Penerimaan Pajak Merosot, Aktivitas Ekonomi di Masa Pandemi Lemah
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) hari ini, Selasa (16/6/2020) kembali menyampaikan kinerja dan fakta APBN hingga Mei 2020. Yang cukup mencolok dalam laporan tersebut adalah realisasi penerimaan pajak yang merosot sangat dalam dibanding realisasi tahun sebelumnya year on year (YoY).
Dari total Rp664,3 triliun realisasi pendapatan negara (hingga Mei), perpajakan hanya mampu menyumbang Rp526,2 triliun. Angka itu mengalami kontraksi (penurunan) sekitar 7,9 persen dibanding penerimaan pajak tahun lalu (Mei 2019), yang mampu menyumbang Rp571,2 triliun terhadap pendapatan negara.
“Ini menggambarkan betapa pandemi Covid-19 telah melemahkan aktivitas ekonomi nasional. Hampir seluruh jenis pajak utama mengalami kontraksi pada Januari hingga Mei,” terang Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam jumpa pers APBN KitA.
Secara lebih rinci, jenis pajak utama seperti PPh Migas realisasinya hanya Rp17 triliun, terkontraksi sampai dengan 35,4 persen dibanding tahun lalu yang bisa mencapai Rp26,4 triliun. Begitu pula Pajak Nonmigas yang baru terealisasi Rp427,6 triliun, turun 9,4 persen dari tahun sebelumnya Rp472,2 triliun.
“Kegiatan produksi melambat akibat terbatasnya supply bahan baku impor dan pembatasan kegiatan produksi akibat Covid-19. Volume penjualan barang dan jasa pada berbagai sektor juga sangat tertekan akibat PSBB, menurunnya daya beli, serta perubahan pola spending-saving masyarakat dalam menghadapi pandemi,” jelas Menkeu.
Potret penerimaan pajak dari sisi sektor usaha tidak kalah mengkhawatirkan, di mana tidak satu pun penerimaan pajak sektor usaha yang mengalami apresiasi (tumbuh positif).
Sektor Industri Pengolahan realisasinya hanya Rp126,14 triliun, terkontraksi -6,8 persen. Sektor Perdagangan realisasinya Rp84,91 triliun, terkontraksi -12 persen.
Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi realisasinya Rp69,36 triliun, terkontraksi -1,6 persen. Sektor Konstruksi dan Real Estate realisasinya Rp27,63 triliun, terkontraksi -11 persen.
Sektor Pertambangan realisasinya 18,66 triliun, terkontraksi -34,9 persen. Kemudian Sektor Transportasi dan Pergudangan realisasinya 19,99 triliun, terkontraksi -6,4 persen.