Waspada, Jawa Tercatat Daerah Potensi Tinggi Bencana Gerakan Tanah
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Gerakan Tanah merupakan salah satu kondisi geologi yang berpotensi menyebabkan bencana, baik menyebabkan korban jiwa maupun hanya korban material.
Sehingga, diperlukan pantauan secara menyeluruh pada seluruh wilayah Indonesia serta menggunakan mitigasi dan adaptasi dalam mempersiapkan kesiapsiagaan dalam menghadapinya. Terutama untuk tiga daerah yang tercatat mengalami gerakan tanah paling tinggi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kabid Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Ir Agus Budianto menyatakan bahwa gerakan tanah umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba tapi ada faktor pengontrol dan pemicunya.
“Dari data ilmiah yang kami kumpulkan dari 2017 hingga Juni 2020, terlihat adanya pola yang teratur dan berulang dalam setiap kejadian gerakan tanah. Dimana, terlihat pola peak (puncak) pada bulan Oktober hingga Desember dan rendah di bulan lainnya. Walaupun, pada tahun 2020 ini, terlihat adanya gerakan tanah yang cukup tinggi sepanjang awal tahun hingga bulan Juni ini,” kata Agus saat Zoom Webinar, Selasa (30/6/2020).

Dan, Agus menyatakan, dari data juga menunjukkan bahwa daerah yang menunjukkan tingkat gerakan tanah paling tinggi sepanjang 2017-2019 adalah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Ini disebabkan oleh tingginya tingkat pemukiman pada tiga wilayah tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa adanya gerakan tanah, bisa disebabkan oleh adanya perubahan pada tata guna lahan,” ujarnya.
Misalnya, adanya perubahan lahan hutan yang menjadi perkebunan dan pemukiman atau adanya infrastruktur yang dibangun di atas batuan lunak maupun yang dibangun berbatasan antara lembah dengan sungai besar maupun sungai kecil.
“Dalam pembagian zona potensi risiko ini, kami membaginya menjadi dua zona. Yaitu zona menengah, yang ditampilkan dalam warna kuning untuk daerah yang mempunyai potensi adanya gerakan tanah jika curah hujan di atas normal terutama pada daerah yang berbatasan dengan sungai, lembah, gawir, tebing, jalan atau pada lereng yang mengalami gangguan,” urainya seraya menunjukkan peta prakiraan potensi gerakan tanah untuk bulan Juli 2020.
Dan zona tinggi, yang ditampilkan dengan warna merah, di mana gerakan tanah akan berpotensi terjadi jika terjadi curah hujan di atas normal dan gerakan tanah lama juga dapat aktif kembali.
“Dari pantauan, terlihat yang berpotensi adalah Jawa Barat bagian barat daya, Jawa Timur bagian selatan hingga barat, Jawa Tengah bagian tengah, seluruh wilayah Sulawesi terutama wilayah yang terdampak gempa Palu 2018 dan wilayah jalur jalan, Maluku, Papua, Aceh. Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Tengah bagian utara dan Kalimantan Utara bagian tengah,” paparnya.
Atas dasar ini, Agus mengimbau semua pihak untuk melakukan penguatan pemantauan lokal, termasuk masyarakat pada wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadinya bencana.
“Optimalisasi pemanfaatan informasi magma Indonesia untuk panduan kesiapsiagaan serta memanfaatkan teknologi komunikasi dan jaringan untuk peningkatan kewaspadaan melalui diskusi virtual untuk keputusan cepat,” pungkasnya.