Teknologi 3D Printing pada TCR Dinilai Mirip RDE BATAN
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Penggunaan teknologi 3D printing dalam TCR oleh ORNL, dinilai para ahli sebagai hal yang sudah dilakukan oleh BATAN pada proyek RDE. Karena inti dari pengembangan penelitian reaktor adalah untuk mempercepat durasi desain dan menekan biaya.
Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto menyatakan penggunaan 3D printing di bidang pembangunan reaktor nuklir merupakan salah satu revolusi di bidang PLTN.
“Karena dengan 3D printing maka pembangunan PLTN lebih cepat, artinya komponen penyusunnya bisa segera dibuat,” kata Djarot saat dihubungi, Selasa (9/6/2020).
Ia menjelaskan bahwa salah satu masalah pembangunan PLTN adalah supply komponen yang lambat karena perlu spesifikasi khusus, sehingga mahal dan perizinan memakan waktu.
“Dengan adanya teknologi ini maka pembuatan spare parts lebih mudah dilakukan. Meskipun untuk sampai tahapan ke teknologi 3D printing PLTN mikro yang bisa diimplementasi mungkin butuh waktu yang lama,” ujarnya.

Djarot menyebutkan 3D printing memungkinkan pembuatan sesuatu akan sama persis dengan aslinya. Hanya proses ini masih membutuhkan sertifikasi.
“Ketahanan hanya diuji sekali di bahan aslinya. Namun proses printing-nya perlu sertifikasi. Kalau di Indonesia, sertifikasi ini urusannya BAPETEN,” tandasnya.
Sementara Pakar Keselamatan Reaktor Nuklir BATAN Dr. Geni Rina Sunaryo, M.Sc menyatakan apa yang dilakukan oleh ORNL, sebagai pengembang teknologi 3D printing untuk reaktor tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh BATAN dengan RDE.
“Tapi mungkin dari segi SDM, Amerika lebih berpengalaman. Karena PLTN komersial kan mereka yang mendesain, yang sudah beroperasi selama 60 tahun ini,” kata Geni saat dihubungi terpisah.
Ia menyebutkan bahwa perkembangan dunia telah bergeser pada keinginan untuk membangun PLTN dengan skala power medium, 100-300 MWt.
“Dan tipe yang sudah siap benar untuk dibangun secara komersial adalah yang tipe berpendingin gas. China telah membangun prototipenya, tinggal menunggu kesiapan untuk ‘GO’ operasi dalam waktu dekat. Tipe PLTN berpendingin air untuk skala medium, belum ada yang siap dibangun, masih dalam skala desain. Kemudian, sekarang berjalan terus, keinginan pasar mengarah pada reaktor mini. Skala power ~50 MWt. Persis dengan apa yang Indonesia – Batan buat, dengan skala 10 MWt. Kalau di Indonesia, di proyeksikan untuk bisa membantu PLT Diesel. Yang skala power-nya sejajar,” papar Geni.
Apa yang dilakukan ORNL dengan TCR-nya, menurutnya, sama dengan yang dilakukan BATAN dengan RDE, yaitu sama-sama menekan biaya pembuatan reaktor.
“Hanya yang membedakannya adalah TCR ORNL ini didukung oleh pembiayaan yang luar biasa konsisten. Juga fasilitas pendukung desain mereka sangat canggih,” ujarnya.

Kesiapan BATAN untuk menjadi seperti ORNL, yang nota bene adalah organisasi yang sama, menurut Geni sangatlah memungkinkan.
“Apakah Batan tidak mampu? Mampu lah. Batan butuh seorang dreamer penerus – di pucuk pimpinan. Yang bisa meng-injeksi motivasi dan mimpi yang lebih nyata, berani mengambil risiko, konsisten serta pantang menyerah. Dan tentunya, yang paling utama adalah didukung pembiayaan. Sistem politik yang mudah sekali berganti baju, membuat program terkait PLTN di Indonesia, termasuk kegiatan desain PLTN anak bangsa, menjadi seperti permainan layangan. Kadang terpanteng, kemudian terulur, malah bisa putus. Miris, padahal, seluruh pembangunan fasilitas berteknologi tinggi, butuh rentang waktu yang panjang,” paparnya.
RDE, lanjutnya, telah berkiprah selama 4 tahun. Kekurangan tenaga ahli yang diperlukan tim, dipasok dari SDM BUMN yang sudah punya jam terbang tinggi terkait desain PLTU Batubara. Juga, beberapa manufaktur yang sudah mampu menghasilkan turbin ‘made in’ Indonesia, pompa, dan lain sebagainya.
“Mengapa harus demikian? Karena harus berfikir, garansi ketersediaan pasokan lokal yang lebih murah tanpa mengabaikan sisi keselamatan. Yang menjadi kunci utama adalah pembangunan PLTN,” tandasnya.
Seperti hal nya ORNL dengan TCR-nya, kegiatan RDE Batan juga memastikan bahwa yang dilakukan harus ada dampak sosial yang luas. Baik secara nasional, maupun internasional di komunitas nuklir. Tujuan akhirnya, harus dapat menekan biaya.
“Kegiatan kemitraan tiga arah, yang dilakukan antara Kairos Power, Barber-Nichols, dan Oak Ridge bercita mempercepat masa depan yang lebih bersih. Persis sama dengan RDE. Jadi, kalau desain PLTN anak bangsa terkait RDE dibandingkan dengan proyek TCR ORNL Amerika, itu sama saja dengan menukik balik ke dasar kembali,” pungkasnya.