Pemasaran Daring, Cara Bertahan Pedagang Oleh-oleh di Bandar Lampung
Redaktur: Muhsin Efri Yanto
LAMPUNG — Puluhan pedagang kuliner sebagai oleh oleh khas Lampung didominasi keripik ikut terdampak tak langsung Covid-19. Pemasaran dalam jaringan (online) jadi pilihan agar sejumlah produk kuliner tetap terjual.
Karisma, pemilik toko oleh oleh di Jalan Pagar Alam gang PU, Kedaton, Bandar Lampung menyebut kunjungan ke toko sepi sejak tiga bulan silam. Tutupnya sejumlah objek wisata berimbas kunjungan ke pusat oleh-oleh juga menurun. Sebagian toko memilih tutup untuk menghemat biaya operasional bagi karyawan.
Karisma memilih tetap buka karena toko yang juga sekaligus rumah baginya. Meski pembeli offline terbatas ia gencar melakukan pemasaran daring atau online untuk menjangkau pelanggan.
“Relasi dengan sejumlah kawan di luar daerah membuat pemasaran tetap berjalan dengan memanfaatkan media sosia dan platform jual beli, selama Covid-19,” terang Karisma saat ditemui Cendan News, Sabtu (27/6/2020).
Berbagai jenis kue oleh oleh meliputi keripik nangka, singkong, pisang dan jenis olahan lain disiapkan dalam jumlah terbatas. Sebab ia menghindari makanan kadaluarsa.
Pemilik toko Keripik Lampung di jalan yang sama, Yanti menyebut pembeli saat ini jauh berkurang. Sebelum Covid-19 penjualan keripik singkong dalam sehari bisa mencapai ratusan kemasan.
“Selama Covid-19 dan tutupnya sejumlah objek wisata ikut menurunkan jumlah kunjungan. Strategi untuk bertahan dengan gencar promosi dan menjualnya secara online,” paparnya.
Yanti menyebut memanfaatkan platform jual beli online untuk pemasaran produk. Jejaring sosial Facebook dan koneksi pertemanan melalui WhatsApp ikut menbantu menpertahankan omzet penjualan meski alami penurunan. Sebagai perbandingan saat akhir pekan ketika wisatawan mampir ia mendapat omzet hingga Rp10 juta perbulan. Saat jelang hari raya ia bahkan beromzet hingga Rp150juta.
“Saat ini meski penjualan berkurang dibanding sebelum Covid-19 namun masih lumayan dibandingkan toko lain yang memilih tutup,” terangnya.
Berbeda dengan pedagang lain, Imron yang berjualan oleh oleh bersama sang istri memilih mengurangi jumlah barang dagangan. Sebagian oleh oleh jenis keripik pisang, singkong, ubi jalar dijual oleh sang istri memanfaatkan sistem daring.
Penjualan oleh-oleh selama pandemi Covid-19 disebutnya mulai berkurang. Namun sebagian pedagang di kawasan gang PU berharap pandemi segera berakhir. Memasuki masa adaptasi kenormalan baru atau new normal sebagian toko mulai kembali buka. Lokasi yang strategis dilintasi kendaraan membuat sejumlah toko oleh oleh kembali beroperasi dengan kombinasi penjualan daring.