Pusaltluh KP: Olahan Udang Miliki Potensi Ekonomi yang Tinggi
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Pusaltluh KP) menyelenggarakan Festival Pelatihan Hakau atau Dimsum berbahan udang.
Hakau adalah salah satu jenis dimsum berisi udang yang dilapisi oleh kulit transparan. Sajian ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat pecinta kuliner dan menjadi pilihan utama jika mengunjungi restoran dimsum.
Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya mengungkapkan, Hakau menjadi potensi kuliner yang bisa memberi nilai ekonomi bagi masyarakat yang ingin membuka usaha di bidang olahan perikanan. Terlebih, saat ini banyak restoran yang belum dapat beroperasi akibat terbatasnya aktivitas ekonomi di tengah pandemi COVID-19.
“Hakau memliki prospek pasar yang menjanjikan. Jika dilihat dari penjualan kuliner di platform online saat ini, menjadi salah satu jenis kuliner yang memiliki rating, permintaan yang tinggi dari konsumen,” ucapnya.
Tak hanya itu, juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Pasalnya, udang yang menjadi bahan bakunya merupakan salah satu komoditi perikanan yang berlimpah, bahkan menjadi primadona produk ekspor Indonesia.
Sejalan dengan itu, Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengingatkan para peserta agar menciptakan produk hakau yang inovatif, baik dari segi rasa maupun kemasannya sehingga menarik bagi konsumen.
“Produk kita harus unik. Harus berbeda dari yang ada di pasar. Bisa tidak kita bikin rasa balado, cabe hijau, atau tomyum? Jadi, kalau orang makan hakau kita itu ada experience yang berbeda sehingga mereka ingin makan lagi,” terangnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar para peserta memperhatikan teknik pembuatan hakau yang dilakukan. Teknik yang benar menjadi penting untuk memastikan agar adonan yang dibuat tidak mudah patah, kenyal, dan enak saat dikonsumsi.
Sjarief menambahkan, sarana/prasarana dan material bahan baku hakau juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Ia menekankan bahwa kunci dari produk kuliner adalah material yang digunakan. “Udangnya harus segar. Jangan yang sudah mati tiga kali,” katanya.
Sjarief berharap agar pelatihan pembuatan hakau ini bisa menghasilkan produk andalan inovatif yang memiliki nilai tambah dan bermanfaat bagi ekonomi masyarakat yang terdampak di tengah pandemi COVID-19.
Salah seorang peserta asal Sulawesi Selatan, Rahayu menilai pelatihan ini menambah wawasannya untuk mendiversifikasi produk olahan perikanan.
“Selama ini saya hanya bisa mengolah ikan jadi baso dan siomay, sekarang saya dapat keterampilan tambahan untuk mengolah udang jadi hakau. Jadi, variasi produk jualan saya juga bisa bertambah dan memperluas pasar,” katanya.
Pelatihan gratis yang dilakukan secara online tersebut diikuti oleh 490 masyarakat dari 33 provinsi di Indonesia. Mereka pun datang dari berbagai latar belakang profesi seperti ibu rumah tangga, karyawan swasta, pelaku usaha kuliner, TNI/Polri, pengolah hasil perikanan, guru, dan pekerja LSM.