Belum Sikapi Kelanjutan Liga, Persipura Klaim Tak Ingin Gegabah
JAKARTA – Manajemen Persipura Jayapura mengklaim tidak ingin gegabah, saat menyikapi kebijakan kelanjutan kompetisi Liga 1 Indonesia dari PSSI dan operator liga. Mereka mengaku memilih menunggu hingga ada kejelasan detail teknis penyelenggaraan kompetisi.
“Pada prinsipnya, kami tidak lebih dulu gegabah menentukan Homebase sebelum ada detail Protap (prosedur tetap) dari federasi selama pelaksaanaan kompetisi nanti,” ujar Sekretaris Umum Persipura, Rocky Bebena, Senin (27/7/2020).
Persipura menjadi satu-satunya tim yang memang belum menentukan sikap, apakah akan ikut kompetisi atau tidak. Dalam jajak pendapat dengan PT. LIB, serta klub peserta Liga 1 lain beberapa waktu lalu, mereka memilih untuk abstain, atau tak memutuskan apa-apa.
Menurut Rocky, Persipura perlu kejelasan secara mendetail perihal teknis pertandingan, akomodasi, hak komersial, hingga pencegahan atau penanganan kesehatan. Kesemuanya hingga saat ini disebutnya belum diterima. “Kami berpikir, teman-teman di pulau Jawa tidak terlalu sulit baik dari sisi akomodasi, transportasi, finansial dan lain-lain. Ketika kami Tour, kami hitung berapa kali lipat kalau kami pilih Homebase di tempat mana yang kami pilih,” tandasnya.
Mengenai usulan Homebase di Yogyakarta, Rocky menganggap bahwa keputusan yang menerangkan bahwa seluruh kompetisi dipusatkan di pulau Jawa ambigu. Klub belum bisa memutuskan akan bermain di mana, dan memilih menunggu hingga ada kejelasan menyeluruh dari federasi dan operator. “Kami minta ada kepastian dulu, mengapa kita belum menentukan homebase. PSSI minta di Yogya, tapi persepsi pulau Jawa itu besar, ada Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” tandasnya.
“Ini yang mungkin pikiran PSSI semua ada di pulau Jawa, tapi tidak mungkin juga kami harus di situ. Bisa saja kami tidak di Yogja, karena ada pertimbangan-pertimbangan klub. Okelah PSSI bisa membantu diakomodasi tapi pertimbangan teknis lainnya?” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi mengatakan, bermarkas di Yogyakarta merupakan usulan semata. Klub bisa menentukan markasnya sendiri, jika tidak ingin di Yogyakarta. Alasan pemilihan di Yogyakarta, karena dianggap akan mengurangi biaya akomodasi. Pasalnya ada rekanan dari Ketum PSSI yang memiliki hotel dan bersedia memberikan secara cuma-cuma selama kompetisi bergulir di sana.
“Keinginan ketua umum dan Exco kenapa harus di Yogya? Karena ketua umum memiliki relasi pemilik hotel, pemilik akomodasi yang ada di sana. Bahkan ditawarkan Ketum, kalau ada klub yang mau di Yogya akomodasinya gratis, bahkan sekaligus dengan empat kali makan. Itu sebenarnya tawaran, tapi kalau misalkan kawan-kawan memiliki home yang di luar Yogya itu dipersilakan,” pungkasnya. (Ant)