Disdik Semarang: Guru Harus Inovatif dalam Penyampaian PJJ

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kadisdik Kota Semarang Gunawan Saptogiri saat ditemui di Semarang, Kamis (23/7/2020). Foto Arixc Ardana

SEMARANG — Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang Gunawan Saptogiri, mengakui pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi covid-19, banyak menemui kendala. Pihaknya menekankan guru harus lebih inovatif dalam penyampaian materi pembelajaran.

“Kita tidak memaksakan seluruh pembelajaran bisa dilakukan secara tuntas. Paling tidak 75 persen, materi sudah masuk dan tidak masalah. Kita akui, dengan PJJ pembelajaran tidak bisa dilakukan dengan maksimal, salah satunya karena keterbatasan waktu,” paparnya di Semarang, Kamis (23/7/2020).

Pihaknya lebih mendorong agar pembelajaran tersebut bisa disampaikan secara menarik dan inovatif. Terlebih kewenangan Disdik Kota Semarang, terbatas untuk jenjang TK, SD dan SMP sederajat.

“Misalnya mengajar siswa SD. Harus inovatif dan menyenangkan, jika tidak, justru siswa akan bosan, sehingga materi yang disampaikan tidak bisa diterima. Lewat inovasi itu, proses pembelajaran bisa menyenangkan anak dan juga tidak membosankan,” terangnya.

Tidak hanya itu, peran orang tua dalam pendampingan anak belajar di rumah juga diperlukan. Untuk itu, pihaknya berharap, ada komunikasi yang baik antara sekolah, yang diwakili guru dengan para orang tua murid, agar proses PJJ bisa maksimal.

“Jika ada keterbatasan kuota, atau siswa tidak memilki telepon genggam atau sarana lain yang mendukung PJJ, guru bisa memberikan tugas. Namun tugasnya juga inovatif, tidak hanya sekedar memberikan pekerjaan rumah (PR) berdasarkan buku materi. Inovasi ini kita tekankan,” tandasnya.

Gunawan memaparkan, kondisi pandemi yang terjadi saat ini dan Kota Semarang masih zona merah, pembelajaran belum bisa dilakukan secara tatap muka tapi dilakukan secara daring.

“Meskipun demikian, pembelajaran daring tetap akan kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Sehingga, untuk pembelajaran ini bisa dipenuhi dengan baik,” ucapnya.

Pihaknya juga sudah menyiapkan konten-konten baru untuk pembelajaran jenjang SD dan SMP, yang disertai inovasi baru.

“Misalnya di jenjang SMP, setiap mata pelajaran sudah mulai dibuat melalui media sosial seperti youtube, sehingga lebih memudahkan siswa,” terangnya.

Sementara, terkait kemampuan guru dalam pengusaaan teknologi informasi, diakuinya juga belum merata, namun sedikit demi sedikit sudah mulai lancar. “Kita dorong, para guru yang semula gagap teknologi , untuk bisa belajar. Apalagi pembelajaran secara daring ini sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Dengan pendampingan yang kita lakukan, mudah-mudahan PJJ bisa maksimal,” terangnya.

Terpisah, salah satu guru SD di Semarang, Kuncoro Puji, mengakui dirinya sempat terkendala saat pelaksanaan PJJ pada awal-awal penerapan. Namun seiring waktu, sudah bisa menyesuaikan. Termasuk berinovasi dalam penyampaian materi pembelajaran.

“Karena tidak semua siswa memiliki telepon genggam, dan masih bergantung pada orang tua, pembelajaran yang diberikan berdasarkan tugas, tetapi diupayakan tetap inovatif. Misalnya, dalam pelajaran pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, atau dulu dikenal dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),” paparnya.

Jika di sekolah pembelajarannya berdasarkan pengamatan pada buku teks, kini pengamatan dilakukan langsung di lingkungan masing-masing siswa. “Contohnya, kita beri tugas tentang ciri-ciri makhluk hidup. Siswa akan mengamati lingkungan mereka, ini kemudian disampaikan lewat video. Jadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan,” pungkas guru SDN Sumorboto Semarang tersebut.

Lihat juga...