi Covid-19 yang belum usai,” terang Drh. Arsyad, saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (27/7/2020).

Kelompok yang akan menerima permodalan dalam bentuk bibit unggas menurutnya harus terverifikasi. Sebab selama ini sebagian petani dan peternak memelihara ayam dan itik secara swadaya.

Verifikasi kelompok peternak unggas penerima  stimulus pengembangan ternak dilakukan agar tepat sasaran. Ia belum bisa merinci jatah bibit ternak yang akan diterima per kelompok.

Program  dari Pemkab Lamsel pada sektor perunggasan menurutnya akan memberi gairah bagi petani. Sebab budidaya unggas yang dikembangkan masyarakat jadi bagian upaya swasembada daging dan protein. Pengembangan ternak unggas sekaligus menjadi daya dukung bagi upaya pemerintah menekan angka gizi buruk atau stunting di Lamsel.

“Program pengembangan ternak selain untuk peningkatan ekonomi sekaligus untuk jangka panjang peningkatan kesehatan,” cetusnya.

Arsyad juga mendorong setiap keluarga yang memiliki lahan cukup bisa memelihara ayam dan itik. Jenis ayam yang bisa dikembangkan berupa ayam pedaging dan petelur. Hasil telur yang ada bisa digunakan untuk peningkatan gizi keluarga. Sebab Disnakeswan merupakan salah satu stakeholder dalam upaya intervensi meminimalisir stunting.

Pengembangan ternak itik juga akan dilakukan sesuai dengan kondisi kelompok. Pada wilayah yang berada di dekat sungai, rawa dan lahan persawahan itik petelur cocok dikembangkan. Hal yang sama dikembangkan untuk itik pedaging.

Nilai ekonomis ternak unggas penghasil telur dan daging bisa menghasilkan ratusan ribu per pekan dari telur dan jutaan rupiah dari daging.

“Peternak memiliki investasi jangka pendek dan jangka menengah dengan beternak itik dan ayam,” terang Arsyad.

Waris, petani sekaligus peternak itik petelur di Bandanhurip, Palas menyebut, lahan sawah di wilayah tersebut cocok. Sebab sumber pakan bisa diperoleh dari kanal sungai dan lahan persawahan usai panen. Lahan ribuan hektare yang menghasilkan bahan pakan berupa keong sawah, cacing, belut dan limbah panen berupa padi dan dedak.

“Saya mengembangkan ternak itik pedaging dan petelur yang bisa dijual kepada pengepul,” terang Waris.

Sebanyak 500 ekor ternak itik petelur menurutnya bisa menghasilkan ratusan telur setiap hari. Satu butir telur bisa dijual seharga Rp1.500 dan itik atau bebek bisa bertelur hingga maksimal usia lima tahun.

Setelah tidak produktif itik masih bisa dijual ke pemilik usaha kuliner seharga Rp30.000 per ekor. Potensi pengembangan itik cukup bagus karena lahan sawah yang luas.

Peternak lain bernama Suranto di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas menyebut itik pedaging dikembangkan swadaya. Ia menyebut kelompok miliknya belum mendapat subsidi.

Suranto (kanan) peternak bebek pedaging dan petelur di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, Lampung Selatan menggembalakan itik pada lahan persawahan, Senin (27/7/2020) – Foto: Henk Widi

Ia secara swadaya memelihara sebanyak 6000 itik pedaging dengan harga bibit Rp10.000. Selain itu sebanyak 1000 ekor itik pedaging. Jenis itik pedaging dan petelur menurutnya cukup menghasilkan.

Lahan sawah seluas ratusan hektare di desanya bisa dipakai sebagai lahan penggembalaan. Saat masa tanam ia akan mengandangkan itik untuk diberi pakan keong mas dan dedak.

Memelihara ternak itik pedaging bisa dijual seharga Rp35.000 per ekor dan telur Rp1.500 per butir. Budi daya ternak unggas menjadi sambilan selain pekerjaan bertani dan memelihara ikan air tawar.

Lihat juga...