Menteri Edhy: Negara Hadir untuk Sektor Perikanan dan Kelautan
Editor: Makmun Hidayat
MAMUJU — Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, mengawali kunjungan ke Sulawesi, untuk menyapa, berdialog, mendengar keluhan dan memberi motivasi yang di awali dialog dengan 554 kepala keluraga nelayan di Kepulauan Bala Balakang, Mamuju, Sulawesi Barat.
Dalam dialog tersebut Abdul Muin, nelayan setempat tertarik dengan kebijakan KKP terkait lobster, karenanya dia meminta fasilitas serta pelatihan budidaya komoditas tersebut. Selain itu, dia juga mengungkapkan kesulitan nelayan Kepulauan Bala Balakang atas minimnya sarana cold storage serta penyediaan bahan bakar.
“Selama ini hasil tangkapan tidak bisa bertahan lama dikarenakan kurangnya sarana es dan sarana SPBU mini untuk bahan bakar,” kata Muin, saat berdialog dengan Menteri Edhy di Kepulauan Bala Balakang, sesuai rilis diterima Cendana News, Selasa (9/6/2020).
Di hadapan nelayan Bala Balakang, Menteri Edhy menegaskan fasilitas cold storage menjadi program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahkan untuk tingkat Provinsi Sulawesi Barat sendiri belum memiliki fasilitas tersebut.
“Hasil laut sekarang sudah menjadi catatan KKP, cold storage harus dibangun. Jangankan di pulau ini, di provinsi Sulbar saja belum ada cold storage,” kata Menteri Edhy menjawab keluhan nelayan.
Dia menegaskan komitmennya untuk berbuat maksimal di sektor kelautan dan perikanan menyusul terus meningkatnya permintaan ikan dunia dan Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat di butuhkan.
“Sektor kita di dunia sangat dibutuhkan, dari data kami, dari tambak sampai perikanan tangkap sangat tinggi permintaannya sampai sekarang,” urainya.
Dalam kesempatan itu dia juga mendorong terkait lobster dan budidaya perikanan di Kepulauan Bala Balakang. Menteri Edhy meminta agar Gubernur Sulawesi Barat serta Bupati Mamuju bisa menugaskan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan setempat untuk menyusun program.
Menurutnya, pembangunan sektor ini harus dimulai dari usulan di bawah ketimbang dimulai dari atas.
“Lobster yang tadi diminta insyaallah tidak lama lagi. Komitmen kami adalah tidak ada pembangunan yang muncul dari atas, keinginan yang hakiki ada dari bawah. Ini yang kami lakukan. Tentang budidaya kami buka seluas-luasnya. Jangan ragu negara hadir di setiap saat,” tegasnya.
Menteri Edhy, lebih lanjut memastikan adanya fasilitas pembiayaan yang bisa dimanfaatkan oleh nelayan dan pembudidaya. Fasilitas tersebut di antaranya dana kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki bunga 6 persen serta dana Badan Layanan Umum (BLU),”Saya butuh peran kelompok-kelompok nelayan. Anda tidak sendirian,” tandasnya.
Berkunjung ke Sulawesi Barat, menjadi rangkaian pertamanya setelah dimulainya penerapan era new normal. Diakuinya kunjungan tersebut cukup spesial lantaran bertepatan dengan Hari Laut Sedunia. Pada momen tersebut, dia mengajak masyarakat untuk membebaskan laut dari sampah guna memperbaiki ekosistem pesisir dan laut.
Menteri Edhy menegaskan sampah laut, khususnya sampah plastik merupakan permasalahan yang mendesak saat ini dan perlu segera ditangani, karena sampah laut telah memberi dampak negatif pada sektor pariwisata, kerusakan lingkungan dan ekosistem laut serta kesehatan manusia.
Di sela-sela kunjungan kerjanya ke Kepulauan Bala Balakang, Mamuju, mengajak masyarakat untuk membebaskan laut dari sampah guna memperbaiki ekosistem pesisir dan laut.
Menteri Edhy menegaskan sampah laut, khususnya sampah plastik merupakan permasalahan yang mendesak saat ini dan perlu segera ditangani, karena sampah laut telah memberi dampak negatif pada sektor pariwisata, kerusakan lingkungan dan ekosistem laut serta kesehatan manusia.
“Kita harus melakukan inovasi untuk pengelolaan laut yang berkelanjutan dan mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga dan melindungi laut untuk kepentingan di masa depan,” ujar Menteri Edhy dalam sambutannya di Pulau Popoongan, Kepulauan Bala Balakang.