Pentingnya Pantauan Asupan Nutrisi Tubuh Guna Hindari Paparan Virus

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Product Specialist Prodia Siska Darmayanti saat Zoom Webinar, Sabtu (20/6/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Memasuki masa New Normal, bukan berarti semua kegiatan positif yang dilakukan saat masa pandemi harus hilang. Melainkan tetap dijaga, untuk mencegah terpaparnya tubuh dari virus. Selain itu, pemantauan asupan nutrisi juga harus diperhatikan sesuai dengan kebutuhan tubuh agar sistem imun tubuh tetap mampu bekerja optimal.

Product Specialist Prodia, Siska Darmayanti menjelaskan, sistem imun adalah suatu sistem dari struktur dan proses biologi yang terintegrasi dengan sistem psikologikal, yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi dan kondisi eksternal serta internal lainnya.

“Sementara imunitas adalah suatu skema terkait bagaimana sistem imun bisa melindungi tubuh kita,” kata Siska saat Zoom Webinar, Sabtu (20/6/2020).

Untuk menjaga sistem imun, Siska menyebutkan ada empat pilar yang harus diperhatikan, yaitu nutrisi, olahraga, manajemen stres dan tidur.

“Nutrisi ini akan berfungsi untuk membuat sel berfungsi optimal. Sehingga mampu mengobati difisiensi imun secara efektif,” ujarnya.

Intervensi nutrien spesifik dapat lebih meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dalam situasi sub-klinis.

“Dengan begitu, tubuh akan mampu mencegah terjadinya infeksi atau penyakit radang kronis,” tandasnya.

Spesialis Gizi Klinik Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, SpGK menyampaikan bahwa sangat penting untuk menjaga sistem imun tubuh ini, karena COVID 19 merupakan penyakit yang belum ada obatnya, belum ada vaksinnya dan mudah untuk menular.

“Satu-satunya cara pencegahan membutuhkan daya tahan tubuh atau sistem imun yang sangat tinggi,” kata Fiastuti pada acara yang sama.

Karena sistem imun ini terletak pada setiap organ tubuh, maka cara untuk menguatkannya adalah memastikan asupan nutrisi makro dan mikro secara cukup bagi tubuh.

“Caranya adalah makan sesuai kebutuhan dengan komposisi yang benar. Protein harus cukup tinggi, sumber vitamin dan mineral harus tercukupi, terutama dari buah dan sayur. Kebersihan makanan dan tubuh juga harus tetap dijaga,” urainya.

Pada masa New Normal, Fiastuti menyatakan akan ada beberapa jenis kondisi masyarakat, yaitu OTG/ODP, PDP, pasien positif, infeksi berat dan pasien kronis selain masyarakat yang sehat.

“Masing-masing kondisi ini membutuhkan asupan nutrisi yang berbeda,” tegasnya.

Misalnya, saat kondisi sehat tubuhyakan membutuhkan karbohidrat 55 persen, protein 15 persen dan lemak 30 persen dari seluruh total asupan makanan.

“Saat masa New Normal, ini disarankan untuk ditingkatkan. Diutamakan karbohidrat yang berasal dari kacang-kacangan dan protein bisa memenuhi setengah dari piring makan kita dan setengahnya lagi berasal dari buah dan sayur. Semakin berwarna akan semakin baik,” paparnya.

Protein, ungkapnya, bisa memilih ikan. Karena mengandung protein, vitamin D dan juga omega-3.

“Atau putih telur, itu juga sumber protein. Tahu, tempe dan jenis makanan yang berasal dari kacang-kacangan. Ayam juga bisa jadi sumber protein dan daging, tentunya yang tanpa lemak,” paparnya lebih lanjut.

Dan jangan lupakan juga kebutuhan vitamin, mineral dan nutrien spesifik, seperti omega-3 dan probiotik.

“Mikronutrien juga penting, untuk memastikan mencegah masuknya bakteri dan virus ke dalam tubuh. Dan pada masa New Normal, sesuai dengan anjuran para ahli maka ada perlu peningkatan jumlah,” ujarnya.

Contohnya, jika dalam keadaan normal AKG Vitamin C adalah sekitar 90 mg per hari, maka dalam masa sekarang ditingkatkan menjadi 200 mg per hari. Dan jika dalam kondisi sakit, ditingkatkan menjadi 1000-2000 mg per hari.

“Untuk Vitamin D, jika dalam keadaan normal AKG nya adalah 400-600 IU per hari, harus ditingkatkan menjadi 2.000 IU per hari. Memang belum banyak dilakukan penelitian tapi dari beberapa penelitian itu menunjukkan jumlah Vitamin D bisa menurunkan risiko terpaparnya tubuh oleh virus,” urainya.

Ia juga menekankan pentingnya paparan sinar matahari, karena kebutuhan Vitamin D sebesar 80 persen akan dipenuhi oleh sinar Matahari yang mengubah pro-Vitamin D menjadi pre-Vitamin D lalu menjadi Vitamin D.

“Kalau untuk ukuran Jakarta, itu dibutuhkan 3-4 kali dalam seminggu untuk terpapar sinar Matahari pukul 8-9 pagi dengan durasi waktu 15-20 menit,” ujarnya.

Fiastuti menyampaikan karena kebutuhan nutrisi seseorang itu bergantung pada genetika, maka perlu dilakukan pemeriksaan genetika terkait kebutuhan nutrisi.

“Pemeriksaan ini dikenal sebagai nutrigenomik, untuk memastikan kebutuhan nutrisi setiap individu. Karena tidak ada individu yang sama. Ada yang rentan untuk kekurangan vitamin, ada yang tidak mudah menyerap. Jadi, penting untuk mengenali apa yang dibutuhkan tubuh kita. Sehingga, kita bisa mengatur pola asupan nutrisi yang tepat sesuai kebutuhan tubuh kita,” pungkasnya.

Lihat juga...